William McGonagall, Sang Penyair Terburuk Dunia

Penulis: R. A. Benjamin, tirto.id - 29 Jan 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
William McGonagall menjalani hidup sebagai penyair kapiran setelah mendapatkan "ilham". Titel penyair terburuk di dunia bahkan melekat padanya.
tirto.id - Apa yang membuat sebuah puisi dikatakan berkualitas buruk? Jawabannya tentu bisa bervariasi dan tergantung tingkat pemahaman dan latar belakang si penjawab. Puisi yang baik bagi seseorang bisa jadi buruk bagi yang lain.

Tapi, kita tetap bisa menyebut beberapa faktor penentu buruknya sebuah puisi mengikuti pernyataan kritikus sastra dan penyair asal Inggris Samuel Taylor Coleridge: Jika prosa adalah kata-kata dalam urutan terbaik mereka; maka puisi,—kata-kata terbaik dalam urutan terbaiknya. Dengan kata lain, setiap kata krusial. Maka puisi bisa dikatakan buruk jika misalnya miskin kosakata, diksi kurang jitu, metafora melenceng, dan rima yang dipaksakan.

Bagi para kritikus sastra, sejumlah faktor itu bisa dengan mudah ditemukan dalam puisi-puisi bikinan William McGonagall. Para pengamat seolah sepakat menyimpulkan bahwa satu-satunya pemahaman McGonagall ihwal puisi adalah ia haruslah berima, padahal puisi yang baik tak mesti demikian. "Dia tidak mencoba menemukan kata yang tepat, dia hanya mencoba menemukan sesuatu yang berima," kata Eddie Smalls, dosen dari Universitas Dundee.

Mereka bahkan sepakat bahwa orang ini layak menyandang titel "penyair terburuk dalam bahasa Inggris" atau bahkan "penyair terburuk dunia".


Ilham Ilahi Berujung Puisi

"[Sensasi] itu sangat kuat, aku membayangkan sebuah pena di tangan kananku, dan sebuah suara mendesak, 'Tulislah! Menulis!'"

Kejadian yang mengubah hidup William Topaz McGonagall itu terjadi pada 1877, ketika usianya diperkirakan 52 tahun. Disebut kira-kira karena memang tak ada data pasti soal kapan ia lahir. Tempat lahirnya pun diragukan, antara Irlandia, tempat asal keluarganya, atau di Edinburgh, Skotlandia.

Satu hal yang pasti adalah McGonagall mendapati diri kesulitan menafkahi keluarga setelah setengah abad hidup. Ia bekerja sebagai penenun yang kian sulit mendapatkan pesanan setelah sang putri sulung mencoreng nama baik keluarga karena melahirkan anak di luar pernikahan.

Masa remaja McGonagall bisa dikatakan sama sengsaranya. Itu adalah masa ketika Britania Raya sedang menempuh periode Revolusi Industri dan dia bukan termasuk kelompok pemilik alat produksi. Keluarganya mesti berpindah-pindah di Skotlandia demi pekerjaan, sebelum menetap di Dundee pada 1840. Hidup macam itu membuat dia hanya menempuh pendidikan formal barang sebentar untuk kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi penenun.

McGonagall adalah orang yang eksentrik. Ketika masih bekerja sebagai penenun, ia pernah membayar pemilik teater agar diizinkan memainkan lakon Macbeth. Apa yang terjadi di panggung sama sekali tak ada di naskah. Curiga pada lawan main yang cemburu atas bakat alaminya, McGonagall menolak beradegan mati pada babak terakhir. Aksi tersebut membuatnya dianggap sebagai "penggambaran Macbeth terburuk yang pernah ada."

Di sela-sela kesibukan bekerja itulah ia mulai menemukan kecintaan terhadap sastra. Bacaan kesukaannya adalah tragedi karya penulis besar Inggris, William Shakespeare: Macbeth, Richard III, Hamlet, dan Othello.

Karya-karya itu merangsang imajinasi McGonagall. Perlahan ia mulai belajar menulis, yang dimulai dengan membuat puisi soal sahabatnya yang saat itu sudah mendiang, Pendeta George Gilfillan. McGonagall membubuhkan catatan di bawah puisi itu: "Ini adalah puisi pertama yang saya buat saat di bawah ilham ilahi."


Si penenun lantas kian membulatkan tekad untuk beralih menjadi penyair. Tapi ia pun sadar bahwa sekadar jadi penyair tak membikin kenyang. Ia butuh patron atau penyokong. McGonagall lantas menulis surat kepada Ratu Victoria yang isinya memohon dijadikan poet laureate (semacam penyair resmi kerajaan). Surat tersebut dibalas dengan penolakan, plus ucapan terima kasih atas ketertarikan McGonagall menjadi penyair kerajaan.

McGonagall mengabaikan bagian penolakan dan menganggap ucapan terima kasih sebagai dukungan kerajaan untuknya. Ia pun tetap berupaya dekat dengan kerajaan. Pada musim panas 1878, McGonagall berjalan kaki dari Dundee ke Kastil Balmoral, Skotlandia, yang berjarak sekitar 97 km demi menemui Ratu Victoria. Ia berpikir pertunjukan langsung di hadapan Ratu tentu bakal meningkatkan ketenaran.

McGonagall memperkenalkan diri kepada para penjaga sebagai "Penyair Ratu". Para penjaga tentu segara menampik. "Kau bukan penyair Ratu! [Alfred] Tennyson adalah penyair Ratu!" Tak menyerah, ia pun menunjukkan surat penolakan. Ia harus kembali ke rumah dengan tangan kosong karena surat tersebut tidak membantu.

Tapi penolakan tak berandil apa-apa dalam upaya McGonagall mengejar mimpi pujangga. Dia terus saja menulis puisi.

Puisi-Puisi Paling Terkenal

Pada 1877, McGonagall mengguratkan puisi soal jembatan, yang berangkat dari kekaguman terhadap Tay Bridge di Dundee. And that no accident will befall them while crossing, tulisnya dalam "The Railway Bridge of the Silvery Tay". Sekitar setahun berselang, 28 Desember 1879, jembatan tersebut ternyata runtuh kala sebuah kereta melintas. Sang penyair mengabadikan peristiwa itu ke dalam puisi lagi, kali ini berjudul "The Tay Bridge Disaster". Karyanya itu dipublikasikan pada 1880 dan menuai cemooh para kritikus, dianggap salah satu puisi terburuk dalam bahasa Inggris.

Empat tahun berselang, karya terkenal McGonagall lainnya hadir. "The Famous Tay Whale" adalah puisi soal perburuan paus bungkuk di Tay, yang juga tak luput disertakan dalam jajaran puisi terburuk. Karya-karyanya itu kelak dirangkum dalam tiga volume buku puisi berjudul Poetic Gems.


Panggung yang tepat akhirnya hadir untuk McGonagall: sirkus lokal. Ia akan membaca puisi sementara khalayak diizinkan melemparinya dengan berbagai benda seperti telur, sayuran, ikan, kentang, dan roti basi. Untuk itu dia diupah 15 shilling per malam. McGonagall tampaknya tak ambil pusing. Kendati demikian, "performance art" macam itu jadi kelewat heboh sehingga hakim kota terpaksa melarangnya.

Pengakuan terhadap McGonagall baru tiba pada 1894. Ia menerima surat dari perwakilan Raja Thibaw Min dari Burma yang menganugerahkannya gelar kebangsawanan (knighthood). Gelar itu kelak diketahui hoaks belaka, tapi McGonagall tetap menggunakannya sepanjang sisa hidup: Sir William Topaz McGonagall – Knight of the White Elephant, Burmah.

Penyair Buruk Terbaik Dunia

Kerja-kerja kepenyairan tak juga membuatnya kaya, atau paling tidak hidup layak. Dia kembali jatuh miskin, meninggal pada 1902, dan dimakamkan di kuburan tak bernama di Greyfriars Kirkyard di Edinburgh. Di kota inilah McGonagall akhirnya menemukan kesuksesan betulan. Ia menjadi semacam cult figure walaupun hanya sebentar.

Bersama label lain semacam "simplistis" atau "badut" yang keluar dari sungut para kritikus, label penyair terburuk awet melekat pada sosok McGonagall. Dewan Kota Dundee, misalnya, mengklaim McGonagall sebagai anak favorit dan mendeskripsikan sang pujangga sebagai "Penyair Buruk Terbaik Dunia."

Sebuah kompetisi puisi pun pernah dihelat demi menemukan penyair "sekaliber McGonagall" puluhan tahun setelah sang penyair wafat. Hasilnya? Setelah pertimbangan yang cermat, para juri memutuskan untuk menolak semua entri dan menyatakan bahwa belum ada penyair yang dapat menandingi McGonagall.

Karier kepenyairan McGonagall berlangsung selama 25 tahun. Selama itu ia menulis total 257 puisi yang semuanya masih diterbitkan ulang hingga dua abad kemudian dalam buku-buku berjudul senada dengan julukan, semisal The Worst Poet on Earth.


Sebagian orang hari ini mungkin familier dengan McGonagall karena J. K. Rowling menggunakan namanya untuk salah satu karakter dalam Harry Potter, Profesor Minerva McGonagall. Hari ini publik bisa dengan mudah mengaitkan William McGonagall dengan figur serupa di kancah perfilman, yakni Tommy Wiseau, sutradara film yang juga mendapat predikat terburuk dunia, The Room (2003). Keduanya sama-sama menjelma "cult figure" pengejar ambisi yang jauh melampaui kapasitas dan bergeming tatkala dicemooh serta dijadikan bahan tertawaan orang banyak.

McGonagall tentu saja tidak bermaksud melucu meski itulah yang justru membuatnya lebih menarik. Seperti yang ditulis surat kabar Skotlandia, The National, "Apa yang membuatnya lebih lucu adalah kenyataan bahwa dia tidak menganggap mereka (karya-karyanya) lucu–dia menganggap dirinya sangat serius."

Pada akhirnya, di samping mengais nafkah, McGonagall barangkali hanya ingin menghibur. McGonagall adalah seorang kelas pekerja miskin yang mempelajari sastra secara otodidak dan kemelaratan dan penolakan tak pernah sanggup menghentikannya. Puisi yang sama buruknya mungkin terus tercipta setiap hari, tetapi titel penyair terburuk dunia sepertinya masih akan menjadi milik dia seorang.

William McGonagall memang tidak dikenang karena reputasi mentereng, tapi, setidaknya, ia tetap dikenang.

Baca juga artikel terkait PENYAIR atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino

DarkLight