Anak Punk Hijrah: 'Sedikit-Sedikit Bidah itu Bahaya'

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 8 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Ketika ideologi punk dioplos dengan Islam. Tetap kritis kepada pemerintah tapi tak partisan. Apa jadinya?
tirto.id - Septa Maulana susah menghitung berapa jumlah tato di tubuhnya. Sejak berusia 15 tahun, tatonya terus bertambah di dada, punggung, lengan hingga kaki. Ia juga pernah menindik puting, alis, bibir bawah, telinga, dan pangkal hidung atas.

“Dulu pengin dibilang keren saja. Jarum itu nagih, sakitnya enak kayak refleksi,” kata Septa, kini berumur 27 tahun, kepada saya di Cafe Kopi Tasawuf, Ciputat.

Di bagian perut dan dada, ada foto dan nama kedua anaknya yang telah meninggal. Tato terakhirnya adalah gambar rumah yang terbang diangkut balon, mencontoh UP, film animasi seorang kakek yang bertualang bersama bocah sepeninggal istrinya. Gambaran itu menanam impian Septa: kehidupan yang damai bersama keluarga.

Beberapa tato lain sama sekali tak dipahaminya. Itu adalah kreasi seniman tato yang membuat contoh gambar ke tubuhnya demi menarik konsumen yang lain. Istilahnya: barang contoh alias barcon.

Pada 2008, Septa kabur dari rumah, putus sekolah sampai kelas 7 madrasah tsanawiyah, bosan melihat orangtuanya terus-menerus bertengkar.

“Saya tidur di pasar. Diajakin nongkrong di Mal Cimanggis, Depok. Diajak mabuk,” katanya mengisahkan awal pertemuannya dengan sekelompok anak punk.

Perlahan penampilannya berubah. Celana hitam ketat. Jaket penuh emblem. Hidupnya nomaden, dari satu komunitas punk ke komunitas lain, dari Lampung di pulau Sumatera hingga ke Ponorogo di Jawa Timur.

Rutinitasnya adalah mengamen, menonton gigs, mabuk, menjajal narkoba, sampai tawuran. Akibatnya, “Saya sering ditangkap Satpol PP. Didata, terus dilepas lagi."


Menjelang akhir 2018, rekannya mengunggah foto beberapa anak punk belajar mengaji di bawah jembatan layang di Tebet, Jakarta Selatan. Mereka terlibat dalam Komunitas Tasawuf Underground, yang didirikan Halim Ambiya, seorang dosen tarbiyah UIN Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.

“Sudah banyak yang datang ngedakwahin tapi terus pergi. Kalau ustaz [Ambiya] beda, disiplin datang," ujarnya, menyebut pengasuh Pondok Pesantren Gading Kroya di Cilacap itu.

Awal berhijrah, Septa belum bisa menanggalkan kebiasaan mengonsumsi narkoba. Ambiya lalu menyewa beberapa kamar hotel, mengajak beberapa anak punk menjalani rehabilitasi.

Tasawuf Underground
Anak punk saat mengaji bersama komunitas Tasawuf Underground di kolong jembatan depan Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. tirto.id/Andrey Gromico


Septa merasa menemukan jati diri yang tak ditemukan di jalanan selama ini. Beberapa rekannya, yang tidak hijrah, kerap merisaknya. Saat menonton gigs, ia kerap kucing-kucingan dengan temannya, menolak ajakan minum dengan alasan sakit. Ia merasa ia tak menjauhi kawan jalanannya. Hanya saja, “Iman saya belum kuat, jadi sementara jangan mendekati dulu.”

Pengalaman lain adalah Triana Anugrah Permana, yang baru dua bulan bergabung dengan Komunitas Tasawuf Underground. Meski begitu, ia sudah bersemangat mengajak rekan-rekannya ikut mengaji.

Satu kali, ada rombongan anak punk dari Lampung bertandang ke daerahnya. Ia dan rekan-rekannya mengajak mereka berzikir dengan bujukan "ada acara gigs di Tebet".

Alhasil, para pemuda dengan dandanan rambut mohawk itu pun tidak tahu sebenarnya acara zikir, cerita Triana. Tapi, demi persaudaraan anak punk, para tamu itu menghargai niat tuan rumah, tambahnya.

Usai hijrah, Triana merasa mendapatkan perhatian dari keluarganya. Rutinitasnya kini bukan mengamen dan tawuran.

“Dulu keluarga yang lihat gue bukan sebelah mata ... tapi tutup mata. Nilai agama gue bukan merah lagi, udah item," kata Triana, kini berumur 30 tahun.


Tasawuf Underground
Halim Ambiya, pendiri Tasawuf Underground, berkata anak punk tak perlu diajarkan soal kemanusiaan, kitalah yang emoh memanusiawikan mereka. tirto.id/Andrey Gromico

'Islam Kita Terlalu Melangit'

Komunitas Tasawuf Underground itu bermula saat Ustaz Halim Ambiya menyusuri perempatan jalan raya, terminal, dan pasar pada medio 2012. Ia mencoba mendekati anak punk jalanan untuk berbincang sembari merokok dan ngopi. Setelah beberapa pertemuan, ia menawarkan hijrah atau yang disebutnya “peta jalan pulang”.

“Mereka terlalu melilit mata. Kita kadang nutup kaca mobil melihat mereka. Agama kita jadi terlalu melangit, tidak membumi. Zikir kita hanya melangit, tidak dihunjamkan ke bumi,” ujar Ambiya.

Lulusan pascasarjana sejarah peradaban Islam di ISTAC Kuala Lumpur ini juga merasakan ada yang keliru dengan konsep masjid. Menurutnya, anak-anak punk dulunya kerap diusir dari masjid. Baginya menjadi punk bukanlah tindak kriminal. Maka, masjid seharusnya menjadi rumah atau tempat berteduh bagi mereka, ujar Ambiya.

Menurut Ambiya, kesadaran kemanusiaan di komunitas punk itu tinggi. Anak-anak punk ini, misalnya, mengumpulkan uang receh dari hasil mengamen buat disumbangkan ke anak yatim. Teladan lain adalah komunalisme mereka saat makan bersama serta membantu teman yang dirundung kesusahan.

“Saya tidak ajarkan soal sedekah kayak Yusuf Mansur," ujar Ambiya menyebut salah satu ustaz yang populer di mata media. "Enggak usah ajarkan anak punk kemanusiaan, cuma kadang mereka tidak dimanusiakan."


Tasawuf Underground
Seorang relawan berbincang dengan anak punk dari Komunitas Tasawuf Underground. tirto.id/Andrey Gromico


Ambiya menyelami permasalahan masing-masing muridnya. Ia menjadi teman sekaligus ayah ideologis. Perlahan ia pun mengajarkan cara wudu, salat, mengaji, fikih, tasawuf, makna salat dan zikir, hingga cara mengkafani dan menyalati jenazah.

“Kami biasa ngopi satu gelas untuk 15 orang,” katanya, tertawa.

Anak punk yang akrab dengan musik-musik Marjinal, Bunga Hitam, hingga Begundal Lowokwaru, di bawah bimbingannya, kini bergeser ke musik salawatan seperti Tombo Ati dari Opick maupun lagu Nissa Sabyan.

Hampir tiap mengajar di kolong jembatan layang Tebet, Ambiya kerap memakai setelan sorban khas Afganistan, celana cingkrang, dan baju gamis. Tapi, ia juga datang sembari merokok. Menurutnya, itu hanya bagian dari satire.

Kini, anak didiknya berjumlah 95 orang, tersebar di Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Demi menggelar acara atau memenuhi kebutuhan, ia kerap dibantu rekannya yang menyumbangkan donasi; kebanyakan makanan, sarung, hingga moda transportasi.


Infografik HL Indepth Punk Hijrah
Infografik Punker hijrah. tirto.id/Lugas

'Sedikit-Sedikit Bidah itu Bahaya'

Ambiya berupaya menjauhkan murid-muridnya dari paham ekstremisme. Tak ingin intoleransi tumbuh subur.

“Punk secara ideologis radikal, anti-kemapanan, mengkritisi pemerintah itu why not. Tapi, menjadi radikal yang terlalu itu membahayakan. Dikit-dikit bidah itu bahaya,” alasan Ambiya.

Ia memang tidak mengharuskan atau melarang anak didiknya menghapus tato. Namun, ia juga kecewa terhadap beberapa komunitas yang memiliki alat penghapus tato tapi memberi syarat, misalnya harus menghapal Surat Ar-Rahman ("Yang Maha Pemurah").

Semestinya, ujar Ambiya, syarat itu tak perlu ada karena keputusan hijrah bukan hal mudah bagi anak punk.

“Sudahlah," ujarnya pasrah, "tato tidak membatalkan salat dan wudu."


Tasawuf Underground
Seorang anak punk mengaku kepada kami bahwa ia menemukan jati diri setelah mengaji bersama Ustaz Halim Ambiya. tirto.id/Andrey Gromico


Komunitas yang didirikan Ambiya juga mengurus KTP, yang kebanyakan tidak dimiliki anak punk. Ia juga aktif mengadvokasi anak punk yang kena garuk Satpol PP. Ia membuka Cafe Kopi Tasawuf untuk dikelola anak punk.

Ke depan, Ambiya ingin membentuk klub menyucikan jenazah. Tujuannya, demi “menyambut kematian dengan damai" sehingga "mereka akan punya konsep kesadaran hidup,” alasan Ambiya.

==========

Koreksi:

Halim Ambiya keberatan atas bagian tulisan yang menyebut ada beberapa organisasi yang memberikan bantuan kepada Tasawuf Underground. Ambiya membantah beberapa organisasi itu pernah memberikan donasi.

Rizki Agung dari Punkajian; Aditya Abdurrahman dari Punk Muslim: keberatan atas bagian tulisan yang menyebut komunitas mereka terlibat dalam politik praktis mendukung salah satu capres dan mobilisasi massa aksi reuni 212. Kalaupun ada dukungan, sifatnya dari personal; bukan mewakili komunitas.

Kami menghapus bagian tulisan yang jadi keberatan mereka atas permintaan mereka.

Baca juga artikel terkait HIJRAH atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight