Menuju konten utama

Sejarah Lagu Genjer-Genjer, Penciptanya, & Benarkah Terkait PKI?

Sejarah lagu "Genjer-Genjer" awalnya untuk mengkritik penjajahan Jepang di Banyuwangi. Cek sejarah, nama pencipta, dan alasan kenapa dikaitkan dengan PKI.

Sejarah Lagu Genjer-Genjer, Penciptanya, & Benarkah Terkait PKI?
Bing Slamet, salah satu penyanyi yang mempopulerkan lagu "Genjer-Genjer" ciptaan M.Arif. Adapun sejarah lagu "Genjer-Genjer" awalnya mengkritik penjajahan Jepang di Banyuwangi, tetapi mulai menjadi negatif citranya usai dikaitkan dengan PKI. FOTO/Istimewa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejarah lagu "Genjer-Genjer" yang menggunakan Jawa Osing sudah ada sejak masa penjajahan Jepang. Lagu ini awalnya mengandung semangat kritik, tetapi mulai menjadi negatif bagi masyarakat Indonesia karena dinilai terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kasus PKI di Indonesia menjadi salah satu peristiwa yang kelam dan traumatis bagi masyarakat. Hal-hal yang memiliki kaitan dengan PKI bahkan dibenci oleh banyak pihak sejak masa Orde Baru, termasuk simbol, ideologi, dan musik.

Setelah Peristiwa PKI 1965 atau Gerakan 30 September (G30S) 1965, lagu "Genjer-Genjer" menjadi karya yang dilarang untuk disiarkan, diputar, serta dinyanyikan. Lantas, kenapa lagu "Genjer-Genjer" dikaitkan dengan PKI dan bagaimana arti lirik lengkapnya?

Sejarah Lagu Genjer-Genjer

Pencipta lagu "Genjer-Genjer" adalah sosok seniman Osing asal Bayuwangi, M.Arief. Lagu tersebut ia tulis pada 1942, jauh sebelum peristiwa PKI Madiun 1948 atau G30S 1965.

Utan Parlindungan dalam studinya yang terbit di Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (2014) menyatakan, bahwa lagu "Genjer-Genjer" berasal dari Banyuwangi ini bertujuan untuk untuk mengkritik penjajahan Jepang.

Kata 'genjer' pada lirik lagu "Genjer-Genjer" merujuk pada tanaman akuatik genjer dengan nama Latin imnocharis flava. Saat masyarakat Banyuwangi berada di bawah penjajahan Jepang, kelaparan terjadi di mana-mana.

Alhasil, masyarakat memanfaatkan apa yang ada untuk dijadikan makanan. Tanaman genjer yang saat itu merupakan gulma, tanaman liar, dan dipakai sebagai pakan ternak bahkan menjadi bahan konsumsi.

Akan tetapi, benarkah lagu "Genjer-Genjer" adalah lagu PKI dan penciptanya adalah bagian dari PKI? Indonesia sendiri merdeka dan terlepas dari pengaruh Jepang pada 1945.

Setelah itu, M. Arief, pencipta lagu "Genjer-Genjer", bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra sendiri merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri yang didirikan oleh petinggi PKI, yaitu D.N. Aidit.

Menyusul bergabungnya si pencipta lagu ke Lekra, lagu "Genjer-Genjer" yang begitu sederhana dan mudah dihafalkan digunakan untuk kepentingan politik PKI. Bahkan, berbagai kampanye PKI selalu memutar lagu tersebut.

"Bahkan berkumandang di setiap kegiatan yang melibatkan anggota dan simpatisan PKI," catat Parlindungan dalam studinya.

Pada 1962, lagu "Genjer-Genjer" menjadi lebih populer setelah dinyanyikan ulang oleh penyanyi kenamaan negeri kala itu, yaitu Bing Slamet dan Lilis Suryani. Lagu tersebut bahkan sering menjadi playlist di siaran RRI dan TVRI hingga tahun 1963 silam.

Kenapa Lagu Genjer-Genjer Dikaitkan dengan PKI?

Bagaimana sejarah lagu "Genjer-Genjer" dilarang? Beberapa tahun setelah peristiwa G30S/PKI, sejumlah pihak mulai memelesetkan lirik lagu "Genjer-Genjer". Pelesetan-pelesetan lirik lagu menggambarkan betapa sadisnya perlakuan PKI dan Gerwani terhadap jenderal-jenderal yang diculik.

Oleh karena itu, pemerintah Orde Baru mulai melarang pemutaran-pemutaran lagu "Genjer-Genjer". Siapa pun yang berani memutar atau menyanyikan lagu tersebut bisa ditangkap oleh pihak berwenang.

Kesan komunisme dari lagu "Genjer-Genjer" semakin menguat karena tayangnya film kontroversial berjudul Pengkhianatan G 30/S PKI (1984). Salah satu bagian film menggambarkan adegan fiktif para anggota Gerwani yang menyilet wajah para jenderal sambil mendendangkan lagu ini.

Sesuai dengan catatan sejarah, lagu "Genjer-Genjer" bukan diciptakan untuk mendukung kegiatan politik PKI. Akan tetapi, lagu ini menyampaikan kritik terhadap penjajahan Jepang alias Dai Nippon.

Bahkan, Parlindungan mengungkapkan bahwa lagu ini merupakan salah satu karya terbaik yang pernah diciptakan oleh anak negeri. Pasalnya, lagu "Genjer-Genjer" mampu menghidupkan semangat perjuangan rakyat dalam melawan kolonialisme dan imperialisme di Banyuwangi.

Alasan ini juga yang menyebabkan PKI begitu tertarik mengadopsi lagu tersebut sebagai bagian dari kepentingan politik mereka. Sayangnya, rangkaian peristiwa kelam yang terjadi di dalam negeri menyebabkan lagu "Genjer-Genjer" mengalami perubahan esensi dan substansi secara drastis.

Lagu yang awalnya merupakan kritik kepada penjajahan Jepang kini diidentikkan sebagai karya milik organisasi berpaham komunisme yang dilarang di Indonesia. Pemutarannya hingga beberapa waktu belakangan ini bahkan kerap menimbulkan permasalahan.

Misalnya pada 2009, Solo Radio FM memutar lagu "Genjer-Genjer" dan didatangi sekelompok orang yang mengaku dari Laskar Hizbullah. Para anggota laskar tersebut menuntut pihak radio untuk meminta maaf.

Selain itu, tahun 2017, sempat terjadi pengepungan oleh masa di acara 'Asik-Asik Aksi' di gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Massa mengklaim bahwa ada salah satu peserta acara yang menyanyikan lagu "Genjer-Genjer."

Lirik Lagu "Genjer-Genjer" dan Artinya

Lagu "Genjer-Genjer" berbahasa Osing, yaitu bahasa dari sebuah suku yang berasal dari Banyuwangi, menyuguhkan kondisi dan realitas kehidupan masyarakat setempat di era penjajahan Jepang. Mereka cukup sengsara sehingga terpaksa mengonsumsi tanaman gulma.

Berikut ini lirik lagu "Genjer-Genjer" beserta artinya.

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

(Genjer-genjer di petak sawah berhamparan)

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

(Genjer-genjer di petak sawah berhamparan)

Emake thulik teko-teko mbubuti genjer

(Ibu si bocah datang mencabut genjer)

Emake thulik teko-teko mbubuti genjer

(Ibu si bocah datang mencabut genjer)

Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih

(Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat)

Genjer-genjer saiki wis digawa mulih

(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar

(Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar

(Genjer-genjer isuk-isuk dijual ke pasar)

Dijejer-jejer duintingi padha didhasar

(Ditata berjajar diikat pada digelar)

Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar

(Ditata berjajar diikat pada digelar)

Emake jebeng padha tuku nggawa welasan

(Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa belasan)

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

(Genjer-genjer sekarang akan diolah)

Demikian informasi mengenai sejarah lagu "Genjer-Genjer" dan alasan kenapa lagunya dikaitkan dengan PKI. Pastikan juga untuk membaca artikel lain mengenai Partai Komunis Indonesia selengkapnya di sini.

Informasi PKI Terbaru

Baca juga artikel terkait KESAKTIAN PANCASILA atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Edusains
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yuda Prinada