tirto.id - Seorang warga negara asing (WNA) asal Rusia ditemukan meninggal dunia, dengan posisi gantung diri di tempat tinggalnya, di Kelurahan Kerobokan Kaja, Kecamatan Kuta Utara, Badung pada Kamis (1/1/2026) pukul 10.45 Wita. Perempuan berinisial VG (50) tersebut diduga mengakhiri hidupnya akibat depresi.
“Saksi yang kebetulan bekerja di rumah tempat WNA tersebut tinggal melihat lampu garasi masih menyala. Saksi bermaksud mematikan lampu itu, tetapi saksi melihat korban dalam posisi tergantung dengan tali di garasi rumah. Terlihat badan korban sudah dalam keadaan lebam mayat (livor mortis),” terang Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Agus Pasek Sudina, dalam keterangannya, Jumat (2/1/2026).
Berdasarkan keterangan dari pemilik rumah, Made Nasia (63), korban pernah mengalami depresi akibat perang Rusia dan Ukraina. Sebelum kejadian, korban sempat dibawa oleh Made menuju Rumah Sakit Garba Med untuk diperiksa oleh dokter. Made juga mengungkap bahwa korban hampir tidak pernah keluar rumah.

“Dari hasil identifikasi, Polres Badung tidak menemukan tanda-tanda kekerasan. Pada leher sebelah kiri terdapat bekas jeratan simpul tali dan mulut korban dalam posisi mengigit lidah. Tangan korban dalam posisi mengepal. Tinggi dari balon tempat mengikat sampai lantai setinggi 5 meter dan panjang tali yang digunakan adalah 7 meter,” ungkap Agus.
Agus juga menerangkan bahwa korban memiliki tinggi badan sekitar 167 cm dan menggunakan kursi untuk bertumpu setinggi 42 cm. Terlihat diameter simpul di leher korban sepanjang 8 cm dengan menggunakan simpul hidup. Selain itu, baik kemaluan maupun dubur korban mengeluarkan cairan dan kotoran.
Korban juga diketahui meninggalkan barang-barang berupa uang tunai Rp60 juta, 5 dolar Amerika Serikat, 2 dolar Singapura, dan 4400 Baht Thailand; 1 buah ponsel beserta pengisi daya (charger); 2 buah paspor; dan sepucuk surat wasiat.

Dalam surat wasiat, korban menumpahkan kekecewaannya mengenai kebijakan perang Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dia juga mengungkap dirinya tidak lagi memiliki alasan dan kekuatan untuk melanjutkan hidup dikarenakan tidak ada hal baik di masa depan. Selain itu, korban juga menyampaikan sejumlah permintaan.
“Pertama, tolong rawat kucing bernama Kisa. Beri dia makan 3 kali sehari, beri air minum dan elus dia. Sisa makanan ada di kulkas. Saya biasa memberi makanan basah di tengah hari, makanan kering di pagi hari dan malam hari. Setelah makanan basah habis, kamu bisa memberinya makanan kering saja,” tulis surat tersebut.
Korban juga memberikan izin resmi jika ada yang ingin mendonorkan organnya apabila hal tersebut legal di Indonesia. Di samping itu, dia juga memberikan izin untuk menyumbangkan pakaiannya yang masih layak di dalam koper kepada orang yang membutuhkan atau panti asuhan.
“Tolong kremasi tubuh saya atau apa pun yang tersisa setelah kemungkinan donor organ di Bali. Saya ingin abu saya ditebarkan di laut. Saya telah meninggalkan Rp60 juta untuk kremasi. Saya yakin jumlah itu cukup. Tidak perlu upacara, lakukan dengan cepat dan tenang. Pakaian untuk prosedur jika diperlukan ada di atas tempat tidur,” lanjutnya.
Surat tersebut diakhiri dengan permintaan korban agar keluarganya diberi tahu mengenai kejadian tersebut, serta permintaan maaf. Saat ini, korban telah dievakuasi oleh tim Polres Badung menuju Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah untuk dilakukan penitipan jenazah.
“Berdasarkan pemeriksaan oleh tim identifikasi Polres Badung, diduga korban mengalami depresi yang diperkuat dengan keterangan saksi dan surat wasiat yang ditinggalkan korban di ruang tamunya. Selanjutnya kami meminta pihak pemilik tempat untuk menghubungi keluarga atau kerabat korban untuk melakukan pelaporan resmi ke Polres Badung agar dapat memproses pemulangan jenazah korban,” tutup Agus.
---------------------------
Catatan: Depresi bukan lah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
























