Menuju konten utama

Tekan Kebocoran Retribusi, DPRD DKI Dorong Parkir Nontunai

Legislator mendorong Dishub DKI Jakarta menerapkan metode pembayaran parkir nontunai untuk mencegah potensi kebocoran retribusi.

Tekan Kebocoran Retribusi, DPRD DKI Dorong Parkir Nontunai
Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta Wahyu Dewanto. (FOTO/dok. Sekretariat DPRD Provinsi DKI Jakarta)

tirto.id - DPRD Provinsi DKI Jakarta komitmen dalam upaya meningkatkan tata kelola layanan publik. Termasuk sektor perparkiran sebagai sumber retribusi daerah.

Kendati demikian, potensi kebocoran retribusi parkir masih menjadi tantangan serius. Harus segera diatasi. Hal itu demi optimalisasi pendapatan dan peningkatan pelayanan bagi masyarakat.

Potensi kebocoran perparkiran terjadi akibat berbagai faktor. Mulai dari sistem pencatatan yang belum sepenuhnya digital, praktik pungutan liar, hingga kurang pengawasan di lapangan.

Setiap rupiah yang bocor berpotensi pembangunan hilang. Dana tersebut bisa digunakan untuk memperbaiki fasilitas umum, infrastruktur transportasi, dan pelayanan publik lainnya.

Karena itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta Wahyu Dewanto mengimbau Dinas Perhubungan (Dishub) tak lagi menerima pembayaran tunai dalam pungutan tarif parkir.

Seluruh lokasi yang dikelola Unit Pengelola (UP) Perparkiran harus menggunakan pembayaran secara tunai.

Dengan begitu, tak ada lagi kehilangan potensi retribusi parkir. Kekhawatiran kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun hilang.

"Karcis manual sudah tidak boleh. Harus pakai elektronik. Semua cashless (tanpa uang tunai) aja," ujar Wahyu, beberapa waktu lalu.

Ia juga meminta Dishub DKI menyiapkan park and ride di sejumlah titik pusat keramaian. Di sekitar perkantoran, pusat perbelanjaan, juga wilayah pinggiran sebagai pintu masuk ke Kota Jakarta.

"Law enforcement-nya (penegakan hukum-Red) juga harus jelas. Tanpa pandang bulu," tegas Wahyu.

Peran masyarakat untuk pengawasan di lapangan diharapkan mampu membuat Dishub berbenah untuk lebih baik.

"Makanya (harus ada) masukan dari masyarakat dan harus kritis," pungkas Wahyu.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis