tirto.id - Area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo di Mojosongo, Solo, Jawa Tengah terbakar sejak Rabu (2/9/2026). Kebakaran TPA Putri Cempo terjadi meluas hingga mendekati perbatasan Kabupaten Karanganyar. Api juga telah menyebabkan dampak turunan, seiring penanganan yang terus dilakukan.
Pada hari ini, Jumat (4/9), kebakaran yang melahap area TPA Putri Cempo belum berhasil dipadamkan. Api dilaporkan masih melahap kawasan itu kendati puluhan armada pemadam kebakaran telah dikerahkan sejak Rabu.
Kebakaran di TPA Putri Cempo Solo sebelumnya dilaporkan terjadi di blok B area tersebut. Namun, angin dengan cepat membuat api berkobar dan menyebar ke blok-blok lain di sisi utara hingga mendekati perbatasan dengan Karanganyar.
Seturut Antara, Pemerintah Kota Surakarta (Solo) kini telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Alam imbas insiden tersebut. Status ini ditetapkan berlaku selama 14 hari atau dua pekan sejak Kamis (3/9).
Sementara itu, Lurah Mojosongo Katarina Kartika Panca menyebut peristiwa kebakaran TPA Putri Cempo memang kerap terjadi. Dalam keterangannya pada Kamis, TPA itu hampir tiap tahun mengalami insiden yang sama.
“Mungkin ini kayak tahunan gitu ya, tapi dulu enggak sempat kebakaran besar,” tuturnya.
Dampak TPA Putri Cempo Terbakar
Seiring api yang tak kunjung padam, dampak kebakaran TPA Putri Cempo telah dirasakan warga sekitar. Puluhan warga di RW 39 Mojosongo dilaporkan harus dievakuasi karena terdampak asap yang pekat.
Respati Ardi menjelaskan, evakuasi itu dilakukan terhadap 75 warga RW 39 pada hari Kamis. Mereka dilaporkan harus dievakuasi setelah mengalami gangguan kesehatan pernapasan. Meski begitu, seluruh warga RW 39 disebut Respati sudah kembali ke rumah masing-masing pada Jumat ini.
Dampak turunan akibat kebakaran TPA Putri Cempo juga telah merembet ke aktivitas pendidikan setempat. Siswa SD Negeri Kendalrejo dan SMPN 5 Surakarta dilaporkan terpaksa diliburkan pada Kamis kemarin akibat pekatnya asap.
Di SMPN 5 Surakarta, keputusan untuk meliburkan siswa itu diterapkan sebagian, yakni kepada para siswa yang rumahnya tergolong jauh dari TPA Putri Cempo. Sementara itu, para siswa yang rumahnya dekat TPA diminta untuk tetap belajar di sekolah karena memulangkan mereka justru membuat para siswa mendekati sumber asap.
Selain berdampak pada pengungsian sejumlah warga dan pendidikan, kebakaran pada TPA Putri Cempo juga disebut telah berdampak pada kualitas udara wilayah di sekitarnya. Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono pada Jumat ini menyebut, alat pemantau kualitas udara pemerintah mencatat kualitas udara di sekitar Solo berada di angka 51 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Mikrogram per meter kubik merupakan satuan yang umum digunakan utnuk mengukur jumlah partikel polutan pada setiap satu meter kubik udara. Hal ini juga berarti bahwa kini terdapat 51 mikrogram polutan di setiap meter kubik udara di wilayah Solo dan sekitarnya.
Tingkat itu masih berada di taraf aman bagi manusia. Namun, tingkat polusi 51 µg/m³ berpotensi berdampak buruk bagi kelompok rentan.
Akan tetapi, pengukuran tingkat polusi itu disebut Diaz belum maksimal. Arah angin, kata Diaz, membuat asap kebakaran TPA Putri Cempo tidak melewati alat pendeteksi polusi. Kini, KLH disebutnya tengah mengerahkan sistem pemantauan kualitas udara bergerak (mobile monitoring system) ke lokasi kebakaran untuk meninjau dampak asap terhadap kualitas udara.
Penanganan Mulai Manfaatkan Helikopter Water Bombing
Penanganan kobaran api di TPA Putri Cempo diperluas hari Jumat ini. Satu unit helikopter water bombing turut dikerahkan untuk memadamkan si jago merah.
Menurut keterangan BPBD Solo, helikopter tersebut merupakan unit pemadam milik Polda DIY. Helikopter itu kemudian ditugaskan ke Solo untuk memadamkan api di TPA Putri Cempo.
Helikopter ini memiliki kapasitas 9.000 liter dan terus mengguyur api dengan air secara berkala setiap 4 menit sekali. Helikopter itu juga dikerahkan untuk berfokus pada pemadaman titik api di blok C.
Seiring proses water bombing dilakukan, pemadaman api via darat di blok C dihentikan sementara. Personel pemadaman via darat kemudian dialihkan untuk berfokus pada blok lain, yakni blok D dan B.
Kepala Pemadam Kebakaran Solo Indradi menjelaskan pihaknya telah mengerahkan 15 unit armada kebakaran hari ini. Belasan armada itu kemudian dioperasikan 151 personel gabungan dari Damkar, BPBD, DLH, TNI, Polri, dan relawan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































