Menuju konten utama

Sejarah Kalender Hijriyah dan Asal Usul Penanggalannya

Sejarah kalender Hijriyah mulai resmi penggunaannya pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sementara Muharram adalah bulan pertama. Berikut penjelasannya.

Sejarah Kalender Hijriyah dan Asal Usul Penanggalannya
Ilustrasi Tahun Baru Islam. Adapun sejarah kalender Hijriyah sudah ditetapkan sejak masa Kekhalifahan Umar bin Khattab. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bagaimana sejarah kalender Hijriyah? Dalam Islam, Muharram adalah bulan pertama di kalender Hijriah. Ia merupakan bulan bersejarah yang memiliki banyak keistimewaan bagi umat Islam.

Berbeda dari penanggalan Masehi yang berpatokan pada rotasi matahari, sejarah penanggalan Hijriyah atau disebut juga penanggalan Komariah berpatokan kepada rotasi bulan.

Oleh karena itu, ia juga memiliki sebutan lain sebagai perhitungan kalender lunar. Setahun dalam penanggalan Hijriah ini lebih pendek 11 sampai 12 hari dari penanggalan Masehi (kalender solar).

Sejarah Penanggalan Hijriyah

Kapan tahun Hijriyah dimulai? Umat Islam baru menggunakan kalender Hijriah pada masa setelah Rasulullah SAW wafat. Dalam makalah "Meninjau Ulang Muharram Sebagai Tahun Baru Islam" yang terbit di laman academia.edu, Muhammad Anis Mulachela menjelaskan, sejarah tahun Hijriyah baru resmi penggunaannya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Semula, Umar bin Khattab menerima surat dari sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Abu Musa Al-Asy'ari yang tanpa disertai titi mangsa dan hari pengirimannya. Umar kemudian menyadari ada kesulitan pada saat melakukan pengarsipan dan seleksi urutan surat.

Oleh karena itu, Umar memerintahkan pelaksanaan musyawarah yang melibatkan para ahli dan sahabat Nabi SAW. Mereka pun menyusun penanggalan yang secara khusus berlaku dalam Islam.

Di musyawarah itu, ada yang mengusulkan kepada Umar untuk menjadikan peristiwa bi’tsah Nabi Muhammad SAW sebagai awal penanggalan. Sementara di riwayat lain Umar mengusulkan agar kalender Islam mengacu pada waktu kelahiran atau pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah.

Akan tetapi, Ali bin Abi Thalib tidak menyetujui usul tersebut. Ali kemudian mengusulkan awal kalender dalam Islam dimulai dari tahun terjadinya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Peserta musyawarah menerima usul tersebut, kemudian Umar menetapkan penggunaannya sebagai kalender resmi milik umat Islam pada tanggal 8 Rabi’ul Awal tahun 17 Hijriah. Dari penjelasan ini, kalender Hijriyah adalah penanggalan yang sebutannya muncul berdasarkan peristiwa hijrah Nabi SAW.

Lantas, mengapa Muharram menjadi bulan pertama di kalender tahun Hijriah?

Amirul Ulum dalam artikel "Menelisik Histori Muharram dan Hijriyah" yang tayang di laman NU Online, menjelaskan bahwa Muharram menjadi bulan pertama penanggalan hijriah karena pada bulan ini Nabi Muhammad SAW pertama kali berniat dan merencanakan hijrah.

Setelah merencanakan hijrah, Nabi Muhammad SAW merealisasikan niatnya itu dengan pergi dari kota Makkah pada Kamis di akhir bulan Safar dan keluar dari tempat persembunyiannya dari gua Tsur pada 2 Rabiul Awal atau 20 September 622 M untuk menuju ke Madinah. Tahun saat peristiwa ini terjadi merupakan tahun 1 Hijriyah.

Kalender Hijriah Dibuat oleh Siapa?

Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab, kebutuhan atas sistem penanggalan yang relevan dalam arsip dan surat-menyurat menyebabkan digelarnya musyawarah bersama para ahli muslim.

Ahli dan sahabat Rasulullah SAW turut ikut serta dalam prosesi musyawarah pembuatan kalender Hijriah tersebut. Akan tetapi, Umar dan Ali menjadi sorotan dalam sejarah penanggalan Hijriyah ini.

Umar yang mengusulkan peristiwa lahirnya Rasulullah SAW atau tanggal pengangkatannya sebagai nabi tak diterima oleh Ali. Adapun Ali berperan mengusulkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad sebagai acuan utama tahun pertama Hijriah.

Oleh karena itu, Ali bin Abi Talib dapat disebut sebagai orang yang membuat kalender Hijriyah. Kendati demikian, ada banyak ahli muslim yang saat itu turut serta menyuarakan idenya.

Keistimewaan Bulan Muharram

Selain menjadi bulan saat Nabi SAW pertama kali berniat dan merencanakan hijrah, Muharram pun menjadi salah satu bulan yang memiliki banyak keistimewaan.

Salah satu rujukan mengenai keistimewaan Muharram bisa ditemukan di Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 36 berikut:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah [ketetapan] agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” (QS At-Taubah [9]: 36).

Para ahli tafsir berpendapat empat bulan haram itu maksudnya bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Pada empat bulan itu, umat Islam tidak boleh berperang.

Artinya, 4 bulan itu lebih istimewa dari bulan-bulan lain, kecuali Ramadan. Adapun yang dimaksud dengan 4 bulan haram itu ialah Muharram, Zulkaidah, Zulhijah dan Rajab, demikian dikutip dari NU Online.

Keterangan mengenai nama 4 bulan haram itu terdapat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:

"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan berturut-turut: Zulqaidah, Zulhijah, dan Muharram, serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat di antara bulan Jumadil Akhir dan Syaban," (HR Bukhari dan Muslim).

Latar belakang ini juga menjadi dasar penamaan bulan Muharram. Seperti dilansir laman Muslim Hands, kata Muharram dalam bahasa Arab berarti "yang dilarang". Pada bulan ini, aktivitas tertentu menjadi terlarang untuk dilakukan, terutama berperang.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya bahkan memaparkan, pahala untuk amal baik pada empat bulan itu akan dilipat gandakan, demikian pula dosa perbuatan buruk. Dikutip dari kitab Tafsir Ibnu Katsir (Juz 4: 89-90), ia menyitir pernyataan Abu Qatadah:

"Sesungguhnya berbuat zalim pada Muharram lebih besar dosanya dibanding dengan kezaliman yang dikerjakan di bulan lainnya, walaupun perbuatan zalim yang dikerjakan pada selain bulan itu tetap besar dosanya, tetapi Allah SWT mengagungkan urusan-Nya sesuai kehendaki-Nya."

Selain itu, keistimewaan bulan Muharram yang lain adalah julukan Syahrullah atau "Bulan Allah" yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Derajat kemuliaannya pun berada setingkat di bawah bulan Ramadan. Hal ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:

"Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, ‘Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdal?' Nabi menjawab, ‘Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram'," (HR Ibnu Majah).

Demikian penjelasan mengenai sejarah kalender Hijriyah yang telah resmi penggunaannya sejak masa kepemimpinan Umar. Pastikan pula untuk membaca informasi rinci mengenai kalender Hijriah di sini.

Informasi Kalender Hijriah Terbaru

Baca juga artikel terkait MUHARRAM atau tulisan lainnya dari Abdul Hadi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Yulaika Ramadhani & Yuda Prinada