tirto.id - Tiga mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Solo yang juga merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berpindah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Ketiga sosok tersebut adalah Ginda Ferachtriawan, Wawanto, dan Dyah Retno Pratiwi. Ketiganya mengaku punya beberapa alasan yang membuat mereka memilih menyebrang, dari partai berlambang banteng ke partai berlogo gajah.
Ginda Ferachtriawan bilang, pindah ke partai pimpinan putra bungsu Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep, karena merasa bisa berperan lebih banyak usai 21 tahun menjadi kader PDIP.
"Sekarang saya mau buka lembaran baru mencoba ke partai PSI saja. Mengingat PSI adalah partai yang masih muda juga. Banyak diisi anak-anak muda, pemikirannya juga lebih muda. Saya rasa saya bisa berperan lebih baik dan lebih banyak di partai tersebut," ujar Ginda Ferachtriawan, pada Selasa (12/8/2025) sore.
Ginda pun mengaku cukup dekat dengan Kaesang Gibran Rakabuming Raka.
"Ya, kalau dibilang kenal dengan beliau, iya. Mas Kaesang kenal. Mas Gibran kenal. Ya, karena kedekatan saya menganggap Partai PSI, partai yang muda ya," urainya.
Lebih lanjut, Ginda mengaku bahwa potensinya di PDIP kurang diakomodasi. Oleh karena itu dirinya memilih untuk bergabung dengan PSI.
"Partai yang sebelumnya kan memang diisi tokoh yang senior-senior. Apalagi baca berita kemarin saya bukan siapa-siapa. Ya sudah, siapa tahu di partai yang akan datang saya bisa berbuat lebih," imbuhnya.
Pernyataan serupa juga diungkap oleh Dyah Retno Pratiwi. Sosok yang telah 10 tahun menjadi kader PDIP tersebut mengaku sangat tertarik dengan visi misi PSI.
"Kalau saya secara pribadi, masuk ke PSI ya karena saya melihat PSI partai yang terbuka ya, apalagi sekarang isinya anak-anak muda yang pemikirannya itu biasanya out of the box," terang Dyah.
Dyah menambahkan bahwa kepindahannya ke PSI karena beranggapan bahwa dirinya akan bisa lebih difasilitasi dalam mengekspresikan pemikirannya.
Namun Dyah juga tak memungkiri kepindahannya ke PSI juga dipengaruhi adanya keluarga Jokowi di partai tersebut.
"Kalau itu [pindah karena Jokowi] lebih pada bukan yang utama, bukan yang utama karena saya melihat kalau di partai yang sebelumnya adalah partai yang sudah besar. Karena pasti berbeda antara partai yang sebelumnya dengan sekarang PSI lagi berkembang," jelasnya.
Sementara, Wawanto bilang bahwa alasan keluar dari PDIP karena hasratnya untuk berpolitik di kota Solo masih tinggi. "Intinya bahwa saya masih pengin berkontribusi mewarnai perpolitikan khususnya di Kota Solo," kata Wawanto.
Berbeda dengan dua rekannya, Wawanto mengaku kepindahannya ke PSI bukan lantaran ada sosok Kaesang maupun Jokowi di partai tersebut.
"Enggak, pertimbangan diri saya sendiri. Saya tidak pernah mengkolonkan figur. Saya kritis kepada figur siapa pun. Kalau memang dia salah, ya saya kritik salah untuk perbaikan kita bersama," jelasnya.
Selain itu, Wawanto mengaku tertantang dengan jargon PSI sebagai partai anak muda. Dia ingin berkembang dalam hal kepemudaan melalui PSI.
"Dengan anak muda sekarang itu saya sangat mudah untuk menyesuaikan. Anak muda itu kalau tidak ada orang tua nanti jalannya terlalu kenceng. Orang tua kan ngerem-ngerem sedikit. Kan gitu loh dan jangan hanya lempeng," jelas dia.
Sementara itu, Ketua DPC PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo mengaku tak mempermasalahkan eks anggota DPRD yang juga kader partainya membelot ke partai lain.
Menurut Rudy, pembelot dari PDIP bukanlah kader sejati lantaran tak mengetahui latar belakang berdirinya partai berlambang banteng tersebut.
"Itulah yang namanya PDI Perjuangan, jadi mulai dari PDI sampai PDI Perjuangan. Kalau orang yang dari PDI jadi PDI Perjuangan, pasti tidak akan berpindah partai politik karena paham betul tentang ideologi partai," tegas Rudy.
"Perkara mereka sekarang mengundurkan diri atau dipecat, karena dia lahir sebelum 73 [fusi partai enam partai menjadi PDIP]. Dari situlah kalau orang yang berkiprah dari situ, dibunuh pun tetap PDI Perjuangan," cetusnya.
Rudy pun menegaskan bahwa dirinya tak pernah khawatir dengan dinamika adanya kader keluar dari PDIP.
"Mbak Mega saja sudah menyampaikan kalau ada yang nggak suka dengan PDI Perjuangan silahkan out, keluar. Apalagi melanggar aturan-aturan dari partai itu sendiri. Perintah ketua umum tidak dilaksanakan itu sama saja pengkhianatan," tegasnya.
Rudy juga menekankan, kepergian 3 mantan anggota DPRD Solo dari PDIP tak akan menggerus suara partai di Kota Bengawan.
"Nggak, nggak akan menggerus. Karena, punya masalah semua [tiga kader yang pindah] itu," tutupnya.
Penulis: Febri Nugroho
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































