Semburan Lumpur & Gas Beracun di Pekanbaru Berpotensi Terbakar

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana - 6 Februari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Semburan lumpur dan gas itu terjadi ketika pengelola Ponpes Al-Ihsan mempekerjakan orang untuk menggali sumur sedalam 119 meter.
tirto.id - Semburan lumpur dan gas terjadi di areal kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsan, Pekanbaru, Riau, Kamis (4/2/2021). Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau Indra Agus Lukman mengatakan, telah dibentuk tim terpadu untuk menanganinya. Setidaknya terdiri dari pemerintah daerah, SKK Migas Sumbagut, dan perusahaan gas EMP Bentul Ltd.

Sedangkan Act Area Manager EMP Bentu Ltd. Zulfan tengah mengukur konsentrasi Lower Explosive Limit (LEL) dan H2S di lokasi semburan.

"Gas tersebut berpotensi terbakar jika terpicu dan juga beracun," kata Zulfan seperti dikutip dari Antara, Sabtu (6/2/2021).

Semburan gas itu, kata Zulfan, tidak ada hubungannya dengan fasilitas dan sumur Gas EMP Bentu. Titik semburan gas berjarak 180 meter dari pipa gas EMP Bentu dan berjarak satu kilometer dari sumur gas EMP Bentu. Pengeboran terakhir pada tahun 2004 dan produksinya berakhir pada 2013.

"Berhubung lokasi tersebut tidak jauh dari EMP Bentu, maka pihak EMP Bentu sudah berkoordinasi dengan ESDM Provinsi Riau untuk membantu dengan melakukan tindakan," katanya.


Pihaknya telah menginstruksikan kepada pengelola Pondok Pesantren Al-Ihsan agar mengisolasi area semburan dan melarang siapapun mendekat, dan pihak EMP Bentu telah memasang barikade dan memonitor LEL dan H2S secara periodik per enam jam.

Areal kompleks Pondok Pesantren Al-Ihsan kini diselimuti lumpur, pasir dan abu berwarna kelabu. Bangunan utama seperti asrama santri, ruang guru, kantin, ruang kelas, dan aula rusak berat karena gumpalan lumpur yang mengeras terlontar dari sumur menghujam atap hingga berlubang. Tanah di sekitarnya juga penuh dengan lumpur yang lengket.

"Kira-kira setelah salat Isya pada Kamis malam, semburan semakin parah berupa gumpalan tanah besar-besar, seperti terjadi hujan batu suaranya sangat ribut. Karenanya gedung-gedung sampai rusak seperti ini," kata Khairudin.

Khairudin Damanik, seorang guru di Ponpes Al-Ihsan menjelaskan semburan lumpur dan gas itu, berawal ketika pengelola Ponpes Al-Ihsan mempekerjakan penggali sumur untuk mencari sumber air. Kecamatan Tenayan Raya merupakan daerah yang sulit mendapatkan sumber air dari sumur artesis, sehingga masyarakat di sana harus mengebor tanah hingga puluhan bahkan lebih dari 100 meter.

Saat proses penggalian mencapai sekitar 119 meter pada Kamis (4/2/2021) sekitar pukul 14.00 WIB, tiba-tiba dari lubang sumur menyembur keluar gas hingga ketinggian 15 meter.

Khairudin mengatakan awalnya semburan hanya berupa gas dan abu, namun pada malam hari juga terlontar berupa material keras yang menghancurkan bangunan Ponpes. Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Ihsan Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, telah diungsikan akibat semburan gas bumi tersebut.

"Semburan itu berlangsung sampai hampir tengah malam. Setelah itu mereda, dan pada Jumat subuh keluar pasir hitam dan paginya semburan gas telah bercampur lumpur," ujarnya.

Sedangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kini telah mendirikan posko jaga di lokasi semburan gas dan lumpur itu.

"Di pos jaga tersebut kini kami juga meminta bantuan dari perusahaan gas terkait untuk membantu menangani permasalahan semburan gas dan lumpur itu," kata Gubernur Riau Syamsuar.

Baca juga artikel terkait SEMBURAN LUMPUR DAN GAS PEKANBARU atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
DarkLight