Sejarah G30S dan PKI

Akhir G30S 1965 dan Sejarah Kematian D.N. Aidit Pemimpin PKI

Penulis: Iswara N Raditya, tirto.id - 28 Sep 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Akhir pemberontakan G30S PKI adalah saat kematian PKI dan para pimpinannya, termasuk D.N. Aidit yang ditembak mati tanpa sempat diadili.
tirto.id - Bagaimana akhir Gerakan 30 September (G30S) 1965? Pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) D.N. Aidit ditembak mati tanpa sempat diadili. G30S 1965 menjadi akhir riwayat PKI, para pimpinan, anggota, sekaligus seluruh hal yang terkait dengannya.

Peristiwa G30S 1965 menyebabkan kematian beberapa perwira tinggi TNI-AD dan menunjuk PKI sebagai salah satu unsur utama dalam upaya kudeta. Para pimpinan PKI pun diburu, termasuk Dipa Nusantara Aidit.

Dalam Kronik 65: Catatan Hari per Hari G30S Sebelum Hingga Setelahnya 1963-1971 (2017) yang disusun Kuncoro Hadi dan kawan-kawan diungkapkan, D.N. Aidit pada 2 Oktober 1965 dini hari terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan pesawat Dakota T-443 setelah sebelumnya lolos dari sergapan tentara.

Sesaat usai mendarat di Yogyakarta, Aidit langsung ke Semarang untuk menggelar rapat dengan beberapa pemimpin PKI lainnya yang berada di jantung Jawa Tengah itu.

Rapat ini menghasilkan pernyataan bahwa G30S adalah masalah internal AD dan PKI tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan beraroma makar tersebut. Kendati begitu, tidak semua sepakat, PKI terancam terbelah.

Peristiwa G30S 1965: Akhir Sejarah PKI

Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang menyebabkan kematian beberapa perwira tinggi TNI-AD dan menyudutkan PKI sebagai salah satu unsur utama upaya kudeta. Para pemimpin PKI mulai diburu, termasuk D.N. Aidit.

Selama beberapa hari kemudian, Aidit berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mencegah perpecahan internal PKI namun gagal. “PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis Peter Kasenda dalam Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).


Kubu Aidit termasuk kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI dari ancaman pemberangusan lantaran blunder yang terlanjur terjadi. Di sisi lain, ada kubu radikal yang dimotori oleh Utomo Ramelan dan kawan-kawan yang memilih terus melakukan perlawanan.

Para pemimpin PKI terus menjadi sasaran buruan, termasuk D.N. Aidit. Sampai akhirnya, dalam suatu operasi militer pada pertengahan November 1965, Aidit tertangkap di Surakarta.

Tanggal 22 November 1965, D.N. Aidit seharusnya dibawa ke Semarang, ke markas Kodam Diponegoro.

Hanya saja, raganya tidak pernah tiba di Semarang. Di Boyolali, pemimpin PKI ini dieksekusi mati tanpa pernah sempat diadili. Hingga kini, di mana tepatnya kuburan maupun jasad D.N. Aidit belum ditemukan secara pasti.



Perpecahan PKI & Eksekusi D.N. Aidit

Setelah rapat di Semarang, D.N. Aidit kemudian berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mencegah perpecahan internal PKI namun gagal.

“PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis Peter Kasenda dalam Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).

Kubu Aidit termasuk kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI dari ancaman pemberangusan lantaran blunder yang terlanjur terjadi.

Di sisi lain, ada kubu radikal yang dimotori oleh Utomo Ramelan dan kawan-kawan yang memilih tetap melakukan perlawanan.

Para pemimpin PKI terus menjadi sasaran buruan, termasuk D.N. Aidit. Sampai akhirnya, dalam suatu operasi militer pada 22 November 1965, Aidit tertangkap di Surakarta. Selanjutnya ia akan dibawa ke Semarang, ke markas Kodam Diponegoro.


Dalam perjalanan menuju Semarang ketika sampai di Boyolali pada 25 November 1965, tulis Benny G. Setiono lewat buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), D.N. Aidit ditembak mati tanpa sempat diadili atau setidaknya memberikan pembelaan diri.

Hingga kini, di mana tepatnya kuburan D.N. Aidit masih menjadi teka-teki. Meskipun ada suatu tempat di Boyolali yang diyakini sebagai tempat pemimpin PKI itu dieksekusi, namun jasad D.N. Aidit belum pernah benar-benar ditemukan.


Baca juga artikel terkait DN AIDIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
Penyelaras: Ibnu Azis & Yulaika Ramadhani
DarkLight