Menuju konten utama

Tertekan Sentimen The Fed, Rupiah Loyo ke Level Rp17.880

Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.880 pada perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2026).

Tertekan Sentimen The Fed, Rupiah Loyo ke Level Rp17.880
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.880 pada perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2026). Rupiah melemah 35 poin atau 0,2 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.845.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, melemahnya rupiah dipengaruhi dua faktor. Dari sisi internal, melemahnya rupiah, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga di level tinggi memicu larinya arus modal asing alias capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor dinilai cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS, obligasi, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

"Prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat.

Ia menyatakan tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Hal ini dinilai memicu lonjakan permintaan valuta asing, dolar AS, untuk pembayaran impor sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.

Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi seperti pembayaran dividen dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah.

"Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN," tuturnya.

Sementara sisi eksternal, sentimen pasar membaik setelah muncul laporan soal Washington dan Teheran yang telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Di satu sisi, negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional.

Usulan kesepakatan itu dinilai masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump. Prospek kesepakatan damai dinilai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal.

"Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap tertanam di pasar minyak," ucap Ibrahim.

Harga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata. Harga minyak mentah sempat pulih setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara pasukan AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar karena optimisme diplomatik muncul kembali.

Menurut dia, investor juga menilai latar belakang makroekonomi yang lebih luas setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga tetap tinggi.

Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang disebut lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve berpotensi akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

"Pada saat yang sama, data pertumbuhan ekonomi AS tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun 2026, dengan PDB hanya meningkat sebesar 1,6 persen, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2 persen, menurut Biro Analisis Ekonomi AS," tuturnya.

"Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211.000," imbuh Ibrahim.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama