Menuju konten utama

Tilik Kota Minyak Balikpapan: Rumah Dahor hingga Kampung Berdaya

PT Kilang Pertamina Internasional RU V Balikpapan memberikan bantuan ke beberapa kampung di Balikpapan melalui CSR.

Tilik Kota Minyak Balikpapan: Rumah Dahor hingga Kampung Berdaya
Pengunjung berjalan keluar dari Rumah Cagar Budaya Dahor di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (12/8/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

tirto.id - Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menyimpan sejarah industri perminyakan di Indonesia. Kilang minyak milik Pertamina di Balikpapan merupakan yang terbesar kedua saat ini. Julukan Kota Minyak pun tak bisa disangsikan bila Anda berkunjung ke sana dan menyempatkan diri menghampiri Rumah Dahor.

Sebagaimana namanya, ia berlokasi di Jalan Dahor Nomor 1, Baru Ilir, Balikpapan Barat, Balikpapan. Jika Anda ingin tahu sejarah perminyakan di Balikpapan, inilah tempat yang pas untuk memulai.

Nilai sejarah Rumah Dahor berpangkal pada asal-usulnya yang merupakan rumah dinas para pegawai kilang minyak Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM). Ia adalah saksi bisu perkembangan Balikpapan sebagai kota minyak sejak awal abad ke-20 di zaman penjajahan Belanda.

Rumah bersejarah ini pun memiliki kesan amat khas lantaran dominasi warna putih dengan paduan aksen hijau pada fasadnya. Ia adalah rumah panggung yang terbagi menjadi dua bangunan, yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping.

Pengurus Rumah Dahor, Rudiansyah J.A., menjelaskan bahwa BPM beroperasi di Balikpapan—tepatnya di pesisir Teluk Balikpapan—sejak awal abad ke-20.

"Jauh sebelum Indonesia Merdeka, sebelum ada Pertamina waktu itu. Rumah Dahor ini merupakan rumah pekerja minyak pada saat itu dengan jabatan kelas menengah atau middle jabatannya," kata Rudiansyah sambil menunjukkan isi Rumah Dahor, Selasa (12/8/2025).

Rudi menjelaskan Rumah Dahor dibangun dengan gaya panggung untuk menghindari pasang air laut. Dulu, penghuni bisa langsung melihat ke arah Teluk Balikpapan dan kilang dari depan rumah ini. Namun, kini, di seberangnya telah berjejer ruko-ruko dan bangunan lain sehingga pemandangan itu tidak lagi terlihat.

Sebagai museum, Rumah Dahor memamerkan foto-foto pekerja perusahaan minyak tempo dulu, peta sumur minyak, hingga dokumen-dokumen penting yang mencatat perjalanan industri minyak di Balikpapan.

Rudi juga bercerita bahwa BPM sempat dikuasai oleh Jepang di masa Perang Asia Timur Raya. Kilang-kilangnya juga sempat jadi sasaran pengeboman Sekutu. Meski begitu, Rumah Dahor merupakan salah satu bangunan yang selamat dari pengeboman tersebut.

Rumah cagar budaya Dahor di Balikpapan

Pengunjung melihat foto dokumentasi sejarah di Rumah Cagar Budaya Dahor, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (12/8/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

Hingga, bertahun-tahun kemudian, Rumah Dahor dijadikan cagar budaya dan kini dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU V Balikpapan.

Nama Dahor diambil dari nama sebuah desa di Tabalong, Kalimantan Selatan, yang merupakan lokasi sumur minyak temuan BPM pada 1930. Sumur minyak Dahor pun merupakan bagian penting dalam sejarah industri perminyakan Indonesia, dari era kolonial hingga kemudian dilanjutkan oleh Pertamina sebagai perusahaan energi nasional.

Seturut penjelasan Rudi, di kawasan Jalan Dahor dulu terdapat 40 rumah dengan gaya yang sama. Kini, hanya tersisa 10 rumah yang berfungsi dan berdesain mirip Rumah Dahor. Rumah yang berstatus cagar budaya ini adalah rumah Dahor 01.

Selain Rumah Dahor 01, ada satu rumah lainnya yang kini digunakan sebagai perpustakaan publik. Sedangkan, delapan rumah lainnya menjadi hunian pegawai Pertamina.

Pertamina melalui RU V Balikpapan bersama komunitas Dahor Heritage Balikpapan bekerja sama untuk merawat dan memanfaatkan rumah Dahor ini sebagai tempat edukasi dan wisata sejarah. Kerja sama ini memungkinkan masyarakat dan wisatawan mengunjungi, melihat koleksi foto dan dokumen, serta mempelajari sejarah Balikpapan dari masa ke masa.

Rudi mengatakan keberadaan Rumah Dahor juga menjadi pengingat bahwa Balikpapan tumbuh dan berkembang seiring industri minyak sejak lebih dari seratus tahun lalu. Pertamina yang mewarisi pengelolaan aset-aset BPM pun melihat Rumah Dahor sebagai bagian dari warisan sejarah yang perlu dilestarikan.

Cara-cara Unik Cegah Longsor

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU V Balikpapan memberikan bantuan kepada beberapa kampung atau desa yang ada di Balikpapan melalui dana corporate social responsibility (CSR).

Salah satunya adalah Kampung Baru llir Mandiri, Indah, dan Sejahtera (Kalindra). Ia berlokasi di RT 51, Jalan Dahor GN. Polisi, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat. Kalindra merupakan area rawan longsor di Balikpapan.

Dengan memanfaatkan drum bekas dari kilang, Pertamina membuat sebuah penahan longsor di area kampung ini. Tak sekadar diisi tanah dan digunakan sebagai penahan, drum-drum tersebut juga bisa difungsikan sebagai tempat penanaman sayur dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Warga Kalindra juga menampung air hujan untuk mencegah potensi longsor. Caranya: air hujan yang turun dari atap rumah dialirkan ke toren agar tidak langsung jatuh ke tanah dan mengakibatkan longsor.

Ketua RT 51, Muhammad Yusup, mengatakan bahwa air yang ditampung itu kemudian digunakan oleh warga untuk mandi dan keperluan lainnya. Terlebih, kampungnya ini termasuk yang agak kesulitan air bersih.

"PDAM-nya susah sekali di sini dan kalau ngalir tengah malam jam dua, kami asik tidur," kata Yusup, Selasa (12/8/2025).

Selain itu, Pertamina membuat lorong hijau atau menanam tanaman rambat berupa markisa sehingga memberikan kesan sejuk ke lingkungan. Sepanjang lorong hijau ini juga dibuat vertikal garden yang ditanami sayur-sayuran, seperti kangkung dan pakcoy.

Tak hanya itu, warga juga kreatif memanfaatkan drum bekas dari kilang untuk budi daya ikan lele dan nila. Pertamina lantas mendukung upaya-upaya warga Kalindra itu dengan memberikan sejumlah edukasi terkait cara-cara meningkatkan nilai ekonomis dari kebun dan budi daya ikannya.

Ibu-ibu di Kalindra, misalnya, membuat beberapa produk olahan, seperti keripik, minuman herbal, dan lain-lain. Mereka juga telah mendapatkan penghasilan tambahan dari produksi tersebut. Yusup menyebut warga sangat terbantu dengan bantuan dari Pertamina.

"Sebelum dibantu Pertamina, kondisinya berantakanlah kampung ini. Setelah dibantu, alhamdulillah kampung kami ini sangat indah dan menghasilkan nilai ekonomis untuk ibu-ibunya sendiri," ujar Yusup.

CSR Pertamina

Produk dari penerima CSR Pertamina khusunya dari Patra Niaga IT Balikpapan di Kelurahan Muara Rampak, Balikpapan Utara, Kota Balikpapan. tirto.id/Auliya Umayna

Bukan hanya Kalindra, Kampung Pangan Berseri juga menjadi penerima CSR Pertamina, khusunya dari Patra Niaga IT Balikpapan. Lokasi Kampung Pangan Berseri berada di Kelurahan Muara Rampak, Balikpapan Utara, Kota Balikpapan.

Warga Pangan Berseri mendapat bantuan untuk menanam tumbuhan rempah-rempah yang kemudian diolah menjadi produk makanan dan minuman. Tak jauh berbeda dengan Kalindra, usaha produksi itu memberdayakan perempuan, terutama ibu rumah tangga.

Warga juga membudidayakan lele serta menanam sayur-sayuran dengan teknik hidroponik. Sayuran ini dapat pula dimanfaatkan oleh masyarakat sendiri.

Mengolah Metana dari TPAS Manggar

Bergeser ke sisi lain Balikpapan, ada sebuah Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) yang minim lalat dan tidak terlalu berbau. TPAS Manggar namanya. Lokasinya di Jalan Proklamasi Nomor 28, Manggar, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan.

TPAS tersebut bisa “lebih bersih” karena menangkap gas metana yang dihasilkan sampah dan menggunakannya sebagai bahan bakar. Gas itu, misalnya, disalurkan ke rumah-rumah warga sekitar dan digunakan untuk kompor masak.

Kepala UPTD TPAS Manggar, Mochamad Haryanto, menjelaskan bahwa TPAS-nya memiliki program bernama Wasteco. Program ini menyerap gas metana dari sampah sehingga mengurai bau di TPAS.

Kata Haryanto, TPAS Manggar memiliki luas total 40 hektare. Lalu, 17 hektarenya digunakan sebagai area penimbunan sampah. Penimbunan sampah tersebut dibagi lagi menjadi 3 zona, yaitu Zona 5, 6, dan 7.

Zona 5 dan 6 aktif menghasilkan gas metana yang kemudian diolah dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pada dua zona tersebut, terpasang pipa-pipa untuk mengalirkan gas metana yang biasanya terlepas ke udara dengan sia-sia.

“Zona 5 ini luasnya sekitar 2,5 hektare. Ini Zona 6 yang saat ini masih aktif itu sekitar 3,25 hektar dan Zona 7 yang masih kosong ini sekitar 3,25 hektar," kata Haryanto.

TPA Manggar

TPA Manggar di area TPAS Manggar, Balikpapan, Rabu (13/8/2025). tirto.id/Auliya Umayna

Kata Haryanto, pengolahan gas metana inilah yang membuat TPAS Manggar menjadi minim lalat dan bau. Gas metana yang diproduksi oleh TPAS Manggar lalu dialirkan ke 380 rumah warga melalui pipa sambungan sepanjang 8.316 meter.

Warga hanya perlu membayar iuran senilai Rp10 ribu setiap bulan untuk merasakan manfaat gas metana ini. Sedangkan, UMKM tarifnya senilai Rp25 ribu.

Haryanto juga bercerita bahwa program Wasteco telah berjalan sejak 2012 silam. Namun, saat itu belum berjalan dengan maksimal. Kemudian, pada 2018, Pertamina Hulu Mahakam bergabung dengan program ini dan memberikan banyak perbaikan berupa edukasi bank sampah, kepala sumur gas, meter pengukur, separator, pipa ventilasi, flaring, dan lain-lain.

Bukan hanya itu, 113 rumah tangga kini telah mampu memilah sampah secara mandiri dan 29 UMKM juga turut menikmati hasil dari program ini.

Baca juga artikel terkait BALIKPAPAN atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - News Plus
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Fadrik Aziz Firdausi