Anomali Pewarisan Tahta di Arab Saudi

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 23 Juni 2017
Dibaca Normal 2 menit
Keputusan mengangkat Mohammed bin Salman menjadi pewaris tahta sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh Raja Salman.
tirto.id - Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al Saud, membuat keputusan mengejutkan. Kemarin (23/6) ia menunjuk puteranya yang berusia 31 tahun, Mohammed bin Salman, sebagai putera mahkota.

Keputusan Raja Salman ini membuat Pangeran Mohammed bin Salman akan menjadi raja jika Raja Salman lengser atau wafat. Dengan menjabat status sebagai putera mahkota, otomatis Pangeran Mohamed bin Salman naik jabatan menjadi Wakil Perdana Menteri sekaligus melanjutkan jabatan semula sebagai Menteri Pertahanan.

Pengangkatan Mohamed bin Salman otomatis mengorbankan sepupu Raja Salman, yakni Pangeran Mohammed bin Nayef, 57 tahun, yang dicopot sebagai pewaris takhta. Ironis bagi Nayef, selain terpaksa melepas posisi Wakil Perdana Menteri, ia pun dicopot dari perannya sebagai kepala keamanan dalam negeri.

Meski menganut sistem kerajaan, pergiliran kekuasaan di Arab Saudi cukup unik. Kekuasaan tidak diturunkan secara vertikal sesuai garis darah dari ayah ke anak melalui urutan permaisuri dan selir. Pangeran pewaris tidak ditentukan dari "tingkatan" istri yang dinikahi raja.

Sepanjang Saudi berdiri pewarisan dari ayah ke anak hanya terjadi di masa Raja Abdulaziz al-Saud kepada putranya, Saud bin Abdulaziz, yang terjadi pada dekade 50an. Selepas itu pergantian raja selalu berganti dari anak Abdulaziz yang satu ke anak yang lain.

Namun semenjak Raja Salman diangkat, semua berubah total. Puncaknya ia mengangkat anaknya sendiri menjadi putera mahkota - suatu hal "tabu" yang hanya pernah dilakukan Raja Abdulaziz, sang pendiri Kerajaan Saudi.

Raja Salman saat ini sudah berusia 81 tahun. Ia semakin uzur dan terlihat sering sakit-sakitan akibat menderita demensia. Di sisi lain, sang penerus Mohammed bin Salman masih berusia amat muda. Jika kesehatan Raja Salman semakin memburuk, tak menutup kemungkinan pada usia yang masih 30-an Mohammed bin Salman bisa menjadi Raja Arab Saudi terlama yang menjabat lebih dari setengah abad.

Raja-raja Arab Saudi biasanya mulai memerintah di usia 70an atau 80an. Untuk memuluskan jalan Mohammed bin Salman ini, Raja Salman sudah menyiapkan langkah jauh-jauh hari. Hal pertama yang dilakukannya saat sudah menjadi raja adalah dengan menyingkirkan saudara kandungnya, Muqrin bin Abdulaziz.

Pada 29 April 2015, tiga bulan setelah dilantik, Raja Salman memecat Muqrin dari posisi putra mahkota. Pengangkatan Muqrin sebetulnya dilakukan oleh Raja Abdullah, pendahulu Raja Salman. Saat Raja Abdullah masih berkuasa, ia mengangkat Muqrin sebagai wakil putra mahkota. Saat Salman naik tahta, maka Muqrin pun jadi putra mahkota. Namun Salman sepertinya menolak Muqrin dan anak-anak Abdulaziz lainnya.

Ketimbang menjadikan salah satu dari 13 anak laki-laki Abdul Aziz yang masih masih hidup sebagai putera mahkota, Raja Salman lebih memilih Mohammed bin Nayef sebagai pewaris baru tahta kerajaan. Sosok ini adalah putera Nayef bin Abdulaziz. Dengan menjadikan Mohammed bin Nayef sebgai putera mahkota, Raja Salman ingin memberikan penghargaan kepada saudaranya yang telah meninggal duluan. Nayef bin Abdulaziz dulunya diplot menggantikan Raja Abdullah, namun karena meninggal sebelum Raja Abdullah mangkat, alhasil tahta pun diberikan pada Raja Salman.

Di lain sisi muncul desas-desus Muqrin dianggap terlalu kritis terhadap kebijakan Raja Salman, khususnya kebijakannya berperang di Yaman. Ini menjadi dalih pencopotannya.

Lalu bagaimana dengan Mohammed bin Nayef? Kenapa dia pun dilengserkan Raja Salman dari status sebagai putera mahkota?

Bruce Riedel, analis Timur Tengah yang juga mantan analis CIA dan NSC, menyebut sejak dilantik jadi putra mahkota, Nayef memang tidak diberi peran lebih dibandingkan Mohammed bin Salman. Bruce sudah bisa mengendus situasi tersebut sejak Februari 2016 lalu. Ia menyebut Nayef sebagai "pangeran yang lenyap" karena jarang muncul di depan publik.

"Nayef lebih banyak tinggal di Saudi, dia hanya terlihat muncul berkunjung ke Camp David. Sebagai gantinya, Mohammed bin Salman yang mengunjungi Rusia, Prancis, Mesir, Yordania, Amerika Serikat, dan yang terakhir mengunjungi markas besar NATO di Brussels. Putra kesayangan raja berusia 30 tahun itu jugalah yang banyak membuat kesepakatan antara Kerajaan dengan negara lain, termasuk menghadapi perang di Yaman," tulis Bridel dalam kolomnya di brookings.edu.

New York Times dalam artikel berjudul "Rise of Saudi Prince Shatters Decades of Royal Tradition" yang terbit pada 15 Oktober 2016 menyebut sepanjang 2016 Nayef lebih banyak mengasingkan diri di Al Jazair dan sulit untuk dikontak.

"Dia tinggal selama berminggu-minggu, dan sering menolak untuk menanggapi pesan dari pejabat Saudi dan rekan dekat di Washington. Bahkan John O. Brennan, Direktur CIA, yang telah dikenalnya selama beberapa dekade, mengalami kesulitan untuk menghubunginya."

"Namun ketidakhadirannya yang panjang pada saat harga minyak yang rendah, gejolak di Timur Tengah dan sebuah perang yang dipimpin oleh Saudi di Yaman menyebabkan beberapa pejabat Amerika menyimpulkan bahwa pangeran mahkota tersebut melarikan diri dari friksi dengan sepupunya yang lebih muda. Sang pangeran khawatir kepadanya. Kesempatan untuk naik takhta itu kini dalam bahaya," lanjut New York Times.

Kekecewaan terbesar Nayef adalah tindakan Raja Salman yang mengizinkan Mohammed bin Salman membentuk aliansi militer negara-negara Islam untuk memerangi terorisme yang bertajuk Operasi North Thunder tanpa mengikutsertakan Nayef. Padahal kontra terorisme adalah keahlian Nayef.

"Ada perbedaan mencolok. Pangeran bin Nayef sebagian besar bertahan dalam bayang-bayang, sedangkan Pangeran Salman telah bekerja untuk tetap menjadi sorotan, berkeliling kota-kota dunia, berbicara dengan wartawan asing, difoto dengan Mark Zuckerberg dan mempresentasikan dirinya sebagai wajah seorang Arab Saudi baru."

Kata Briedel, upaya penggerogotan karier Nayef ini sudah dilakukan sejak lama. Agresifitas Mohammed bin Salman untuk mengikis kekuatan Nayef di lingkungan militer jadi alasan kenapa dia memilih posisi sebagai Menteri Pertahanan. Perang Yaman membuat nama Mohammed bin Salman ini kian populer.

"Jika Mohammed bin Nayef ingin dipandang sebagai pendukung besar perang Yaman, dia bisa melakukannya satu setengah tahun yang lalu, " kata Riedel kepada New York Times.


Baca juga artikel terkait PANGERAN ARAB SAUDI atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Zen RS