Misbar

Ave Maryam: Krisis Iman Biarawati dalam Pusaran Cinta Terlarang

Infografik Misbar Ave Maryam
Trailer Film Ave Maryam. youtube/Ave Maryam Movie
Oleh: Aulia Adam - 14 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Suster Maryam yang introvert, yang hidupnya sepi, mengalami turbulensi setelah ia bertemu Romo Yosef.
tirto.id - Pernah punya kawan introvert? Biasanya mereka ini jarang bicara, terkesan anti-sosial dan misterius. Atau, membosankan, jika ingin dirangkum jadi satu kata. Bukan tipikal kawan yang akan terlintas di kepalamu, ketika ingin nongkrong dan butuh situasi ramai.

Kata Susan Cain, dalam bukunya Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking, orang-orang introvert ini adalah minoritas yang terjebak di dunia dominan ekstrovert. Introvert mengumpulkan energi dari dirinya sendiri, sehingga akan mudah lelah jika terjebak di keramaian. Mereka bukannya pendiam, hanya lebih senang menghemat energi untuk bicara.

Suster Maryam (Maudy Koesnaedi), tokoh utama dalam Ave Maryam, bisa jadi adalah seorang introvert sejati. Bicaranya irit, bahkan ketika ia sedang sendirian. Maryam lebih senang merenung, membaca, dan memendam.

Ia mengabdi sebagai biarawati di sebuah biara di Semarang. Menjalani hidup sebagai pelayan Tuhan, memilih selibat dan menjauhi bau-bau duniawi, rasanya cocok dengan karakter introvert Maryam. Kesunyian dan suasana sepi jadi latar belakang yang pas. Pakaiannya sehari-hari adalah seragam. Tak ada warna, hanya abu-abu, dan putih. Jauh dari kesan menarik—yang sering kali didefinisikan oleh dunia dominan ekstrovert.


Sehari-hari, Maryam merawat biarawati lansia di sana. Di umurnya ke-39, hidup Maryam cenderung datar-datar saja. Ia memang membaca Madame Bovary dan buku dengan sampul menantang sebelum tidur, tapi pergolakan batinnya tak pernah benar-benar menggelora. Setidaknya, selalu berhasil ia pendam.

Mungkin—seperti manusia pada umumnya—sesekali ia penasaran tentang bagaimana rasanya masturbasi dan bermimpi tentang gelombang nafsu itu, tetapi keyakinannya pada Tuhan dan kewajibannya untuk taat selalu menang. Setidaknya, sampai Romo Yosef (Chicco Jerikho) datang pada suatu malam basah karena hujan deras.

Rambut pendeta itu gondrong, mukanya ditutupi brewok, tapi tetap tak berhasil menyembunyikan senyum ramah dan hangat. Pakaiannya mungkin sama hitam seperti semua Romo yang pernah dilihat Maryam, tapi keputusan Romo Yosef menggulung lengan kemejanya sampai siku pasti sukar dilewatkan mata.

Maryam jadi orang yang mengantarkan Romo muda itu ke ruang ganti pakaian. Kamera memang tak menyorot intim ekspresi Maryam, sehingga kita tak tahu apa yang sebetulnya dia rasakan. Namun, mustahil menampik pesona Romo Yosef, yang mendadak jadi kontras dalam kesunyian hidup Maryam, setelah ia berganti baju jadi kemeja putih.

Ketika Lidah Terbelenggu, tapi Pikiran Ingin Bicara

Film ini memang minim dialog, persis seperti karakter utamanya yang pendiam. Ia nyaris sepenuhnya bicara cuma lewat visual. Sehingga kita, sebagai penonton, akan lebih banyak menerka-nerka arti dari dialog dan pilihan visual yang disajikan Ertanto Robby Soediskam, sang sutradara.

Pilihan itu ibarat simalakama. Harus diakui, tak banyak film Indonesia yang betul-betul sepi dan senyap seperti Ave Maryam. Karakter biarawati pendiam juga bukan pilihan umum jika kita melihat film-film Indonesia yang keluar pasca-Orde Baru. Bisa jadi, penonton akan sangat susah untuk merasa relate dengan cerita Maryam. Sehingga rasa simpati kita tak gampang jatuh. Karakter introvert pun memang cenderung susah mengundang simpati, apalagi jika ia adalah seorang perempuan.

Tapi, apakah itu artinya Ave Maryam adalah film yang jelek? Belum tentu. Ertanto, menurut saya, berhasil menghadirkan tokoh utama yang kuat. Maryam yang pendiam tentu saja dirakit bukan tanpa alasan. Kesunyian itu memang sengaja dibikin ekstrem, agar kita cepat sadar dengan kehadiran Romo Yosef, yang terobsesi pada musik—sebuah kontras di hidup Maryam yang sepi.

Maryam yang pendiam juga sangat tepat menggambarkan kehidupan sunyi di biara, yang memang lebih dekat pada kontemplasi ketimbang aksi. Namun, bukan berarti kita kekurangan informasi dari pilihan gambar-gambar estetik yang ditampilkan Ertanto.

Dalam adegan kencan mereka di sebuah restoran, keduanya tersenyum malu-malu karena pikiran mereka seolah-olah diungkapkan lewat dialog film klasik yang tengah diputar di sana. Ertanto tegas ingin menggambarkan pergulatan kedua tokoh utama ini dalam menggambarkan situasi: lidah terbelenggu, tapi pikiran ingin bicara.



Pada awal film, kita juga bisa merasakan pergulatan batin Maryam lewat adegan mimpinya. Di sana, ia membuka jendela yang langsung menghadap gelombang ombak laut.

Laut—tempat “Leviathan dan monster-monster laut lainnya berasal”—sering kali menjadi metafora untuk gelora nafsu. Dari tempatnya berdiri, di balik jendela, Maryam berusaha tenang menghadap deruan gelombang laut.

Perjalanannya pulang dari pantai setelah kencan dengan Romo Yosef juga kuat bukan main. Di dalam mobil gelap yang diguyur hujan itu, ia menangis sesenggukan, meratapi dosa. Goncangan itu memang tak mudah dipahami orang-orang biasa, mereka yang tak pernah berikrar selibat, dan yang tak terlalu akrab dengan agama.

Sayang, rasa bersalah Maryam mungkin bisa hadir lebih kuat dan menggetarkan kalau ada adegan bercinta dengan Romo Yosef di pantai. Atau apabila adegan-adegan yang menjelaskan latar belakang Maryam sebagai anak dari keluarga Muslim tidak dibuang. Bisa jadi, 12 menit yang dipotong itu adalah susunan gambar yang dibutuhkan para penonton untuk lebih simpati pada Maryam dan kisah cintanya.

Namun, meski tanpa 12 menit yang digunting itu, saya harus bilang kalau Ertanto adalah sutradara yang rapi membangun cerita. Semua detail yang disisipkannya sulit terlewatkan begitu saja. Misalnya, ketika Maryam berkata “Alhamdulillah”, Romo Yosef yang menurunkan gulungan lengan kemejanya setelah kencan pertama mereka di pantai, dialog “Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Tuhan yang tentangnya hanya kita temukan dalam pertanyaan?” oleh Romo Yosef ketika mengonfrontasi Suster Monic (Tutie Kirana).

Tahap-tahap Maryam jatuh hati kepada Yosef disusun Ertanto dengan rapi. Pergolakan itu hadir tidak tiba-tiba dan sekonyong-konyong. Penuh penolakan dan tarik ulur, sehingga membuat pilihan Maryam di ujung cerita juga jadi kejutan pedih.

Pada akhirnya, kita tahu bahwa kisah cinta dalam Ave Maryam tak seperti kisah cinta Bunda Maria dan Santo Yusuf. Ini adalah kisah Maryam menemukan cinta sejatinya kepada Tuhan yang ia yakini. Buat orang yang tak pernah menjalani selibat atau tak pernah mempertanyakan keyakinannya, wajar jika pilihan ini sukar dimengerti.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight