Tak Ramah Lingkungan, Sedotan Plastik Mulai ditinggalkan

Seorang karyawan Starbucks mengunci pintu kedai kopi di sudut Oliver Avenue dan William Penn Place di Pittsburgh, pada jam 2.30 sore. Starbucks meniadakan penggunaan sedotan plastik di seluruh gerainya yang tersebar di semua negara. Perusahaan kopi itu mengatakan Senin, 9 Juli 2018, bahwa akan menawarkan penutup tanpa jerami atau sedotan yang terbuat dari kertas atau bahan yang dapat dibuat kompos. Jessie Wardarski / Pittsburgh Post-Gazette via AP
Oleh: Nindias Nur Khalika - 17 Juli 2018
Dibaca Normal 4 menit
Gara-gara kampanye yang bergulir di media sosial, beberapa perusahaan besar di dunia mengeluarkan kebijakan yang melarang atau membatasi penggunaan sedotan plastik.
tirto.id - Senin (09/07/18), Starbucks mengumumkan bahwa perusahaan kopi tersebut akan menghilangkan penggunaan sedotan plastik sekali pakai di seluruh gerainya mulai 2020. Sebagai gantinya menurut Independent, Starbucks bakal memakai penutup minuman yang memungkinkan pelanggan meminum kopi tanpa harus menggunakan sedotan.

Untuk minuman jenis lain yang memerlukan sedotan, misalnya Frappucino, Starbucks akan menggunakan sedotan dari kertas atau bahan lain yang bisa terurai di tanah. Perusahaan kopi tersebut pun bakal menyediakan sedotan ramah lingkungan bagi pelanggan yang membutuhkan alat untuk meminum kopi.

Seperti yang dilaporkan Guardian, minuman dengan penutup tanpa sedotan ini dipakai gerai Starbucks di Seattle, Amerika Serikat dan Vancouver, Kanada pada musim gugur tahun ini. Tahun depan, seluruh toko Starbucks di Kanada dan Amerika Serikat akan menggunakan wadah minum kopi baru.

Setelah AS dan kanada, Starbucks dikabarkan akan memperkenalkan wadah minuman berpenutup tanpa sedotan di Eropa. Di Eropa, wadah minum kopi dengan desain anyar itu bisa ditemui di sejumlah gerai kopi Starbucks di Perancis dan Belanda.

Starbucks, masih menurut Independent, akan membantu mengurangi satu miliar sedotan plastik yang dibuang per tahun jika kebijakan minuman tanpa sedotan ini berjalan. Upaya ini diperkirakan akan menyelamatkan sebanyak 100.000 mamalia, khususnya yang hidup di laut dan pantai, yang terancam mati karena menelan atau terjerat limbah plastik.

Kebijakan ini menuai komentar positif di kalangan ilmuwan dan aktivis. Marcus Eriksen, ilmuwan lingkungan sekaligus pendiri LSM 5 Greys, mengatakan sedotan plastik dapat berbahaya sebab alat minum itu akan berubah menjadi mikroplastik. Menurut Eriksen, penggunaan sedotan akan membawa perubahan lingkungan yang nyata.

Meski begitu, ada keberatan atas peraturan yang diterapkan Starbucks. Blogger Melissa Blake, misalnya, mengatakan bahwa para penyandang disabilitas membutuhkan sedotan plastik dan mereka sama sekali tak dimintai pendapat sampai kebijakan itu diterapkan. Menurut Blake, sedotan kertas tak cukup kokoh untuk dipakai oleh orang dengan kontrol otot yang terbatas, sehingga pilihan menggunakan alat minum yang digagas Starbucks masih diragukan efektivitasnya.



Selain Starbucks, ada banyak perusahaan besar lainnya yang turut menetapkan larangan atas sedotan plastik sekali pakai. McDonald's, misalnya, melarang pemakaian sedotan plastik di seluruh restorannya di Inggris dan Irlandia pada 2019.

Menurut Independent, McDonald's kelak akan menggunakan sedotan berbahan kertas di 1.361 gerainya di di Inggris mulai September. Langkah ini diambil McDonald's setelah mendapat respons positif dari pelanggan selama uji coba. Banyaknya jumlah alat minum yang dikonsumsi membuat pelanggan beropini agar McDonald's turut berperan mengurangi limbah restoran. Setiap hari, McDonald's memakai 1,8 juta sedotan di Inggris.

Hotel seperti Hyatt dan Hilton adalah contoh lain perusahaan yang menerapkan larangan sedotan plastik sekali pakai. Menurut cbsnews.com, para tamu harus meminta sedotan plastik mulai September tahun ini, sebab pihak hotel hanya akan memberikannya jika ada permintaan. Hyatt juga menyediakan sedotan berbahan ramah lingkungan bagi tamu hotel yang menginginkannya.

Kebijakan hotel Hyatt, menurut Time, selaras dengan visi perusahaan yang memperkenalkan “2020 Environmental Sustainability Vision” empat tahun silam itu. Selain sedotan plastik, aturan ramah lingkungan lain yang diterapkan Hyatt adalah mengurangi gas emisi rumah kaca sebanyak 25% di semua wilayah operasi properti milik hotel.

Dibandingkan Hyatt, Hotel Hilton mengambil kebijakan yang lebih keras. Seperti yang dilaporkan USA Today, Hilton akan melarang penggunaan sedotan plastik di seluruh jaringan hotelnya pada akhir tahun ini. Tak hanya itu, manajemen hotel juga berencana menyingkirkan botol air plastik di tiap perhelatan yang diadakan di Hilton.

Larangan pemakaian sedotan sebelumnya telah diberlakukan hotel Hilton di Australia, New Zealand, dan Fiji. Alih-alih menggunakan sedotan plastik, pihak hotel justru menawarkan sedotan berbahan kertas yang bisa terurai. Kebijakan ini, menurut USA Today, mampu mengurangi 2,5 juta sedotan plastik tiap tahun.

Perusahaan maskapai penerbangan dan taman hiburan pun tak mau ketinggalan. American Airlines, misalnya, berkomitmen menggunakan sedotan, sendok dan garpu yang ramah lingkungan, serta pengaduk berbahan bambu di ruang tunggu maskapai mulai Juli 2018. Pengaduk berbahan bambu dan sedotan ramah lingkungan juga ditawarkan pada penumpang yang menggunakan jasa penerbangan American Airlines.

Menurut laporan Time, taman hiburan Seaworld Parks & Entertainment di Amerika Serikat pun menerapkan larangan sedotan plastik dan tas belanja berbahan plastik di 12 taman hiburan sebagai upaya untuk melindungi binatang dan habitatnya.

Larangan penggunaan sedotan plastik juga berlaku di beberapa wilayah dengan cakupan yang lebih luas. Menurut National Geographic, beberapa kota Amerika seperti Seattle, Miami Beach, serta Fort Myers Beach, melarang penggunaan sedotan plastik. Usulan untuk memberlakukan kebijakan itu juga sedang menjadi bahan perbincangan di Inggris, Taiwan, dan Belize.


The New York Times melaporkan, larangan sedotan plastik di beberapa perusahaan beberapa bulan terakhir ini disebabkan oleh kampanye dengan tagar #StrawSuck dan #TheLastStraw di media sosial. Ajakan ini viral dan mungkin menunjukkan kesadaran bahwa saat ini polusi plastik semakin membahayakan makhluk hidup dan lingkungan.

Meski begitu, menurut situs phys.org, keberadaan sedotan plastik tidak siginifikan dari segi kuantitas dan berat dibandingkan sampah plastik lainnya. Ilmuwan asal Australia Denise Hardesty dan Chris Wilcox memperkirakan hampir 7,5 juta sedotan plastik ada di garis pantai Amerika. Denise dkk mengatakan bahwa sebanyak 437 juta hingga 8,3 milyar sedotan plastik ditemukan di wilayah garis pantai seluruh dunia.

Angka-angka di atas tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan banyaknya sampah plastik yang hanyut di laut. Menurut studi Jenna Jambeck, profesor Teknik Lingkungan University of Georgia, sebanyak 9 juta ton limbah plastik berakhir di lautan dan pantai di seluruh dunia per tahunnya. Jumlah sampah plastik yang dibuang di daratan lebih banyak lagi, yakni mencapai 35 juta ton tiap tahun dan seperempatnya mengotori lautan.

Namun, kampanye anti-sedotan plastik dianggap tidak mensyaratkan perubahan sikap yang drastis. Bagi orang yang jasmaninya sehat, penggunaan sedotan plastik bisa dengan mudah dihindari.



Di Indonesia, pembatasan sedotan plastik sekali pakai juga diterapkan oleh PT. Fast Food Indonesia, pemegang hak waralaba tunggal merek KFC. Hendra Yuniarto, General Manager PT. Fast Food Indonesia, mengatakan kepada Tirto bahwa gerakan #nostrawmovement pertama kali dijalankan KFC Indonesia pada awal Mei 2017 dengan enam gerai KFC di Jakarta sebagai proyek percontohan.

Menurut Hendra, KFC Indonesia tidak langsung melarang pemakaian sedotan plastik karena kebijakan tersebut akan mengganggu tingkat kepuasan konsumen. “Yang kami lakukan adalah melakukan gerakan pembatasan penggunaan sedotan di gerai kami. Kalau pelanggan butuh sedotan, ia harus memintanya ke kasir,” ujarnya.

Karena pelanggan menyambut baik aturan ini, KFC Indonesia mulai menerapkan kebijakan ini di semua restoran yang berada di Jabodetabek pada Januari 2018. “Namun dengan komitmen kami hingga di bulan Mei saat Hari Terumbu Karang kami melakukan [gerakan #nostrawmovement] secara nasional,” kata Hendra. Ia menyebutkan bahwa saat ini terdapat 635 gerai KFC yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Hendra mengatakan bahwa gerakan #nostrawmovement berasal dari perusahaan yang memang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Sebelum tahun 2017, KFC Indonesia lebih fokus pada penanaman pohon di beberapa titik hutan serta sekolah.


“Tapi, kami mulai mempelajari sebenarnya Indonesia adalah negara kepulauan. Laut itu adalah aset negara ini. Kami juga menemukan fakta bahwa barang yang paling tidak berarti bagi pemulung maupun penampung sampah adalah sedotan. Walaupun di KFC masih ada bucket dari plastik, kemasan lain dari plastik,” jelas Hendra.

Sampah plastik, termasuk sedotan, akan berakhir di lautan jika pengolahan tak dilakukan dengan benar. Sedotan juga tak dipungut pemulung karena dianggap tidak memberikan keuntungan.

“Untuk mendapatkan berat satu kilo dari sedotan mereka itu butuh sekitar satu becak atau satu mini truk sedotan. Satu kilo itu pun nilainya hanya Rp10 ribu. Makanya kita bikin gerakan ini karena untuk membersihkan laut kita juga,” katanya Hendra seraya menjelaskan bahwa KFC Indonesia menghabiskan 10 juta-12 juta batang sedotan plastik sekali per bulan.

Setelah gerakan #nostrawmovement berjalan, KFC diperkirakan bisa menurunkan penggunaan sedotan plastik hingga 45%. KFC Singapura pun turut mengikuti langkah PT. Fast Food Indonesia pada pertengahan Juni 2018. Adapun KFC di Amerika Serikat dikabarkan sedang mengkaji kebijakan ini supaya bisa diterapkan di gerai KFC seluruh dunia.

Baca juga artikel terkait LIMBAH atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight