tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan terus meluas. Kali ini api membakar paling tidak 30 hektare lahan di Kebun Raya Sriwijaya.
Kebun ini merupakan konservasi alam, pusat penelitian, rehabulitasi, dan penyelamatan keanekaragaman hayati flora khas ekosistem lahan basah dan dan hutan gambut serta daerah aliran sungai. Kebun ini memiliki luas 100 hektare yang berada di Desa Bakung, Indralaya Utara, Ogan Ilir.
Kebun Raya Sriwijaya diklaim sebagai kebun raya lahan basah gambut pertama di Asia Tenggara. Peresmian dilakukan Gubernur Sumsel Alex Noerdin pada 27 Juli 2018.
Karhutla di Kebun Raya Sriwijaya diketahui sejak Jumat (4/9/2026). Tim Manggala Agni langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.

Pada hari pertama pemadaman, satu regu Manggala Agni dari Daops Banyuasin dan bantuan tim dari Sarolangun Jambi diterjunkan. Helikopter water bombing juga dikerahkan guna percepatan pemadaman.
Namun operasi pemadaman di hari pertama belum berhasil. Manggala Agni kembali menambah regu pemadam di hari kedua, yakni 2 regu dari Daops Banyuasin, serta Sarolangun Jambi dan Lahat masing-masing 1 regu.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan pemadaman api di Kebun Raya Sriwijaya sulit dilakukan karena api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan tetapi juga menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah sedalam satu meter. Api sulit dituntaskan meski bagian atas sudah padam karena masih berada di gambut bagian dalam.
"Gambut dalam dan bahan bakaran melimpah menjadi kendala. Kalau air masih cukup, namun butuh waktu karena ini gambut, harus benar-benar aman dan tuntas," ungkap Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto, Sabtu (5/9/2026).

Berdasarkan perhitungan sementara melalui drone, karhutla di hari pertama di Kebun Raya Sriwijaya seluas 30 hektare. Areal yang terbakar terus bertambah karena api belum padam hingga saat ini.
"Rilis luasan Kebun Raya Sriwijaya yang terbakar 30-an hektare. Untuk pemadaman perhitungan kawan-kawan, bisa beberapa hari selesainya," kata Ferdian.
Selain api mudah meluas, karhutla di lahan gambut dalam juga menimbulkan asap dalam jumlah besar. Karena itu, operasi pemadaman tidak cukup hanya dengan mengatasi api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan bara dan titik api di dalam lapisan gambut benar-benar padam.
"Asap yang ditimbulkan sangat tebal. Hari ini kami kepung areal terbakar dari segala penjuru agar api benar-benar tuntas," pungkas Ferdian.
Penulis: Irwanto
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id


































