tirto.id - Pacu Jalur menjadi tren yang viral saat ini di media sosial. Meskipun video yang beredar menampilkan penari "aura farming" asal Indonesia, namun beberapa netizen mengklaim jika tarian pacu jalur adalah berasal dari Malaysia. Bagaimana asal-usul pacu jalur yang sebenarnya?
Tren pacu jalur ini mulai viral ketika para pemain di klub bola Paris Saint Germain (PSG) melakukan selebrasi dengan gerakan yang mirip dengan gerakan penari pacu jalur. Tak hanya pemain PSG, maskot AC Milan juga memperlihatkan gerakan tari pacu jalur mengikuti Rayyan Arkan Dikha, bocah penari pacu jalur.
Tarian pacu jalur atau aura farming juga terlihat terbawa di landasan pacu Formula 1 (F1). Tentu menjadi kebanggaan sendiri bagi Indonesia karena salah satu budayanya dikenal dunia.
Hanya saja, belakangan beredar rumor jika negara tetangga, Malaysia mencoba untuk mengklaim jika pacu jalur merupakan budaya asli milik negara mereka.
Asal-usul Pacu Jalur, Berasal dari Mana?
Dikutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, Pacu Jalur adalah lomba balap perahu tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, Indonesia. Pacu Jalur yang artinya, “pacu” berarti balapan, dan “jalur” adalah perahu kayu panjang.
Perahu yang digunakan dalam lomba pacu jalur panjangnya sekitar 25 hingga 40 meter. Sebagai pengayuh adalah 40 sampai 60 orang pendayung. Uniknya, dari sekian orang yang berada di atas perahu, selain pendayung juga ada penabuh gendang dan pemberi komando.
Karena prinsip dasar dari lomba ini bukan hanya soal siapa yang paling cepat sampai garis finish, melainkan juga mengandalkan kekompakan dan juga semangat berjuang bersama yang ditandai dengan iringan lagu dan teriakan.
Sejarah Pacu Jalur berawal sekitar abad ke-17. Saat itu jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, daerah di sepanjang Sungai Kuantan. Jalur digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu. Jalur juga dipakai untuk mengangkut sekitar 40-60 orang.
Sampai akhirnya, jalur berkembang menjadi alat transportasi para bangsawan. Yang membuat jalur tidak hanya sekedar alat transportasi, melainkan menjadi kendaraan yang diukir dengan ukiran kepala ular, buaya, atau harimau yang menaikkan nilai jalur.
Setelah zaman semakin berkembang, pacu jalur tidak lagi digunakan untuk alat transportasi, namun berubah menjadi pertunjukan budaya. Lomba pacu jalur diselenggarakan hampir setiap tahunnya di Kuantan Singingi. Pemerintah Provinsi Riau mendukung perlombaan ini untuk menarik wisatawan.
Di zaman penjajahan Belanda, tradisi ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Belanda yakni di tanggal 31 Agustus setiap tahunnya. Dan kini ketika Indonesia merdeka, pacu jalur digelar untuk memperingati kemerdekaan RI di bulan Agustus juga.
Indonesia Sudah Daftarkan Pacu Jalur ke UNESCO?
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat menyebut jika Pemerintah Indonesia telah mendaftarkan Pacu Jalur menjadi salah satu warisan budaya tak benda asal Indonesia. Ia berharap UNESCO segera melakukan verifikasi sehingga tidak ada lagi yang meragukan keaslian budaya Indonesia ini.
"Kementerian Kebudayaan telah mengakui Pacu Jalur sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Mudah-mudahan dengan adanya isu ini, UNESCO bisa segera melakukan verifikasi terhadap pengajuan tradisi Pacu Jalur dari Kabupaten Kuansing," tegasnya dikutip laman Riau Online.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































