tirto.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani, mengungkapkan hasil survei mengenai kesenjangan keterampilan tenaga kerja Indonesia.
Survei yang dilakukan APINDO terhadap lebih dari 2.000 perusahaan menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha, yakni sekitar 1.200 atau 60 persen mengeluhkan masalah serius pada saluran bakat (talent pipeline) pekerja dalam negeri.
"Kami mensurvei lebih dari 2.000 perusahaan. Dan mereka mengatakan bahwa benar-benar, mayoritas, lebih dari 60 persen mengatakan ini masalahnya adalah saluran bakat. Mereka memiliki masalah dalam hal ini," ujar Shinta dalam Indonesia Economic Summit 2026, Rabu (4/2/2026).
Persoalan ini, menurut Shinta, merupakan salah satu kendala inti yang menghambat penciptaan lapangan kerja formal di Indonesia. Ia menyoroti struktur tenaga kerja nasional yang didominasi oleh lulusan pendidikan dasar, sementara tuntutan industri justru membutuhkan keterampilan tinggi.
"Jika kita melihat angkatan kerja, 36,5 persen hanya lulusan sekolah dasar. Jadi, ini benar-benar masalah besar karena kita memiliki tenaga kerja berketerampilan rendah,” ucapnya.
Kesenjangan antara supply dan demand keterampilan ini memperparah tantangan ketenagakerjaan nasional. Shinta mengungkapkan, kondisi ekonomi saat ini hanya mampu menyerap 2 hingga 4,5 juta pekerja baru per tahun, sementara kebutuhan dari pencari kerja mencapai 9 hingga 12 juta orang setiap tahunnya.
"Anda bisa melihat kesenjangan ini," katanya.
Masalah ini semakin kompleks dengan melemahnya sektor manufaktur yang sebelumnya menjadi tulang punggung penciptaan pekerjaan formal di era 90an.
Pangsa manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menyusut dari sekitar 24 persen menjadi hanya 19 persen saat ini.
“Industri benar-benar melemah. Pangsa manufaktur terhadap PDB terus menurun,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































