Sejarah Panti Asuhan adalah Sejarah Anak-Anak Serdadu

Ilustrasi Parapattan Orphan Asylum zaman dahulu. FOTO/parapattan.org
Oleh: Petrik Matanasi - 27 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Awal sejarah panti asuhan di Indonesia adalah tempat penampungan anak-anak berdarah Indo.
Seorang serdadu yang mabuk datang kepada Johannes van de Steur yang belum lama tinggal di kota tangsi KNIL, Magelang. Sebagai misionaris, Johannes memang harus melayani kebutuhan rohani serdadu-serdadu KNIL itu.

Serdadu mabuk itu pun ngoceh soal meninggalnya seorang sersan yang meninggalkan empat orang anak dan seorang perempuan pribumi. Serdadu itu tak lupa menekan Johannes, bahwa jika ia betul-betul taat beragama, maka ia harus memperlihatkannya dengan bersikap pada situasi anak yatim itu.

Johannes tak langsung terbakar oleh kata-kata serdadu mabuk itu. Ia tetap bersikap tenang. Kebijaksanaan ia perlihatkan kepada serdadu mabuk itu.

“Tenangkan dirimu dan bawa aku kesana,” kata Johannes.

Baca juga: Misionaris Kristen yang Terbunuh di Toraja

Setelah menemui anak dan perempuan itu, keesokan harinya Johannes sudah menyiapkan rumah bambu untuk ditempati. Dan dalam dua bulan, isi rumah bambu itu bertambah menjadi 14 orang.

Sejak 1893 itu, berdirilah panti asuhan yang isinya adalah anak-anak serdadu yang tak jelas orang tuanya. Setelah 10 tahun, pada 1903, jumlah anak di panti asuhan mencapai 350 anak.

Anak-anak yatim itu -- yang sebagian di antaranya berdarah pribumi -- merasakan kehangatan dan kasih sayang Johannes. Suatu hari mereka bersepakat memanggilnya: "Pa".

“Kami akan memanggil kamu "Pa", supaya kami punya seorang ayah lagi,” kata salah seorang anak.

Belakangan, Johannes dikenal sebagai Pa van der Steur. Begitulah kisah singkat Pa van der Steur membangun panti asuhan.

Ketika Johannes yang punya banyak anak asuh itu hendak menikahi Anna Maria Zwager, ia pun memikirkan betul nasib anak-anak asuhnya. Maka ia pun bertanya pada calon istrinya itu: “Anne, bersediakah kamu menjadi ibu dari anak-anak saya?”

Baca laporan khusus tentang kehidupan di panti asuhan:

Menjadi Berarti Meski Hidup dari Panti ke Panti

Mereka yang Lahir Lalu Dibuang
Ragam Kisah Anak-Anak Panti


Dalam novel Burung-Burung Manyar yang mengambil salah satu latarnya di Magelang zaman kolonial, Romo Mangunwijaya menyinggung panti asuhan itu sebagai "Padesturan". Mangun menggambarkan bagaimana anak-anak yang diurus dan disekolahkan itu biasanya berwatak keras kepala.

Pada tahun yang sama dengan dimulainya panti asuhan yang dibangun Johannes yang merupakan pendeta Kristen Protestan, ada juga panti asuhan lain yang didirikan. Pada 1893, di Gang Kwini (Jalan Kwini), Pastor van Santen yang Katolik membuka panti asuhan St Joseph.

Di Jakarta, selain St Joseph dari misionaris Katolik, ada juga panti asuhan St Vincentius. Menurut Laporan Koloniaal Verslag van Nederlandsch Oost Indische 1895, seperti dikutip buku Suka Duka di Djawa Tempo Doeloe (2013) susunan Oliver Johannes Raaf, di panti asuhan St Vincentius pada 1894 tinggal 78 putri dan 31 putra.

Di Jakarta sendiri, menurut Th Stevens dalam Tarekat Mason Bebas dan masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia (2004), sejak 1854 ada panti asuhan Lembaga Djati. Pendirinya adalah Emmanuel Francis yang pernah menjadi Direktur De Javaasche Bank. Menurut Philibert Dabry de Thiersant seperti dikutip dalam buku KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Perancis (2016), di Gombong, kota tangsi militer KNIL yang lain, sejak 1848 juga sudah ada panti Pupillenkorps.

Baca juga: Patung dan Estetika Tangsi

Dari sekian panti asuhan tadi, yang tertua adalah Parapattan Orphan Asylum. Didirikan oleh Walter Henry Medhurst, seorang Inggris, pada 17 Oktober 1832. Menurut Ulbe Bosma dan Remco Raben dalam Being "Dutch" in the Indies: A History of Creolisation and Empire, 1500-1920 (2008), Parapattan adalah panti asuhan pertama di Hindia Belanda. Henry sendiri adalah seorang misionaris dari London Missionary Society.



Gubernur Jenderal van den Bosch adalah orang yang merestui panti asuhan yang semula dinamai The English Orphan Asylum ini. Semula berlokasi di Jalan Parapattan Kwitang, lalu sempat pindah ke Jalan Veteran sejak 1846.

Gedungnya di Jalan Veteran lalu dijadikan Gedung Lembaga Administrasi Negara, sementara panti asuhan dipindahkan ke Jalan Otto Iskandardinata pada 1958. Setelah sempat bernama Parapattan Weezengesticht, lembaga ini lalu dinamai Yayasan Panti Asuha Parapattan dan sejak 2000 hanya bernama Yayasan Parapattan.

Selain Parapattan, di pusat kota Jakarta penah ada panti asuhan yang dikelola Dewan Diakon Gereja Reformasi. Menurut catatan Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016), setelah membeli bangunan yang pernah dikenal sebagai Gedung Arsip di Jalan Gajah Mada dari Leendert Miero, gedung itu dikelola gereja sebagai panti asuhan sejak 1844 hingga 1901.

Menurut Philibert Dabry, Pupillenkorps kebanyakan dihuni anak-anak serdadu berdarah Indo hasil kawin silang dengan perempuan-perempuan pribumi. Mereka hidup layaknya serdadu. Tiap bulan dapat tunjangan 25 gulden. Jika sudah 19 tahun mereka bisa masuk jadi serdadu KNIL. Kehidupan mereka tak jauh beda dengan anak-anak kolong di tangsi-tangsi KNIL lainnya.

Baca Juga: Kenakalan Anak Kolong dan Sejarahnya

Status mereka sebagai anak hasil kawin campur membuat nasib mereka terjeput. Dianggap pribumi bukan, tapi oleh orang Eropa juga tidak dianggap. Mereka susah hidup di kampung karena ada larangan anak-anak Indo dari kalangan pejabat Belanda. Akhirnya banyak anak-anak Indo yang tak diurus ayah Eropa mereka ini juga sulit diurus ibunya (baca juga: Orang-Orang Indo di Kancah Pergerakan).

Panti asuhan akhirnya menjadi solusi. Di sana mereka disekolahkan, meski hanya sekolah dasar. Setidaknya itu memberikan modal dasar bagi mereka meniti kehidupan di masa depan. Seorang lulusan SD di masa lalu sudah bisa menjadi serdadu, bahkan bisa berpangkat sersan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight