tirto.id - Gejala Post Sex Blues sudah menjadi perhatian sejak 150 SM. Pada saat itu dokter Yunani bernama Galen pernah menuliskan bahwa "Setiap hewan sedih setelah coitus kecuali perempuan dan ayam."
Dalam perkembagannya gejala after sex ini terus dikembangkan. Pada 2011 lalu para peneliti melakukan survei di kalangan mahasiswi Inggris. Dalam survei itu terungkap 46% perempuan mengalami Post Sex Blues.
Para penderita penyakit ini mengaku marah atau sedih tanpa terjelaskan setelah berhubungan intim dalam waktu berkelanjutan. Dalam beberapa kasus, bahkan, mereka sampai menangis atau berbuat destruktif setelah setelah orgasme.
Untuk diketahui, Post Sex Blues dapat terjadi pada pria dan wanita. Kendati demikian, Post Sex blues tidak
tidak mempengaruhi intercourse atau hubungan persenggamaan.
Hingga kini penyakit ini belum ditemukan obatnya. Antidepresan yang diberikan ke penderita sama sekali bukan dimaksudkan untuk penyembuhan tetapi hanya berfungsi sebagai pengendalian. Hal ini pun belum tentu bisa diterapkan kepada pasien lain yang memiliki latar belakang berbeda, misalnya penderita post sex blues yang memiliki riwayat kekerasan seksual di masa lalu. Meskipun sampai saat ini pun keterkaitan antara post sex blues dengan kekerasan seksual masih didalami para peneliti.
Masuk tirto.id



























