tirto.id - Beredar unggahan di media sosial Facebook mengklaim Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyebut bahwa Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau disebut Kang Dedi Mulyadi (KDM) belum siap menjadi Presiden Republik Indonesia karena dinilai belum memiliki pengalaman yang cukup.
Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Mega Jaya” (arsip) pada Jumat, (24/07/2026). Dalam unggahan memperlihatkan gambar Megawati, Puan Maharani, dan Dedi Mulyadi dengan tambahan narasi, KDM belum siap menjadi RI 1 karena belum berpengalaman.
“Megawati menilai KDM belum siap ke RI.1 Karena belum sarat pengalaman beda dgn Puan Maharani sudah berpengalaman!!” begitu narasi tertulis dalam unggahan. Pengunggah juga menambahkan keterangan dalam unggahan, “Bu Megawati Menilai Kang Dedi Mulyadi (KDM), belum siap ke RI.1 Indonesia
Karena belum sarat pengalaman, dan kalau dibandingkan dgn Puan Maharani sudah berpengalaman!!
Waw menurut kalian gimana gays, warga+62
Siapa yang bakal layak jadi pilihan rakyat. Sosok kedua pemimpin hebat ini
1.Puan Maharani (Ketua DPR RI)
2.Dedi Mulyadi/KDM (Gubenur Jawa Barat)
Indonesia sejahtera & makmur NKRI harga mati.”
Sampai artikel ini ditulis pada Senin (14/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 1,1 ribu tanda suka, 2 ribu komentar, dan 22 kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi kritik terhadap Megawati dan Puan Maharani, termasuk reaksi dukungan terhadap KDM.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Catur Wahyu Prasetyo,” “BERITA TV 09,” dan “Mahhani Mini.” Semua unggahan tersebut menyebarkan klaim bahwa Megawati menyebutkan KDM belum siap menjadi presiden.
Lantas, benarkah Megawati menyebutkan bahwa Dedi Mulyadi belum siap menjadi presiden karena belum memiliki pengalaman yang cukup?

Penelusuran Fakta
Untuk membuktikan kebenaran klaim, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan sumber kredibel yang memuat pernyataan Megawati bahwa Dedi Mulyadi belum siap menjadi Presiden RI karena kalah pengalaman dari Puan Maharani.
Sebagaimana dalam pemberitaan Tirto, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka pada tahun kedua kepemimpinannya merosot tajam, dengan perolehan angka 37 persen, turun dari 75 persen di akhir 2025, dan dan Maret 2026 sebesar 58 persen.
Publik kecewa atas melambungnya harga beras hingga program Makan Bergizi Gratis yang dinilai belum tepat sasaran, serta masalah pengangguran. Kini, publik seakan menemukan saluran baru, yakni Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, yang bertengger di posisi puncak elektabilitas dan membalikkan panggung politik nasional.
Kepercayaan terhadap pemerintah yang terus surut menjadi angin yang mengubah peta kekuatan politik. Dedi Mulyadi menguasai benak pemilih dengan elektabilitas tertinggi. Saat responden diminta menyebutkan nama calon presiden secara bebas, 41 persen suara mengarah pada KDM, meninggalkan Prabowo Subianto jauh di belakang dengan 15 persen, dan Anies Baswedan sebesar 10 persen.
Nama lain yang muncul adalah Gibran Rakabuming Raka dengan 4 persen, Sherly Tjoanda 4 persen, Ganjar Pranowo 3 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 3 persen, Joko Widodo 3 persen, Mahfud MD 2 persen, dan Basuki Tjahaja Purnama 1 persen.
Kedekatan dengan rakyat juga menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih presiden. Faktor tersebut dipilih 25 persen responden, disusul program atau visi-misi 19 persen, kepribadian atau ketegasan 19 persen, kemampuan menyelesaikan masalah ekonomi 17 persen, dan pengalaman memimpin 10 persen. Faktor latar belakang agama, suku, atau daerah hanya disebut 3 persen responden, sementara mengikuti pilihan keluarga juga 1 persen.
Meski KDM unggul dalam elektabilitas, peta politik belum sepenuhnya mapan. Sebanyak 48 persen responden menyatakan masih mungkin atau sangat mungkin mengubah pilihan sebelum hari pemilu. Sebanyak 42 persen menyatakan mungkin berubah, sementara 6 persen sangat mungkin berubah. Sebaliknya, 27 persen menyatakan tidak akan berubah dan 22 persen memiliki kemungkinan kecil untuk berubah. Sementara itu, 3 persen tidak menjawab.
Dalam Survei Tempo Data Science, General Manager Tempo Data Science, Khairul Anam, menyatakan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kabinet Prabowo-Gibran mengalami penurunan yang cukup signifikan dan konsisten pada setiap periode.
Survei tersebut dilakukan pada 31 Juli-11 Agustus 2026. Survei melibatkan 1.260 responden yang tersebar di 38 provinsi dengan metode multistage random sampling. Hasil surveimenunjukkan, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran mengalami kemerosotan yang konsisten dan signifikan selama 8 bulan terakhir.
Sementara itu, terkait Puan Maharani sebagai kandidat potensial Pilpres 2029, pernah dibahas oleh analis komunikasi politik Hendri Satrio, sebagaimana ditulis oleh suara.com. Namun, pernyataan tersebut bukan berasal dari Megawati. Dalam tulisan itu, analis komunikasi politik, Hendri Satrio memprediksi peta politik Pilpres 2029 akan diwarnai oleh kemunculan tokoh-tokoh muda dari lingkaran kekuasaan.
Secara spesifik, Hendri menyoroti potensi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya sebagai kandidat kuat, khususnya pada bursa calon wakil presiden atau cawapres.
“Selain kemungkinan besar Prabowo akan kembali maju sebagai petahana, kita akan melihat banyak tokoh yang sebelumnya hanya berada di orbit kekuasaan kini berani tampil ke depan. Di sisi lain, ada juga bayang-bayang penantang yang sedang mengintip dan mencari celah kesempatan,” ujar Hendra Satrio.
Selain Gibran dan Teddy, Hensa turut membedah peluang tokoh dari PDI Perjuangan (PDIP) dan menilai nama Puan Maharani serta Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung patut diperhitungkan jika Megawati Soekarnoputri tidak mencalonkan diri.
Hendri Satrio menyebut Puan dapat menjadi salah satu kandidat yang didukung PDIP jika Megawati tidak maju pada Pilpres 2029, dengan alasan Puan memiliki pengalaman panjang termasuk dua periode sebagai Ketua DPR.
“Saya memang menyarankan jika PDIP ingin solid ya Ibu Megawati yang maju. Namun, jika Ibu Megawati tidak berkenan, maka buat saya Puan menjadi salah satu kandidat yang bisa didorong untuk maju di Pilpres 2029, karena pengalamannya panjang termasuk dua periode menjadi Ketua DPR,” jelasnya.
Dalam pemberitaan yang sama, Hendri juga memasukkan Dedi Mulyadi sebagai salah satu nama yang patut diperhitungkan dalam bursa penantang pada Pilpres 2029.
Dengan demikian, pernyataan terkait pengalaman Puan dan peluang Dedi Mulyadi dalam Pilpres 2029 memang pernah muncul dalam pemberitaan, tetapi sumbernya adalah analisis pengamat politik, bukan pernyataan Megawati seperti yang dinarasikan dalam unggahan.
Selain itu, dalam unggahan yang beredar tidak disertakan sumber yang jelas terkait klaim tersebut. Sampai artikel ini ditulis, tidak ada informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim bahwa Megawati pernah membandingkan Dedi Mulyadi dengan Puan Maharani seperti dalam unggahan.
Adapun nama Dedi Mulyadi memang tercatat dalam sejumlah survei mengenai bursa calon presiden 2029. Databoks menuliskan hasil survei SMRC. Dari hasil survei tersebut menyatakan bahwa Dedi Mulyadi mendapatkan elektabilitas tertinggi dalam simulasi semi terbuka calon presiden, yakni 35%. Sementara Prabowo Subianto peringkat kedua dengan 14,5%.
Dengan demikian, narasi dalam unggahan yang menyebut Puan Maharani lebih berpengalaman, merupakan narasi dari pembuat unggahan. Selain itu, klaim bahwa penilaian tersebut disampaikan oleh Megawati juga tidak disertai rekaman, kutipan pernyataan, maupun pemberitaan kredibel yang dapat diverifikasi.
Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran, klaim Megawati sebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi belum siap jadi Presiden bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
Tidak ditemukan bukti kredibel yang menunjukkan Megawati pernah menyampaikan pernyataan tersebut, sementara berbagai survei memang menunjukkan Dedi Mulyadi dan Puan Maharani masuk dalam pembahasan mengenai kandidat Pilpres 2029 dengan tingkat elektabilitas yang berbeda.
Dengan demikian, narasi terkait posisi Dedi Mulyadi dan Puan Maharani dalam bursa politik, tidak dapat digunakan untuk membuktikan bahwa Megawati pernah mengatakan Dedi Mulyadi belum siap menjadi Presiden RI.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id

































