Menuju konten utama

Wamenag: Perpres Ditjen Pesantren Sudah Ditandatangani

Wamenag menyatakan Perpres tentang Direktorat Jenderal Pesantren sudah ditandatangani dan saat ini sedang dalam tahap telaah untuk segera diundangkan.

Wamenag: Perpres Ditjen Pesantren Sudah Ditandatangani
Santriwati membaca dan menghafalkan Hadits Arbain di Ponpes Laskar Langit, Desa Margaluyu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (25/2/2026). Selama Ramadhan, pesantren tersebut menggelar program menghafal Hadits Arbain an-Nawawi dan kajian fikih selama 20 hari untuk memperkuat pemahaman keagamaan para santri. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id -

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i mengatakan bahwa Peraturan Presiden mengenai pembentukan Ditjen Pesantren sudah ditandatangani. Prosesnya saat ini sedang dalam tahap telaah di Sekretariat Umum.

"Perpres tentang Direktorat Jenderal Pesantren sudah ditandatangani. Saat ini sedang dalam tahap telaah di Sekretariat Umum untuk segera diundangkan ke dalam Lembaran Negara,” ujar Romo dikutip dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).

Romo menyebut kehadiran Ditjen Pesantren merujuk kepada besarnya populasi pesantren, jumlah santri, hingga peran strategis para kiai untuk Tanah Air.

Berdasarkan rancangan, Ditjen Pesantren direncanakan memiliki lima direktorat strategis, yaitu Direktorat Pendidikan Muadalah, Diniyah Formal, dan Kajian Kitab Kuning; Direktorat Pendidikan Ma'had Aly; Direktorat Pendidikan Diniyah Takmiliyah dan Pendidikan Al-Quran; Direktorat Pemberdayaan Pesantren; serta Direktorat Pengembangan Dakwah Pesantren.

"Struktur ini dirancang sedemikian rupa agar kerja Ditjen Pesantren bisa maksimal. Jika salah satu unsur ini tidak ada, maka gerak organisasi akan pincang dalam melayani kebutuhan pesantren yang sangat kompleks," imbuhnya.

Romo juga mengingatkan agar proses rekrutmen personel segera dipersiapkan agaroperasional ditjen dapat langsungberjalan cepat tanpa kendala teknis. Dia mensyaratkan agar posisi- posisi kunci diisi oleh figur yang memiliki pengalaman empiris di dunia pesantren.

"Untuk urusan kurikulum dan pengasuhan asrama, harus disi oleh orang-orang yang benar benar memahami 'ruh' pesantren. Sementara untuk bidang seperti pemberdayaan, kita bisa melibatkan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya," katanya.

Baca juga artikel terkait PESANTREN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Rina Nurjanah