tirto.id - The Habibie Center (THC) mengajak berbagai pihak untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam mewujudkan agenda transisi energi berkeadilan di Indonesia, guna mencapai target-target yang telah dicanangkan. Berdasarkan dua penelitian terbaru THC, masih terdapat tantangan dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan di tanah air.
Melalui penelitian pertama yang berjudul “Keadilan Sosial dan Lingkungan dalam Jaringan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan”, peneliti THC Kunny Izza Indah Afkarina menyampaikan bahwa dinamika pertama yang sering muncul dalam tata laksana transisi energi berkeadilan adalah aspek keadilan sosial dan lingkungan. Kunny menyoroti temuan krusial yang masih terjadi hingga kini.
“Ketimpangan dalam tata laksana transisi energi di Indonesia mengindikasikan bahwa perhatian masih berfokus pada aspek teknis seperti tercapainya target penurunan emisi dan peningkatan rasio elektrifikasi, sementara aspek keadilan sosial dan lingkungan cenderung terabaikan,” ujarnya.
Aspek penting lainnya adalah tata kelola kelembagaan dalam penanganan isu transisi energi. Hal ini diangkat dalam penelitian kedua yang berjudul “Penguatan Kelembagaan dan Reformasi Kebijakan untuk Kemajuan Transisi Energi” yang dipimpin oleh M. Arief Virgy, peneliti THC. Virgy mengungkapkan, “Kebijakan transisi energi di Indonesia masih sangat didorong oleh pemerintah pusat. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan tinggi dari pemerintah daerah, karena potensi fiskal daerah tidak dapat dimaksimalkan.”
Pemaparan tersebut sejalan dengan pandangan Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H. (Wakil Ketua MPR RI 2024–2029) dan Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A. (Menteri KoordinatorBidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan). Dalam pernyataannya, Menko AHYmengatakan, “Pemerintah Indonesia tidak perlu malu mengakui bahwa masih terdapatketimpangan dalam penatalaksanaan transisi energi berkeadilan. Namun, hal ini bukan alasanuntuk mengabaikan upaya mencapai target yang telah ditetapkan. Peran aktif semua pihaksangat dibutuhkan.”
Selaras dengan itu, Eddy Soeparno menegaskan pentingnya peran kelembagaan yangberpihak kepada rakyat. Ia membuka diskusi dengan menyampaikan pandangan kritis tentangkondisi Indonesia saat ini.
“Pemerintah memang memiliki banyak target, tetapi pencapaianpertumbuhan tersebut harus memenuhi prasyarat seperti ketersediaan energi bersih danefisien. Indonesia menghadapi berbagai paradoks kelembagaan. Misalnya, kita memiliki potensigeothermal terbesar di dunia, tetapi baru sekitar 10% yang termanfaatkan. Tentunya, kitamembutuhkan otoritas yang mampu merangkum seluruh upaya transisi energi, baik yangsudah, sedang, maupun akan dilakukan.”
Dari perspektif peneliti, Koordinator Riset Sosial, Kebijakan, dan Ekonomi IESR, Martha JesicaSolomasi Mendrofa, menilai bahwa penelitian “Keadilan Sosial dan Lingkungan dalam JaringanPembangkit Listrik Energi Terbarukan” berhasil menyoroti aspek krusial dalam transisi energi.
“Masyarakat sudah memahami konsep transisi energi, tetapi tingkat kepuasan mereka masihrendah dan dipengaruhi oleh persepsi yang beragam. Meski isu ini semakin sering dibahas,masih banyak pekerjaan untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan publik,” jelas Martha.
Sementara itu, Mustaba Ari Suryoko, S.T., M.T., Koordinator Penyiapan Program AnekaEBT/Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian ESDM, menambahkan bahwa penelitiantersebut dapat menjadi salah satu ‘kepingan puzzle’ bagi ESDM untuk menyusun pengaturanyang lebih komprehensif, termasuk aspek ekonomi dan sosial.
“Ini bisa menjadi standar dalampengelolaan EBT. Namun, pemetaan konflik sosial EBT perlu diperdalam secara sistematis,terutama jika melibatkan biaya tertentu. Pemetaan yang lebih komprehensif akan membantukami menyelenggarakan transisi energi berkeadilan dengan lebih baik.”
Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Pemprov Jawa Barat, Permadi Mohamad Nurhikmah, S.T.,M.T., turut menambahkan perspektif terkait penelitian “Penguatan Kelembagaan dan ReformasiKebijakan untuk Kemajuan Transisi Energi”, terutama mengenai ketergantungan pemerintahdaerah terhadap kebijakan transisi energi yang diterapkan oleh pemerintah pusat. Ia menilai bahwakondisi transisi energi saat ini menimbulkan banyak kebingungan di tingkat pemerintah daerah.
“Di Jawa Barat saja, kami membuat RUED seadanya karena diminta secara mendadak,”ujarnya.
Meski demikian, Permadi menekankan bahwa kondisi kelembagaan yang belum ideal masihmenyimpan peluang untuk mencapai hasil terbaik melalui pendekatan yang tepat. Iamenjelaskan sejumlah keberhasilan Jawa Barat, salah satunya pendekatan subsidi untukkelompok miskin yang difokuskan pada instalasi PLN. Hal ini menunjukkan banyak capaianyang bisa diraih dengan pendekatan kelembagaan yang kritis dan aplikatif.
Melalui penelitian-penelitian tersebut, THC menegaskan komitmennya untuk terus mendorongterwujudnya transisi energi yang berkeadilan secara sosial, lingkungan, dan kelembagaan. THCakan terus menyelenggarakan riset dan dialog yang melibatkan masyarakat guna mendorongdemokratisasi energi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Masuk tirto.id

































