Menuju konten utama
Byte

Sinyal WiFi pun Ternyata Bisa Jadi "Cepu"

Sinyal WiFi adalah cara instan kita bisa diintai atau dicuri datanya oleh peretas. Tidak. Bahkan orang biasa bisa melakukannya sebab caranya kelewat mudah.

Sinyal WiFi pun Ternyata Bisa Jadi
Ilustrasi Keamanan Jaringan Nirkabel. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keberadaannya begitu penting dalam kehidupan modern, tetapi wujudnya lebih sering diabaikan. Paling-paling, perangkatnya disentuh ketika koneksi internet mulai lemot sehingga jurus "matikan, tunggu sebentar, lalu nyalakan kembali" harus dilancarkan. Begitulah ruter WiFi, perangkat yang bertanggung jawab atas konektivitas miliaran orang di dunia.

Ruter WiFi bisa jadi merupakan salah satu perangkat paling krusial yang ada saat ini, mengingat banyaknya aktivitas serta pekerjaan yang musykil, kalau tidak bisa disebut mustahil, dilakukan tanpanya. Akan tetapi, di balik peran krusial tersebut, ruter WiFi juga diam-diam menyimpan bahaya.

Di sini kita tidak bicara soal radiasi atau risiko korsleting, melainkan fakta bahwa sinyal tak kasat mata yang dipancarkan ruter WiFi bisa digunakan untuk keperluan pengintaian dan pengawasan. Sebab, berkat keberadaan ruter WiFi di rumah-rumah, seseorang bisa dikenali dengan akurasi tinggi hanya dari belokan dan pantulan gelombang radionya di dalam ruangan. Dan, itu bisa dilakukan tanpa perangkat yang canggih dan mahal.

Bagaimana Ruter WiFi Jadi Alat Sadap?

Temuan itu diungkapkan sekelompok peneliti di Jerman, yakni dari KASTEL Security Research Labs milik Institut Teknologi Karlsruhe (KIT), yang dipimpin Julian Todt, Felix Morsbach, dan Thorsten Strufe. Mereka merekam data WiFi dari 197 partisipan yang berjalan melewati jaringan WiFi dengan berbagai gaya jalan dan sudut pandang berbeda, lalu melatih model pembelajaran mesin untuk mengenali identitas masing-masing orang hanya dari pola sinyal itu.

Hasilnya, sistem buatan mereka mampu mengidentifikasi orang dengan akurasi nyaris sempurna (99,5 persen). Kemampuan identifikasi itu pun tetap konsisten meski partisipan studi berjalan dari sudut berbeda atau dengan cara berjalan berubah-ubah.

Temuan tersebut sebenarnya bukanlah yang pertama. Namun, boleh jadi, itulah yang paling mengerikan. Pasalnya, tim KIT tidak menggunakan Channel State Information (CSI), metode lama yang butuh firmware khusus dan kartu jaringan tertentu seperti Intel 5300. Mereka hanya menggunakan Beamforming Feedback Information (BFI), yaitu sinyal balik yang dikirim segala perangkat kembali ke ruter setiap kali jaringan menyesuaikan arah sinyal. Sinyal tersebut dikirim tanpa enkripsi apa pun lewat udara.

Beamforming merupakan fitur yang mulai ada sejak WiFi generasi kelima (standar 802.11ac) untuk membuat koneksi lebih cepat dan stabil dengan mengarahkan sinyal langsung ke perangkat penerima.

Supaya ruter tahu ke arah mana harus mengarahkan sinyal, perangkat seperti ponsel atau laptop terus-menerus melaporkan balik kondisi ruangan di sekitarnya. Nah, laporan balik itulah yang disebut BFI. Karena tubuh manusia memantulkan gelombang radio secara khas, tergantung bentuk tubuh dan cara berjalan, pola dalam laporan itu jadi seunik sidik jari.

Untuk menyadap BFI, menurut Todt, Morsbach, dan Strufe, seseorang tidak memerlukan perangkat keras khusus. Siapa pun dengan perangkat WiFi biasa yang disetel ke mode monitor bisa membaca BFI karena data tersebut memang tersedia secara terbuka. Satu perangkat penyadap pasif bahkan bisa merekam sinyal dari banyak sudut pandang sekaligus, selama masih berada dalam jangkauan jaringan tersebut.

Hasil temuan tersebut dipresentasikan dalam ACM Conference on Computer and Communications Security (CCS) di Taipei, Taiwan, 13-17 Oktober 2025. Itu juga menjadi studi identifikasi manusia lewat sinyal WiFi dengan jumlah partisipan terbesar yang pernah tercatat sejauh ini.

Sudah Sejak Lama WiFi Jadi Biang Pengintaian

Mari kita mundur satu dasawarsa ke belakang, ketika Neal Patwari, yang kini menjadi profesor di Washington University di St. Louis, berbaring di ranjang rumah sakit dikelilingi 20 transceiver nirkabel sambil mengatur ritme napasnya. Ia ingin membuktikan bahwa riak gelombang elektromagnetik di sekitar tubuhnya bisa mengungkap pola napas seseorang. Eksperimen itu pun berhasil, sebagaimana dikisahkan dalam MIT Technology Review.

Tak lama setelah itu, sekelompok periset MIT membangun perusahaan rintisan. Ide dasarnya adalah memanfaatkan sinyal WiFi untuk mendeteksi manula yang terjatuh di rumah. Pada 2015, prototipe mereka bahkan sampai didemonstrasikan di Ruang Oval Gedung Putih dan mendapat pujian dari Obama.

Riset akademik soal itu terus berkembang sepanjang dekade berikutnya. Kebanyakan memakai metode CSI. Tinjauan komprehensif yang terbit di jurnal Sensors pada 2024 merangkum puluhan di antaranya, mulai dari yang menganalisis gaya berjalan, gerakan tangan, hingga pola napas untuk mengenali identitas seseorang lewat sinyal WiFi.

Banyak studi yang level akurasinya telah mencapai lebih dari 90 persen. Hanya saja, kebanyakan punya kelemahan mencolok: jumlah partisipannya kecil, sering kali di bawah 50 orang, sehingga sulit dipastikan apakah metodenya benar-benar bisa diterapkan di skala kota atau gedung perkantoran sungguhan.

Studi terbaru dari KIT itulah yang akhirnya menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus membuktikan bahwa metode BFI yang lebih mudah justru menghasilkan akurasi identifikasi lebih tinggi dibanding CSI.

Ilustrasi Keamanan Jaringan Nirkabel

Ilustrasi Keamanan Jaringan Nirkabel. FOTO/iStockphoto

Kemampuan WiFi untuk mengidentifikasi manusia tidak berhenti di sekadar mengenali identitas lewat gaya jalan.

Pada akhir 2022, peneliti Carnegie Mellon University memublikasikan sistem bernama DensePose from WiFi, yang memakai tiga pemancar dan tiga penerima WiFi biasa untuk merekonstruksi peta pose tubuh manusia secara detail, lengkap dengan bentuk anggota tubuh, meski orang tersebut terhalang perabot atau berada di ruangan gelap. Akurasinya memang belum menyamai sistem berbasis kamera sungguhan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa sinyal WiFi dapat membaca postur tubuh manusia secara mendetail.

Namun, masalahnya bukan cuma deteksi postur dan gerak tubuh penghuni rumah yang menggunakan WiFi. Ancaman dari orang luar juga sangat berbahaya.

Pada 2019, tim peneliti dari University of Chicago dan University of California (UCSB) pimpinan Heather Zheng dan Ben Zhao menunjukkan, aktor jahat di luar rumah atau kantor bisa memakai penerima WiFi murah untuk mengubah perangkat pintar di dalam rumah orang lain, seperti kamera keamanan atau sepiker pintar, menjadi sensor gerak.

Yang membuat isu itu makin relevan sekarang adalah kenyataan bahwa teknologi deteksi dengan WiFi ini sudah dipasarkan secara luas oleh berbagai penyedia layanan seperti Comcast dan Deutsche Telekom.

Tak cuma itu, ruter Verizon Fios generasi terbaru sudah menyematkan fitur human presence detection, bawaan dari perusahaan bernama Origin Wireless. Sementara itu, perusahaan lain, Cognitive Systems, sudah bekerja sama dengan lebih dari 160 penyedia layanan internet dan berencana membawa teknologi serupa ke perangkat smart plug murah yang dijual di Amazon. Diperkirakan, teknologi macam itu sudah terpasang di 30 juta rumah di seluruh dunia.

Tujuannya aslinya, sih, bagus. Alat itu bisa mengawasi anggota keluarga yang sudah tua, menginformasikan apabila ada aktivitas yang tak seharusnya di dalam rumah alias ada maling, sekaligus jadi prasarana otomasi perangkat-perangkat rumah pintar.

Namun, sekali lagi, penjahat selalu ada. Para ilmuwan KIT juga mengeluhkan ketiadaan aturan privasi dalam standar WiFi terbaru itu.

Daniel Kahn Gillmor, teknolog dari ACLU, mengatakan kepada MIT Technology Review, ada risiko penyalahgunaan oleh aparat penegak hukum, mengingat sudah banyak preseden penyalahgunaan wewenang serupa di masa lalu. Menurutnya, teknologi ini bisa dimanfaatkan rezim otoriter untuk memberangus aktivisme.

Palak Shah dari National Domestic Workers Alliance di Amerika Serikat menambahkan perspektif lain yang lebih rumit. Teknologi ini sebenarnya berpotensi membantu pekerja rumah tangga membuktikan kehadiran mereka di tempat kerja untuk mencegah kasus pencurian upah. Namun, pada praktiknya, data semacam ini justru lebih sering dipakai melawan kepentingan pekerja ketimbang membelanya. Bahkan, dokumentasi resmi Xfinity sudah menyatakan bahwa data dari fitur Wi-Fi Motion bisa diserahkan ke kepolisian atau pihak ketiga lain dalam proses hukum.

Sedikit Pelipur Lara

Di level kebijakan, seruan paling jelas datang langsung dari tim peneliti KIT. Mereka mendesak agar badan standardisasi IEEE menyisipkan perlindungan privasi yang efektif ke dalam standar 802.11bf, atau kalau perlu meninjau ulang seluruh pendekatan beamforming.

Pemerintah dan regulator telekomunikasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, idealnya juga mulai memikirkan regulasi soal itu, mulai dari kewajiban pemberitahuan kepada konsumen ketika jaringan WiFi memiliki fitur pendeteksi aktif hingga batasan tegas soal pihak yang boleh menerima data semacam itu.

Di level teknis, para peneliti dari UChicago dan UCSB sebenarnya sudah mengusulkan satu bentuk pertahanan yang cukup menjanjikan, yaitu membuat access point secara aktif menyisipkan sinyal "gangguan" palsu di antara sinyal asli perangkat yang terhubung.

Dalam pengujian para peneliti, trik itu berhasil menjatuhkan tingkat keberhasilan deteksi aktor jahat dari hampir 100 persen menjadi sekitar 47 persen, sekaligus menaikkan tingkat kesalahan deteksi menjadi sekitar 50 persen. Sayangnya, teknik tersebut masih berupa purwarupa riset, belum diadopsi oleh produsen ruter.

Ilustrasi Keamanan Jaringan Nirkabel

Ilustrasi Keamanan Jaringan Nirkabel. FOTO/iStockphoto

Untuk kita sebagai individu, sayangnya belum ada solusi yang benar-benar sempurna. Sebab, sifat dasar ancaman tersebut adalah memanfaatkan sinyal yang memang perlu terus dipancarkan agar internet tetap berfungsi.

Yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi risiko. Kaspersky, misalnya, menyarankan membeli dan mengelola ruter sendiri ketimbang menyewa dari penyedia layanan internet, supaya kita punya kendali penuh. Langkah lainnya adalah menghubungkan perangkat yang jarang berpindah tempat memakai kabel eternet.

Satu hal yang penting diingat, dan ini yang membuat kasus WiFi berbeda dari kekhawatiran privasi digital pada umumnya, adalah bahwa mematikan perangkat tidak membuat seseorang serta merta aman. Selama masih ada perangkat WiFi lain yang aktif di sekitar, sinyal dari perangkat itu tetap bisa memantul dari tubuh dan terbaca oleh siapa pun.

Baca juga artikel terkait KEAMANAN DIGITAL atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin