Menuju konten utama

Bahlil Jamin Harga Pertalite Tak Naik Meski Minyak Global Tinggi

Bahlil memastikan pemerintah akan tetap menahan harga BBM bersubsidi meski ada kekhawatiran kenaikan harga minyak mentah global.

Bahlil Jamin Harga Pertalite Tak Naik Meski Minyak Global Tinggi
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia di Gedung DPR RI, Jakarta, Jum’at (13/2/2026). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan tak akan ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi pada saat Lebaran 2026, meski harga minyak global berpotensi melonjak imbas konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

"Harga untuk BBM, untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa," tutur dia kepada awak media di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).

Meski demikian, Bahlil mengakui bahwa harga BBM non-subsidi telah mengalami kenaikan, terutama pada sejumlah produk yang dijual Pertamina. Namun, kondisi ini sepenuhnya terjadi karena mekanisme pasar.

"Tetapi kalau untuk harga BBM yang non-subsidi, itu memang mekanisme pasar, dan itu kan sesuai dengan permen tahun 2022 daripada ESDM," lanjut Bahlil.

Ketua Umum Partai Golkar itu juga menegaskan, pasokan BBM dan LPG menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026 sudah aman. Hal ini dia pastikan setelah berapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN).

"Kemarin kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional, dan di situ kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri, insya Allah semua aman, termasuk dengan LPG. Jadi enggak perlu ada keraguan, sekalipun memang ada terjadi dinamika global di Iran dan Israel," tegas dia.

Meski begitu, Bahlil mengakui sudah sejak lama daya tampung BBM RI hanya berada di kisaran 21-25 hari.

"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari. Itu kemampuan kita. Jadi standar nasionalnya minimal 20 sampai 21 hari, standar minimal," tuturnya.

Karena itu, kini Kementerian ESDM bersama DEN tengah mengupayakan agar kapasitas penyimpanan BBM Indonesia bisa lebih dari 25 hari.

"Bukan karena kita tidak bisa menyiapkan lebih dari 23 hari. Karena memang daya tampungnya nggak ada. Nah sekarang ini pemerintah dibawah arahan Bapak Presiden Prabowo, memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage, supaya ketahanan energi kita ada," jelas Bahlil.

Sementara itu, untuk membangun kapasitas penyimpanan BBM yang lebih besar, setidaknya butuh waktu hingga tiga bulan lamanya.

"Insya Allah rengkana sampai dengan tiga bulan. Inilah standar minimum konsensus daripada global," tutupnya.

Baca juga artikel terkait MINYAK MENTAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana