Menuju konten utama
1 Januari 2003

Agam Wispi, Penyair Lekra yang Lima Tahun Tersekap di Nanking

Setelah dirundung Revolusi Kebudayaan, Agam Wispi--penyair Lekra paling menonjol--pergi ke Moskow dan kemudian kelayapan di Jerman dan Belanda.

Agam Wispi, Penyair Lekra yang Lima Tahun Tersekap di Nanking
Ilustrasi Mozaik Agam Wispi. tirto.id/Tino

tirto.id - Heru Joni Putra, Tokoh Seni 2017 pilihan Tempo, bercerita bahwa pernah ada suatu masa para pegiat teater di Sumatra Barat gemar betul membacakan puisi “Permintaan Seorang yang Tersekap di Nanking, Selama Lima Tahun Itu”. Bahkan saking seringnya dibacakan—dengan pembawaan yang ekspresif pula—bait pertama puisi itu begitu melekat di kepala: Tuhanku, komandanku, Engkau, siapapun Engkau, pergilah dari Nanking.

“Di kemudian hari, saya tahu puisi itu adalah karya GM, Goenawan Mohammad,” kata Heru.

GM mendedikasikan puisi itu buat Agam Wispi, penyair tersohor Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang akibat kekacauan politik 1965 terpaksa tinggal di Tiongkok selama sewindu, dari 1965 hingga 1973, kemudian kelayapan di Jerman dan Belanda.

Sebelum dipindahkan ke Nanking, Agam dan ratusan orang Indonesia lainnya yang diundang Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk mengikuti Perayaan 1 Oktober lebih dulu tinggal di Beijing. Tak lama setelah peringatan usai, kabar tentang meletusnya Peristiwa 1965 disampaikan tuan rumah kepada seluruh rombongan. Elemen Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia (PKI) diduga terlibat di dalamnya.

“Terhadap pemberitahuan itu pimpinan rombongan lalu menyimpulkan bahwa kami semua harus siap pikiran untuk tidak bisa segera pulang ke tanah air. Lebih jauh lagi, harus siap pikiran untuk dihadapkan kepada kehancuran keluarga yang ditinggalkan,” tulis Utuy Tatang Sontani, sastrawan yang senasib dengan Agam Wispi, dalam memoar Di Bawah Langit Tak Berbintang.

Di tengah ketidakjelasan kabar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di tanah air, Agam, seperti halnya kebanyakan anggota rombongan, awalnya masih meyakini bahwa kesempatan untuk kembali pulang ke Indonesia masih terbuka. Keyakinan itu sirna setelah tentara menghancurkan perlawanan terakhir PKI di Blitar Selatan.

“Sampai tahun ‘67 saya masih punya harapan untuk pulang. Sebab, pertama tidak mengetahui persis apa yang terjadi di tanah air, dan kita selalu dipompa ‘kita akan pulang dengan segera ke tanah air’. Dan saya juga yakin itu. Kapan [harapan] itu berakhir? Bagi saya, Blitar sangat menentukan. Kekalahan Blitar Selatan buat saya sudah selesai. Saya tidak akan bisa pulang lagi. Dan pulang pun untuk apa lagi?” papar Agam kepada Hersri Setiawan.

Di awal kedatangannya, Agam dan tamu kehormatan asal Indonesia lainnya disambut hangat pemerintah Tiongkok. Namun ketika Mao Zedong menggalakkan Revolusi Kebudayaan, Agam dan rombongan besar tersebut kebagian getahnya. Dari tempat yang nyaman di Beijing mereka dipindahkan ke Nanking, sebuah kamp konsentrasi yang dijaga ketat oleh tentara. Mereka dipaksa mengikuti program re-edukasi alias turba (turun ke bawah) versi Mao.

“Kami pergi ke desa-desa menjalani re-edukasi. Kami disuruh mengangkat tahi dengan tangan. Banyak yang diserang disentri dan lever. Bersama beberapa kelompok, saya berontak,” ungkap Agam sebagaimana diberitakan majalah Tempo edisi khusus Lekra (30 September-6 Oktober 2013).

Pengawasan ketat yang dilakukan tentara Tiongkok ditambah konflik sesama orang Indonesia di dalam kamp membuat Agam kian menderita. Maka, setelah menjual cincin dan arloji serta kamera, Agam dan dua temannya, salah satunya Utuy Tatang Sontani, pergi ke Moskow menggunakan Trans Siberia melewati Danau Baikal yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Peristiwa itu dicatat GM dalam baris-baris puisinya buat Agam.

//berangkatlah dari kawat duri yang sabar,/dari Revolusi,/dari percobaan sebesar ini//Tuhanku, siapapun Engkau, pergilah/dari Nanking,/tinggalkan stasiun/ke salju dan danau, cantumkan cahaya Baikal/di malam yang sebentar.

Penyair Lekra Paling Menonjol

Majalah Tempo edisi 6 Oktober 2013 menyebut Agam Wispi sebagai “komunis sejak dalam kandungan”. Alasannya, jauh sebelum masuk Lekra dan terang-terangan mendukung PKI, Agam Putih, ayah Agam Wispi, sudah mendirikan partai komunitas di Aceh warsa 1920-an. Sang ayah bahkan pernah melindungi Tan Malaka saat tokoh dengan banyak nama itu sedang dalam masa pelarian di Singapura. Selain Tan, Muso juga tergolong tokoh yang kerap bertandang ke rumah orang tua Agam Wispi.

Jika sang ayah pernah bertemu Tan Malaka dan Muso, tokoh merah yang kelak ditemui Agam juga bukan orang sembarangan, Ho Chi Min. Pada Mei 1965, Agam yang kala itu sudah menjadi personel angkatan laut dikirim Harian Rakyat ke Vietnam untuk meliput perang. Di Hanoi, Agam meminta izin kepada Paman Ho agar dapat meliput aktivitas gerilya Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan. Paman Ho setuju, asal Agam lebih dulu pergi ke Kamboja, dan untuk masuk Kamboja mesti mendapat restu dari Norodom Sihanouk yang kala itu di Beijing. Begitulah jalan nasib Agam. Alih-alih masuk Kamboja, ia malah terkurung di Beijing dan tak bisa kembali ke tanah air.

Agam Wispi lahir di Pangkalan Susu, Medan, Sumatra Utara pada 31 Desember 1930. Sejak duduk di kelas tiga SMA Pembaruan, Agam sudah menulis puisi. Pada 1952, Agam bekerja pada sebuah kantor serikat buruh perkebunan di Pematang Siantar. Ia tak kerasan, lantas pindah ke harian Pendorong. Di sana, wataknya yang sinis dan pemarah terasah menjadi sumber produktivitas dan kreativitasnya menulis sajak.

“Sebagai seorang penyair, Agam Wispi banyak membaca buku dan mengikuti pertemuan dengan para pengarang, seperti Sitor Situmorang, Bakri Siregar, dan Hr. Bandaharo. Ternyata, Bakri Siregar dan Hr. Bandaharo adalah orang yang mengajak Agam Wispi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Sumatra Utara,” terang laman Ensiklopedia Sastra Indonesia.

Saat bekerja sebagai wartawan Pendorong itu pula Agam menulis sajaknya yang terkenal, “Matinya Seorang Petani” (1955). Puisi yang pernah dilarang oleh penguasa militer itu dibikin Agam setelah menyaksikan aksi anggota Barisan Tani Indonesia yang memprotes penggusuran tanah garapan petani miskin di Tanjung Morawa, Sumatra Utara, melawan traktor pemilik perkebunan. Dalam aksi itu, seorang petani, L. Darman Tambunan, mati ditembak.

Depan kantor tuan bupati/tersungkur seorang petani/karena tanah/karena tanah//Dalam kantor barisan tani/si lapar marah/karena darah/karena darah.

Di Lekra, Agam adalah penyair paling menonjol. Sajak-sajaknya, sebagaimana tampak pada baris di atas, terasa ritmis dan puitis. Dan, kesan itu jelas-jelas memupus stigma bahwa sajak orang Lekra melulu penuh jargon dan dogmatis. Menurut GM, Agam sebagai redaktur kebudayaan Harian Rakjat menolak puisi buruk yang sarat semboyan revolusi yang dikirim kepadanya untuk dimuat, sekalipun penyairnya dapat stempel dukungan dari pengurus PKI di daerah.

“Wispi termasuk yang tak henti-hentinya menghendaki ‘tinggi mutu ideologi’ dan sekaligus ‘tinggi mutu bentuk’. Saya kira ia sering kecewa,” ungkap GM, sosok yang sempat mengundang Agam ke Indonesia pada 1999.

Sebagai penyair, Agam selalu berupaya meningkatkan daya ungkap puisi-puisinya. Upaya itu pula yang kemudian membuatnya makin tersiksa di negeri orang. Sebab selama di Nanking Agam cuma memublikasikan puisi-puisinya di koran dinding, ia bukan hanya kehilangan tanah air, tapi juga merasa kehilangan napas Indonesia dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang hidup. Kehidupan lingkungan Indonesia, kata Agam, punya ungkapan sendiri terhadap suatu gejala. Di Nanking, hal itu tak ada lagi. Saking frustasinya, orang-orang hanya sibuk bertengkar dan main kartu. Perkara yang di mata Agam sangatlah mengerikan. Dalam situasi semacam itulah Agam bertahan lewat puisi—sekalipun puisi yang ia hasilkan tidak sepenuhnya memuaskan.

“Merasa bahwa diri ini kreatif, saya pikir, penting sekali. Untuk daya tahan hidup. Kalau itu sudah tidak lagi bisa dirasakan ya, berakhirlah. Sebagai penyair, berarti mati. Sudah mati. Dan saya tidak mau mati. Itulah!”

Infografik Mozaik Agam Wispi

Infografik Mozaik Agam Wispi. tirto.id/Tino

Eksil Indonesia Sama dengan Eksil Jerman

Agam terbilang sebagai sastrawan Indonesia yang pernah menyaksikan dan mengalami langsung kehidupan di empat negeri komunis: Vietnam, Tiongkok, Uni Soviet, dan Jerman Timur. Lepas dari indoktrinasi yang berlangsung di masing-masing negara, konflik dengan sesama orang Indonesia pun turut mengubah pemahaman Agam terhadap komunisme: sebuah eksperimen yang gagal.

Agam kecewa melihat cara hidup kebanyakan kaum eksil Indonesia di Eropa yang tidak realistis. Mereka masih berpegang hidup kepada pola ketegangan lama antara Moskow dan Peking, memimpikan bahwa suatu saat nanti akan kembali bergerak ke Indonesia, padahal semua hal sudah berubah. Dari obrolannya dengan Hersri Setiawan, tampak betul bahwa penulis sajak "Surabaya" ini bukanlah kaum kolot yang gemar mengelap-elap kenangan lampau.

“Jadi, buat saya, yang dulu itu sudah selesai. Oleh karena itu, kalau ada orang mau kembali mengungkit-ungkit apa yang kita lakukan dulu, buat saya sudah ketinggalan, ketinggalan zaman, termasuk ide-ide soal 'Seni untuk Rakyat', 'Politik adalah Panglima', semua sudah ketinggalan,” kata Agam.

Joss Wibisono, penulis Indonesia yang bermukim di Belanda menyebut Agam Wispi pernah tampil dalam sebuah dokumenter televisi Belanda bersama sejumlah eksil Indonesia lainnya. Seingat Joss, itulah dokumenter pertama tentang eksil 1965 di Belanda.

Joss juga menyebut Agam sebagai orang pertama yang membandingkan eksil Indonesia dengan eksil Jerman semasa Hitler, Deutsche Exilliteratur. Menurut Joss, perbandingan ini membedakan Agam dengan Hersri Setiawan atau Ibarruri Putri Alam yang menggunakan perumpamaan Pandawa untuk menggambarkan kalangan eksil Indonesia di pengasingan.

“Menurutku perbandingan wajang itu hanja bisa dipahami oleh orang Djawa karena itu memang termasuk intisari budaja Djawa. Tapi untuk Indonesia perbandingan dengan ulah Hitler lebih tjotjok, Harto Orde Bau memang tidak beda dari Hitler dan nazional sozialismenja, kan? Aku setudju dan senang dengan perbandingan Agam Wispi ini,” ungkap Joss.

Joss Wibisono menilai, sebagai pribadi, seperti halnya Basuki Resobowo yang sama-sama eksil di Belanda, Agam Wispi adalah orang yang tak sulit, dalam arti: gampang untuk bisa bergaul dan memperoleh simpati mereka.

Setelah meninggalkan Nanking dan sebentar singgah di Moskow, Agam Wispi melanjutkan hidupnya di Leipzig, Jerman Timur. Di sana, Agam sempat belajar sastra di Institut fur Literatur dan bekerja sebagai pustakawan di Deutsche Bucheret. Berbekal kemampuannya berbahasa Jerman, Agam Wispi menerjemahkan "Faust" karya Johann Wolfgang von Goethe (Yayasan Kalam & Goethe-Institut Jakarta, 1999).

Sejak 1988, Agam tinggal di Amsterdam. Menurut Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah, sejak tinggal di Leipzig Agam sudah sakit-sakitan. Ia menderita sakit jantung dan sempat dioperasi. Di Amsterdam, Agam tinggal seorang diri di Verplichthuis, rumah jompo, hingga ajal menjemputnya pada 1 Januari 2003, tepat hari ini 19 tahun lalu—selang satu jam setelah Agam melewati hari ulang tahunnya yang ke-72.

Baca juga artikel terkait EKSIL atau tulisan lainnya dari Zulkifli Songyanan

tirto.id - Humaniora
Penulis: Zulkifli Songyanan
Editor: Irfan Teguh Pribadi