Menuju konten utama
Van de Loosdrecht (1885-1917)

Misionaris Kristen Dibunuh di Tana Toraja

Antonie Aris van De Loosdrecht adalah relawan misionaris Kristen pertama di Tana Toraja. Ia meninggal dunia setelah ditombak oleh sekelompok orang dalam perjalanan misi tersebut.

Misionaris Kristen Dibunuh di Tana Toraja
Antonie Aris van de Loosdrecht di tengah masyarakat Tana Toraja. FOTO/Istimewa

tirto.id - Darahnya memang Belanda tulen. Namun, Antonie Aris van De Loosdrecht tidak selalu sepakat dengan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang masih berkuasa di Indonesia pada perjalanan abad ke-20 itu. Ia tak segan-segan mengkritisi bahkan mengecam tindakan yang pemerintah yang menurutnya sewenang-wenang.

Antonie Aris van De Loosdrecht adalah relawan misionaris Kristen pertama di Tana Toraja yang bertugas sejak 1913 (H.M. Ghozi Badrie, Aluk Todolo dan Tradisi Simpan Mayat di Tana Toraja, 1997:34). Namun, pengabdiannya di Sulawesi Selatan hanya berlangsung selama 4 tahun saja. Tanggal 26 Juli 1917 atau tepat seabad silam, van de Loosdrecht tewas ditombak oleh sekelompok orang yang tidak suka kepadanya.

Mengkritisi Pemerintah Kolonial

Pada Januari 1914, van De Loosdrecht menulis surat kepada Pengurus Perhimpunan Pekabaran Injil Gereformeerd yang berpusat di Belanda. Dalam surat yang juga dimuat di majalah Alle den Volcke itu, ia membeberkan relasi antara pemerintah kolonial dengan zending (lembaga misionaris) di Tana Toraja yang tidak selalu selaras.

Van de Loosdrecht rupanya tidak setuju dengan tindakan aparat kolonial terhadap agama lokal (agama suku) yang masih banyak dianut oleh masyarakat Tana Toraja kala itu. Ia melihat, pemerintah dengan segala cara membasmi agama lokal sampai ke akar-akarnya, termasuk berbagai macam ritualnya (Safwan & Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Sulawesi Selatan, 1980:66).

Pemerintah kolonial, tulis van de Loosdrecht, tidak membuka ruang diskusi untuk membicarakan masalah secara baik-baik. Sebaliknya, aparat sering menangkap orang-orang dengan tuduhan sebagai penyihir hanya karena melakukan ritual sesuai dengan ajaran yang mereka yakini (Terance W. Bigalke, Tana Toraja: A Social History of an Indonesian People, 2005:98).

Van de Loosdrecht tidak cocok dengan cara-cara represif semacam itu. Gaya misionarisnya dalam menyebarkan ajaran Kristen di Tana Toraja barangkali hampir sama dengan syiar Islam yang pernah dilakukan Wali Songo di Jawa pada abad ke-14 silam.

Bukan jalan kekerasan dan pemaksaan, melainkan berusaha membaur, merangkul, juga menyesuaikan diri dengan kearifan lokal yang sudah ada sebelumnya, sembari menanamkan nilai-nilai ajaran agama yang dibawa oleh para pendakwah. Dan faktanya, Indonesia kini menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Gaya Wali Songo Ala Kristen

Lantas, apa saja yang dilakukan Antonie Aris van De Loosdrecht dalam upayanya menebarkan misi Kristen di Tana Toraja dan sekitarnya?

Seperti dikisahkan dalam buku Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja Toraja 1901-1961 karya Th. van den End (1994), yang pertamakali van de Loosdrecht setelah menginjakkan kaki di Tana Toraja pada 10 November 1913 adalah mendekati para ketua adat dengan nuansa keakraban. Ia mengajak tokoh-tokoh adat itu mengobrol santai sambil mengisap rokok atau menyeruput minuman hangat bersama.

Hal-hal yang diperbincangkan pun tidak terlalu serius. Van de Loosdrecht memantik pembicaraan tentang suasana keseharian penduduk Tana Toraja. Sesekali ia gantian bercerita tentang kehidupannya semasa di Belanda, dan menyelipkan kisah-kisah menarik yang termaktub dalam Alkitab.

Saat menceritakan tentang kisah Adam dan Eva (Hawa), misalnya, van de Loosdrecht menyebut bahwa manusia pada dasarnya berasal dari leluhur yang sama sehingga memiliki Tuhan yang sama pula. Gaya bertuturnya yang lembut dan bersahabat secara perlahan namun pasti mulai membuat orang-orang tertarik.

Di kesempatan lainnya, van de Loosdrecht membawa murid-muridnya pergi ke pasar. Saat itu dalam masyarakat Tana Toraja masih berlaku hari pasaran, yakni hari-hari tertentu di mana ratusan orang tumpah-ruah di suatu pasar tradisional. Nah, van de Loosdrecht memimpin murid-muridnya yang rata-rata masih berusia bocah, berbaris sembari bernyanyi riang di pasar untuk menarik perhatian banyak orang (Van den End, 1994).

Setelah itu, murid-murid van de Loosdrecht menggelar berbagai atraksi menarik yang membuat orang berkumpul untuk menontonnya. Setelah pertunjukan selesai, giliran van de Loosdrecht yang tampil dan bercerita tentang kisah-kisah menarik dalam Alkitab di depan ratusan orang tersebut. Dampaknya cukup signifikan dan membuat semakin banyak orang yang ingin mendalami ajaran Kristen.

infografik antonie aris

Akhir Miris Sang Misionaris

Antonie Aris van De Loosdrecht lahir di Veenendaal, Belanda, 21 Maret 1885. Ia mulai tertarik untuk menjadi relawan pengabar injil di Hindia Belanda, tepatnya di Tana Toraja, setelah membaca artikel di majalah Alle den Volcke yang merupakan media milik De Gereformeerde Zendingsbond (GZB) atau Perhimpunan Pekabaran Injil Gereformeerd.

Setelah melalui berbagai tahapan termasuk pendalaman agama selama beberapa tahun lamanya, van De Loosdrecht bersama istrinya akhirnya berangkat ke Hindia Belanda pada 5 September 1913 (J.A. Sarira, Benih yang Tumbuh: Gereja Toraja Rantepao, 1975:20).

Perjalanan van de Loosdrecht menuju Tana Toraja menempuh waktu yang cukup lama. Dari Rotterdam, mereka naik kereta api menuju Italia dan menumpang kapal S.S. Vondel (Anthonia A. van de Loodrecht, Dari Benih Terkecil, Tumbuh Menjadi Pohon, 2005). Kapal tersebut kemudian berlayar menuju Ceylon (Sri Lanka) sebelum merapat di pelabuhan Batavia pada 4 Oktober 1913.

Van de Loosdrecht akhirnya tiba di Tana Toraja pada 10 November 1913. Di sana, ia mendirikan sekolah zending pertama dengan jumlah murid awal sebanyak 78 anak (Th. van den End, Ragi Carita: 1860-sekarang, 1999:163). Beberapa bulan kemudian, dibangun lagi dua sekolah yang masing-masing memiliki 80 dan 77 siswa. Perkembangan sekolah misi yang dikelola van de Loosdrecht di Tana Toraja sangat pesat. Hanya dalam waktu setahun, sekolah-sekolah yang didirikannya sudah memiliki hampir 900 orang murid (J.A. Sarira, 1975:23).

Hingga pada 26 Juli 1917, van de Loosdrecht berencana mengunjungi salah satu daerah di Tana Toraja bernama Nanggala. Namun, di tengah perjalanan, ia mengubah tujuannya ke daerah lainnya, yakni Bori, untuk melihat perkembangan sekolah zending di daerah tersebut.

Setiba di Bori dan ketika sedang berbincang dengan guru di sekolah, tiba-tiba datang sekelompok orang. Tanpa basa-basi, salah satu orang itu melemparkan tombak ke arah van de Loosdrecht dan menancap di badannya. Van de Loosdrecht yang berada di ambang maut meminta agar ditinggalkan seorang diri. Ia berdoa dan masih sanggup bertahan selama 15 menit sebelum akhirnya terkulai untuk selama-lamanya (Toby Alice Volkman, Feasts of Honor: Ritual and Change in the Toraja Highlands, 1985:36).

Sang pembuka jalan Tuhan di Sulawesi Selatan ini wafat dalam usia yang masih terbilang muda, 32 tahun, dan dikebumikan di areal pemakaman orang Toraja. Antonie Aris van De Loosdrecht meninggalkan dua orang anak dan istri tercinta yang saat itu tengah mengandung calon buah hati yang ketiga.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya