tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan akan melakukan penataan ulang Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor batubara. Langkah ini diambil menyusul anomali pasar, produksi batubara Indonesia terus meningkat tajam hingga menyuplai hampir 50 persen kebutuhan dunia. Namun, harganya justru mengalami penurunan signifikan di pasar global.
"Bahwa RKAB untuk batubara dan nikel itu memang kita lagi menata, kita melakukan penyesuaian," tuturnya saat konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).
"Kenapa kita menata? Karena memang ini kita hitung betul antara supply and demand [batubara]," lanjut Bahlil.
Ia mengingatkan, Indonesia merupakan pemasok utama batubara dunia dengan kontribusi terbilang tinggi. Meski demikian, harga batubara tetap ditentukan mekanisme pasar global.
Bahlil menyebutkan, dalam kondisi produksi tinggi, harga justru mengalami penurunan tajam. Situasi ini membuat pemerintah mengevaluasi volume produksi batubara agar negara tidak mengalami kerugian.
“Idealnya adalah batubara kita produksi banyak, volumenya besar, tapi harganya juga harus bagus, tapi apa yang terjadi, sekarang kita produksi banyak [batubara], tapi harganya kan lagi jatuh," tutur dia.
Bahlil mengingatkan, total batubara yang dijual se-dunia mencapai 1,3 miliar ton. Sementara itu, Indonesia disebut menyuplai 500-550 juta ton batubara dari total 1,3 miliar ton tersebut.
Dengan data itu, Indonesia menyuplai hampir 50 persen dari total batubara yang dijual se-dunia. Akan tetapi, harga batubara justru menurun.
"Apa yang terjadi? Harganya bukan kita yang mengendalikan, harganya di luar yang mengendalikan. Kita harus memaknai bahwa pengelolaan sumber daya alam kita, ini barang milik negara dan negara ini dikelola harus dengan hati-hati," urai Bahlil.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































