Menuju konten utama

Suka Film Na Willa? Ini 10 Buku Anak yang Menghangatkan Hati

Temukan rekomendasi buku anak dengan kisah hangat dan menyentuh seperti kisah film Na Willa. Sarat akan makna kehidupan, penuh imajinasi, dan pesan moral.

Suka Film Na Willa? Ini 10 Buku Anak yang Menghangatkan Hati
Film Na Willa. youtube.Visinema
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Film Na Willa menjadi salah satu karya yang cocok ditonton oleh anak-anak maupun orang dewasa. Jika suka dengan cerita-cerita seperti Na Willa, terdapat beberapa rekomendasi buku dengan kisah hangat dan menyentuh yang cocok dibaca oleh siapa saja.

Na Willa merupakan film yang resmi dirilis pada 18 Maret 2026 dan diangkat dari novel berjudul sama karya Reda Gaudiamo. Berlatar tahun 1960-an, film garapan Ryan Adriandhy ini mengisahkan gadis berusia enam tahun bernama Na Willa yang tinggal di Gang Krembangan, Surabaya.

Hari-hari Willa dipenuhi petualangan sederhana bersama ketiga temannya. Namun, ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan teman-temannya yang lain mulai masuk sekolah, Willa mulai merasa kesepian.

Saat memutuskan untuk ikut bersekolah, Willa justru dihadapkan pada lingkungan baru yang terasa asing, tapi perlahan-lahan membuatnya belajar untuk tumbuh dan menemukan keajaiban-keajaiban lain.

Film ini berfokus pada pengalaman-pengalaman sederhana yang dekat dengan keseharian anak-anak. Melalui konflik yang mungkin terasa sangat kompleks bagi anak kecil, Na Willa membawa sebuah cerita sarat makna sekaligus reflektif, bahkan bagi para penonton dewasa.

10 Rekomendasi Buku Anak yang Penuh Kehangatan

Jika suka dengan cerita-cerita sederhana yang mampu menghadirkan perasaan hangat, penuh kasih sayang, dan sarat dengan nilai-nilai positif seperti film Na Willa, berikut beberapa rekomendasi buku yang bisa dibaca:

1. The Little Prince - Antoine de Saint-Exupery

The Little Prince
The Little Prince. FOTO/Wikipedia

The Little Prince mengisahkan pilot yang terdampar di Gurun Sahara setelah pesawatnya jatuh, lalu bertemu dengan anak misterius yang menyebut dirinya The Little Prince atau Pangeran Kecil.

Anak ini ternyata berasal dari asteroid B 612, tempat ia membersihkan gunung berapi dan merawat sebuah mawar yang sangat ia cintai. Pangeran Kecil kemudian mulai menjelajahi berbagai planet dan bertemu orang-orang dewasa dengan perilaku aneh.

Sampai di Bumi, ia belajar pelajaran penting tentang cinta dan tanggung jawab, terutama melalui pertemuannya dengan seekor rubah yang mengajarinya bahwa sesuatu menjadi berharga karena waktu dan kasih sayang yang kita berikan.

The Little Prince yang terbit tahun 1943 ini mengangkat makna tentang kesepian, persahabatan, cinta, dan kehilangan. Buku ini menyoroti cara pandang orang dewasa yang sering kehilangan imajinasi dan makna hidup, tapi dikemas dalam gaya sederhana layaknya buku anak-anak.

2. Aku, Meps, dan Beps - Reda Gaudiamo dan Soca Sobitha

Buku Aku, Meps, dan Beps yang rilis tahun 2016 ini diceritakan dari sudut pandang seorang anak yang menggambarkan kesehariannya bersama kedua orang tuanya, yang ia panggil dengan sebutan unik, yaitu Meps dan Beps.

Ia melihat mereka sebagai sosok yang penuh warna, punya kelebihan sekaligus kekurangan seperti orang tua pada umumnya. Meps digambarkan sebagai ibu pekerja keras, tapi memiliki keterbatasan seperti tidak bisa mengemudi atau bermain kartu.

Sementara itu, Beps tampil sebagai sosok ayah yang lebih santai dan serba bisa, pandai mengemudi, bermain kartu, hingga membuat perabot rumah. Ia juga sering mengajak anaknya pergi, seperti menjemput Meps atau sekadar mampir makan, yang menjadi momen paling membahagiakan bagi si anak.

Meski terkadang pelupa dan suka membuat Meps kesal, Beps tetap menjadi figur hangat dalam keluarga. Melalui cerita sederhan, buku ini menghadirkan potret hubungan orang tua dan anak yang hangat, jujur, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

3. Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela - Tetsuko Kuroyanagi

Diterbitkan tahun 1981, buku ini berkisah tentang Totto-chan yang memiliki rasa keingintahuan tinggi, tapi justru dianggap nakal dan dikeluarkan dari sekolah. Ibunya kemudian membawanya ke sekolah baru, Tomoe Gakuen, yang dipimpin Pak Kobayashi.

Di sana, Totto-chan menemukan lingkungan belajar yang bebas dan menyenangkan, tempat ia bisa berekspresi, berteman dengan beragam anak, serta belajar melalui cara-cara yang unik dan sesuai dengan kebutuhan setiap murid.

Seiring waktu, Totto-chan menjalani hari-hari bahagia di sekolah tanpa sepenuhnya menyadari situasi dunia yang sedang dilanda perang. Perlahan, tanda-tanda kesulitan mulai terasa, hingga akhirnya sekolah tersebut hancur akibat pengeboman dalam Perang Dunia II.

Meski begitu, kenangan indah di Tomoe Gakuen dan sosok Pak Kobayashi tetap membekas, meninggalkan pesan tentang pentingnya pendidikan yang menghargai keunikan setiap anak.

4. Na Willa: Serial Catatan Kemarin - Reda Gaudiamo

Na Willa
Na Willa: Serial Catatan Kemarin. FOTO/iStimewa

Penggemar film Na Willa tentunya tidak boleh melewatkan versi novelnya yang berjudul Na Willa: Serial Catatan Kemarin yang terbit 2012 lalu. Buku ini berkisah tentang kehidupan gadis kecil bernama Na Willa yang tinggal di sebuah gang sederhana di Surabaya.

Melalui sudut pandangnya yang lugu dan penuh rasa ingin tahu, hal-hal kecil dalam keseharian–seperti pergi ke pasar bersama ibunya, bermain dengan teman, hingga bertanya-tanya tentang dunia di sekitarnya–terasa begitu hidup dan bermakna.

Cerita-cerita ini disajikan dalam bentuk catatan ringan yang hangat, dibalut nuansa nostalgia masa lalu dengan detail-detail khas, menjadikan pengalaman membaca terasa intim seperti mendengar cerita langsung dari seorang anak.

Buku ini menghadirkan refleksi emosional yang mendalam. Didukung ilustrasi yang memperkuat karakter Na Willa, buku ini menjadi karya yang hangat, penuh tawa dan haru, sekaligus pengingat bahwa masa kecil menyimpan makna yang dalam dan tak terlupakan.

5. Anne of Green Gables - L. M. Montgomery

Novel yang dirilis tahun 1908 ini mengisahkan Anne Shirley, anak yatim piatu yang secara tidak sengaja dikirim untuk tinggal bersama Marilla dan Matthew Cuthbert di Green Gables.

Awalnya, Marilla dan Matthew berniat mengadopsi anak laki-laki untuk membantu di ladang, tapi kehadiran Anne yang imajinatif, cerewet, dan penuh semangat perlahan mengubah kehidupan mereka.

Meski sempat diragukan, Anne akhirnya diterima dan menemukan rumah sejati untuk pertama kalinya, sambil menjalani kehidupan di desa Avonlea dengan penuh warna.

Seiring waktu, Anne tumbuh melalui berbagai pengalaman, dari persahabatan erat dengan Diana, persaingan dengan Gilbert, hingga berbagai kejadian lucu dan kesalahan khas masa kecilnya. Ia juga menunjukkan prestasi akademis yang gemilang dan bercita-cita melanjutkan pendidikan.

Namun, ketika Matthew meninggal dan kondisi Marilla memburuk, Anne memilih mengorbankan mimpinya demi tetap tinggal dan merawat keluarga yang telah memberinya kasih sayang. Kisah ini menggambarkan perjalanan tumbuh dewasa yang hangat, penuh cinta, dan pengorbanan.

6. Twenty Four Eyes - Sakae Tsuboi

Twenty Four Eyes merupakan novel Jepang yang terbit tahun 1952 dan berisi kisah hangat sekaligus mengharukan tentang kehidupan sekolah di masa lalu, khususnya ketika pendidikan masih sangat sederhana dan penuh tantangan.

Cerita berpusat pada Bu Guru Oishi yang mengajar di sebuah desa nelayan miskin dengan dua belas murid, tujuh perempuan dan lima laki-laki. Melalui keseharian mereka, pembaca diajak melihat bagaimana anak-anak tetap bersemangat belajar di tengah keterbatasan alam dan kondisi hidup yang tidak mudah.

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Bu Oishi dan murid-muridnya semakin erat, dipenuhi kasih sayang dan momen-momen sederhana yang membekas. Namun, kebahagiaan itu perlahan terguncang oleh perubahan zaman dan bayang-bayang perang yang membawa kesedihan serta kehilangan.

7. Gongka - Frisca Saputra

Gongka yang terbit tahun 2024 merupakan buku yang menceritakan kisah masa kecil sang penulis, dituturkan dalam sudut pandang anak, serta berlatar kehidupan keluarga Tionghoa sederhana di kawasan Pecinan, Jakarta Barat.

Buku ini menggambarkan keseharian gadis kecil yang tumbuh di gang sempit bersama keluarganya yang hangat dan penuh kebersamaan di era tahun 1980-an.

Melalui cerita-cerita ringan, pembaca diajak melihat bagaimana kehidupan keluarga yang bekerja keras demi bertahan hidup, mulai dari membuat kue, memasak, hingga menjadikan rumah sebagai tempat usaha.

Selain menghadirkan potret keluarga, kisah ini juga menggambarkan kehidupan sosial di lingkungan multikultural yang penuh warna. Permainan anak-anak, interaksi dengan teman-teman, hingga kebiasaan sederhana sehari-hari diceritakan dengan gaya lugu dan mengalir.

Di balik kesederhanaannya, buku ini menyimpan pesan tentang kerja keras, kebersamaan, dan kebahagiaan yang lahir dari hal-hal kecil dalam kehidupan.

Ilustrasi Buku Anak

Ilustrasi Buku Anak. foto/istockphoto

8. Ramona and Beezus - Beverly Cleary

Buku yang pertama kali terbit tahun 1955 ini mengisahkan Beezus Quimby, seorang gadis berusia 9 tahun yang sering merasa kesal dengan adiknya, Ramona, yang penuh imajinasi dan kerap bertingkah aneh.

Ramona sering membuat kekacauan, mulai dari berulah di kelas, mengganggu kegiatan kakaknya, hingga melakukan hal-hal yang membuat Beezus malu atau marah. Hal ini membuat hubungan mereka terasa penuh konflik, terutama bagi Beezus yang menginginkan ketenangan dan keteraturan.

Meski demikian, di balik rasa jengkel, Beezus juga dihantui perasaan bersalah karena tidak selalu bisa menyayangi adiknya dengan sabar. Hingga pada suatu momen penting, ia mulai memahami bahwa hubungan saudara memang tidak selalu mudah.

Ia belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti selalu menyukainya setiap saat. Kisah ini menggambarkan dinamika kakak-adik yang realistis, hangat, dan penuh pembelajaran tentang penerimaan dalam keluarga.

9. Heidi - Johanna Spyri

Buku fiksi yang terbit sekitar tahun 1880–1881 ini mengisahkan seorang gadis kecil yatim piatu bernama Heidi yang dibawa tinggal bersama kakeknya, Paman Alm, di pegunungan Alpen. Sang kakek dikenal sebagai sosok tertutup dan pemarah, tapi keceriaan dan kepolosan Heidi mengubah segalanya.

Di sana, Heidi menjalani kehidupan sederhana yang penuh kebahagiaan, berteman dengan Peter si penggembala kambing dan neneknya, serta menikmati alam yang bebas. Kehadirannya tidak hanya membawa kehangatan bagi sang kakek, tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Namun, kehidupan Heidi berubah ketika ia dibawa ke Frankfurt untuk menemani Klara, gadis kaya yang tidak bisa berjalan. Meski menjadi sahabat dekat, Heidi merasa tertekan dengan aturan kota dan sangat merindukan pegunungan.

Heidi adalah kisah klasik yang menyentuh tentang ketulusan hati seorang anak dalam menghadapi perubahan hidup. Kisah Heidi bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga diperuntukkan bagi mereka yang mencintai anak-anak.

10. Little House in the Big Woods - Laura Ingalls Wilder

Little House in the Big Woods merupakan novel klasik yang mengisahkan masa kecil Laura yang tinggal bersama keluarganya di hutan Wisconsin, dengan kehidupan sederhana yang sangat bergantung pada kerja keras dan kondisi alam.

Sehari-hari, Laura membantu orang tuanya melakukan berbagai pekerjaan seperti mengumpulkan kayu, mengolah makanan, hingga mempersiapkan persediaan untuk musim dingin. Meski sangat sibuk, kehidupan mereka tetap diwarnai kebersamaan dan kebahagiaan dalam hal-hal kecil.

Setiap musim membawa tantangan sekaligus keindahannya sendiri, dari panen di musim gugur hingga membuat sirup maple saat musim dingin. Keluarga Ingalls juga menikmati momen hangat seperti perayaan Natal, berkumpul dengan keluarga besar, dan menari diiringi permainan biola sang ayah.

Melalui kisah ini, pembaca diajak merasakan kehangatan keluarga, kemandirian, serta cara menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang sangat sederhana.

Ilustrasi Buku Anak

Ilustrasi Buku Anak. foto/istockphoto

Itu dia beberapa rekomendasi buku anak dengan kisah hangat dan menyentuh seperti cerita film Na Willa. Setiap cerita menghadirkan potret hubungan keluarga, sahabat, atau orang-orang terkasih yang tampak sederhana, tapi sangat bermakna.

Buku-buku ini bukan hanya cocok untuk anak-anak, tapi juga mampu membawa pembaca dewasa kembali mengenang masa kecil, menyadarkan mereka bahwa ada keajaiban dan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.

Temukan berbagai informasi menarik seputar buku, mulai dari sinopsis hingga rekomendasi bacaan, melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel tentang Buku

Baca juga artikel terkait NOVEL atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani