Sampah Rumah Tangga Bikin Kali Bekasi Tambah Tercemar

Oleh: Restu Diantina Putri - 10 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Langkah pertama agar tak mencemari sungai: jangan buang sampah rumah tangga dan makanan ke kali.
tirto.id - Nursaih, seorang warga yang bermukim di tepi Kali Bekasi, mengingat masa belianya saat sungai jadi alat sekaligus penghubung mata pencaharian penduduk setempat.

Pada dasawarsa 1970-an, kenangnya, beberapa tetangganya mengapungkan batang-batang bambu ke Kali Bekasi. Bambu itu dijalin sehingga membentuk getek dan dipakai sebagai tumpangan hingga ke hilir. Di hilir, rakit itu dibongkar untuk kemudian dijual sebagai batang-batang bambu. Pemandangan ini biasa terlihat hampir setiap hari di daerah aliran sungai Bekasi, ujarnya.

Sementara ia yang masih belia dan teman sebayanya bersemangat mencari udang sungai di bawah batu-batu kali. Jika beruntung, ia bisa dengan mudah mendapatkan udang sungai sebesar lobster.

“Jernih banget dulu, mah. Kayak mata air. Bisa langsung diminum," cerita Nursaih.

"Banyak jenis ikan yang mungkin banyak yang enggak tahu ada di situ. Datang bergerombol,” tambahnya.

Nostalgia Nursaih diamini Iwan, tetangganya yang semasa kecil sering mandi dan berenang di Kali Bekasi.

“Dulu kalau lagi bosen, ya kita mainnya ke kali. Main apa saja, nyari ikan, nyari udang, berenang,” kenang Iwan, kini 40 tahun, saat bercerita di toko barang antik miliknya.

Sebagaimana peradaban manusia dibentuk oleh sungai, Kali Bekasi bagi penduduk setempat dimanfaatkan oleh warga untuk mandi, mencuci, irigasi, hingga perikanan. Namun, sejak 1990-an, manfaat itu perlahan terkontaminasi limbah.

Nursaih mengingat pencemaran itu dimulai saat RSUD Bekasi beroperasi. Namun, polusi saat itu belum berdampak besar. Saat itu, air masih bisa digunakan dengan layak untuk kebutuhan sehari-hari.


Maju cepat, saat ini Kali Bekasi masih menjadi sumber bahan baku untuk dua PDAM di Kota Bekasi: PDAM Tirta Patriot dan PDAM Tirta Bhagasasi. Setelah tercemar, kualitas air kali tak langsung dikonsumsi melainkan harus diolah terlebih dulu.

Bahan baku air untuk PDAM Tirta Bhagasasi disuplai oleh operator Perum Jasa Tirta II Bekasi. Tengku Imam Kobul dari Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Kali Bekasi mengatakan, pada Agustus 2018, PDAM Tirta Bhagasasi sudah sembilan kali menyurati Perum Jasa Tirta II untuk tidak menggunakan air Kali Bekasi lagi sebagai bahan baku.

Kedua PDAM itu memproduksi air bersih untuk dialirkan ke wilayah Babelan dan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Alhasil, salah satu siasatnya dengan menggunakan sifon Kalimalang sehingga pasokan air bersih untuk daerah tersebut tetap terjaga.

Nursaih dan penduduk sekitar bantaran kali tak begitu terdampak lantaran suplai air mereka bukan dari kedua PDAM tersebut. Beberapa warga masih menyedot air tanah untuk keperluan sehari-hari. Namun, dari pengalaman Nursaih, beberapa kali ia mendapati air tanahnya tak cukup jernih, seperti mengandung kapur.

“Saya khawatir itu rembesan dari Kali Bekasi,” keluhnya. Kekhawatiran yang cukup beralasan mengingat rumahnya berbatasan langsung dengan kali.

Pencemaran Bikin Longsor

Nursaih mengajak saya melihat kondisi Kali Bekasi, sekitar 50 meter di belakang rumahnya di Kampung Teluk Angsan, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur. Bantarannya curam dengan kemiringan sekitar 50 derajat dengan tinggi 5 meter dan di sana-sini berbatasan dengan rumah warga. Sekalipun ada jalan setapak menurun menuju kali, saya susah melewatinya lantaran dipenuhi sampah. Seorang warga sempat datang dan melempar sembarang kantong sampah ke jalan setapak tersebut.

Beberapa bocah usia SD terlihat berenang di air berwarna hijau keruh sembari sesekali mengintip ke bawah batu-batu cadas.

“Biar saja. Mereka mencari ikan sapu-sapu,” kata Nursaih.

Nursaih membawa kami ke sebuah lahan kosong penuh sampah, masih di pinggir sungai. Di salah satu bagian bibir curam sungai, terdapat cerukan luas. Rupanya, cerukan itu bekas longsoran beberapa waktu lalu. Nursaih beberapa kali mengingatkan kami untuk tidak berpijak di tanah sekitarnya.

“Masih rapuh,” ujar pria asli Betawi itu.

Lihat galeri foto:

Tak jauh dari lahan kosong itu, ada sebuah rumah besar yang dindingnya berbatasan dengan jurang sungai. Nursaih bercerita, rumah itu sempat digunakan sebagai pabrik tahu yang limbahnya langsung dibuang ke sungai. Rerata pabrik-pabrik rumahan seperti itu memilih membangun pabrik di dekat sungai untuk memudahkan pembuangan limbah.

Namun, pada satu malam awal tahun ini, dinding pabrik itu tergerus longsor.

“Suaranya gemuruh. Untung sedang tidak ada karyawan saat itu,” kata Nursaih.

Pabrik itu menjadi tak terurus lantaran ditinggalkan pemiliknya. Bekas dinding longsoran pun kini menjadi delta kecil di Kali Bekasi.


Infografik HL Indepth Kali Bekashit

Sampah Rumah Tangga Mencemari Kali

Tak hanya pencemaran, erosi dan longsor adalah harga yang harus dibayar seiring suburnya pembangunan di sepanjang bantaran kali. Sejumlah pepohonan yang mampu memperkuat daya tahan tanah di sekitar bantaran dibabat habis dan disulap menjadi pabrik-pabrik rumahan ataupun bangunan.

Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Kali Bekasi mencatat ada beberapa isu utama soal pengendalian daya rusak air yang ditemui di wilayah sungai Ciliwung-Cisadane, termasuk di antaranya daerah aliran sungai Bekasi yang mencakup Sungai Cileungsi, Sungai Cikeas, dan Kali Bekasi.

Problem itu meliputi penebangan hutan, perambahan daerah sempadan sungai untuk permukiman, pembangunan perumahan di dataran banjir, pembuangan sampah ke sungai dan drainase, serta penurunan muka tanah, longsor, dan kekeringan.

“Bagaimanapun, enggak bisa kita pungkiri, ya, ada peran dari masyarakat yang bikin kali tercemar. Buang sampah sembarangan. Buang air besar juga langsung di kali,” cerita Nursaih.

Saat saya menyusuri aliran sungai, beberapa kali saya melihat warga membuang sampah sembarangan ke badan sungai. Di bendungan pun sampah menumpuk.


Pemkot Bekasi sempat membangun instalasi pengolahan limbah domestik di daerah Nursaih yang mengolah limbah atau sisa pembuangan air dari rumah-rumah. Namun, proyek tersebut berhenti di tengah jalan lantaran nihil pengawasan.

“Sekarang ya jadi teronggok gini aja,” kata Nursaih sembari menunjukkan instalasi tersebut.

Ekosistem sungai berperan krusial bagi kehidupan manusia. Tak cuma tangan industri yang bandel membuang limbah ke Kali Bekasi, limbah rumah tangga juga menyumbang beban pencemaran yang menumpuk di sungai tersebut.

“Belum tahu saja jika nanti kita benar-benar kehilangan Kali Bekasi,” celetuk Tengku Imam Kobul dari Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Kali Bekasi.

Baca juga artikel terkait PENCEMARAN SUNGAI atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Fahri Salam