tirto.id - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memintal nostalgia sejarah di Jawa Timur. Benang merah itu ditarik dari sebuah ruang sempit tanpa jendela di jalan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.
Putri dari Soekarno (Bung Karno) itu mencoba membangkitkan ingatan bahwa Jawa Timur, khususnya Surabaya, memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan dan terbentuknya pemikiran Sang Proklamator.
Presiden ke-5 RI itu menceritakan ulang bagaimana ayahnya saat masih berusia 16 tahun menghabiskan malam demi malam untuk membedah pemikiran Thomas Jefferson, Karl Marx, Sun Yat-sen, hingga Jean-Jacques Rousseau dengan pencahayaan terbatas dari nyala api lampu teplok.
Romantisasi pesona Bung Karno juga dijabar sejak lahirnya Singa Podium di Blitar. Kemudian tentang kisah Presiden Pertama RI menghabiskan masa kecil dan menempuh sebagian besar pendidikan pada dasarnya di Mojokerto.
Kisah itu digaungkan kembali oleh Megawati ketika berpidato dalam acara Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Hotel Vasa, Surabaya, Minggu (23/8/2026).
“Dalam perspektif ideologis dan sejarah, Jawa Timur sangat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjalanan Bung Karno. Beliau sendiri Menyebut Surabaya merupakan 'Dapurnya Nasionalisme',” ujar Mega di hadapan ratusan kadernya, dikutip dari ANTARA .
Bersamaan dengan kilas balik sejarah tersebut, terdapat sebuah proses politik yang jelas. PDI-P menargetkan Jawa Timur untuk kembali menjadi “Kandang Banteng” pada Pemilu 2029 mendatang.
Di tengah pragmatisme politik pasca-Pemilu 2024, PDI-P sedang merancang strategi untuk menyalip kembali dominasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jawa Timur.
Strategi ini bukan tanpa dasar, melainkan berpijak pada data historis perolehan suara PDI-P yang dari tahun ke tahun cukup kuat, cairnya sekat-sekat kultural santri-abangan, dan manuver menggaet Generasi Z melalui posisi mereka sebagai kekuatan penyeimbang di luar pemerintahan.
Tarik-Menarik Kuasa PDI-P dan PKB di Jawa Timur

Menilik data perolehan suara di Provinsi Jawa Timur dalam satu dekade terakhir, ambisi PDI-P untuk merajai wilayah ini terbilang realistis. Jawa Timur pada dasarnya adalah arena tarik-menarik pengaruh antara PKB dan PDI-P.
Pada Pemilu 2014, persaingan kedua partai ini berlangsung sangat ketat. PKB keluar sebagai pemenang dengan raihan 3.671.911 suara, sementara PDI-P bertahan di posisi kedua dengan 3.523.434 suara.
Lima tahun berselang, di tahun 2019 banteng moncong putih sukses membalas kekalahan. PDI-P menguasai Jatim dengan perolehan 4.319.666 suara, memaksa PKB turun ke peringkat kedua dengan raihan 4.198.551 suara.
Namun pada Pemilu 2024, PKB kembali merebut mahkota Jatim. Partai hijau bersimbolkan bola dunia itu meraup 4.517.228 suara, sementara suara PDI-P susut di angka 3.735.865, disusul oleh Gerindra dan Golkar.
Pengamat dan dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai penurunan elektabilitas PDI-P pada tahun 2024 sama sekali bukan pertanda baik bagi partai tersebut. Ia melihat selisih yang terjadi masih dalam batas kompetitif. Kekuatan PDI-P tetap kokoh dan sasaran Megawati dinilai rasional karena dilandasi modal sejarah.
"Saya kira sangat rasional kalau PDI-P punya keinginan melakukan ekspansi politik. Dalam sejarahnya, PDI-P pernah sangat kuat di Jawa Timur. Itu tidak bisa dibantah sebagai sebuah realitas politik. Modal sosial dan modal politiknya sangat memadai," Adi.
Di sisi lain, dalam kemenangan PKB atas PDI-P pada tahun 2024, Adi menyoroti faktor “ coattail effect ”. Kemenangan PKB di Jatim saat itu tak lepas dari sosok Cak Imin yang maju sebagai Calon Wakil Presiden. Pencalonan ini berhasil mengonsolidasikan kelompok tradisionalis dan suara Nahdliyin secara masif ke kantong PKB.
"Pertanyaannya, kalau di 2029 PKB tidak mencalonkan jagoannya, bukan tidak mungkin suara yang selama ini terkonsolidasi ke PKB bisa menyebar ke banyak tempat. Secara umum pemilih NU dan warga Nahdliyin saat ini tidak semuanya ke PKB. Banyak juga yang pilih Gerindra, banyak juga yang pilih PDI-P. Ini yang disiasati PDI-P," papar Adi.
Ini menurut Adi peran Ketua DPD PDI-P Jatim, Said Abdullah, menjadi krusial. Dirinya menilai tokoh kawakan tersebut memiliki jam terbang tinggi dalam melakukan rekrutmen dan kaderisasi lintas budaya yang membuat pergerakan politik PDI-P tak kenal musim.
Misi Besar Memerahkan Tanah Santri

Peta geopolitik Jawa Timur secara klasik membagi wilayah ini ke dalam tiga subkultur utama. Mataraman sebagai dasar nasionalis atau abangan, Arek yang dinamis atau jamak, dan Tapal Kuda sebagai dasar Islam tradisional dan santri. Selama beberapa dekade, ada semacam hukum tak tertulis bahwa PDI-P merajai Mataraman, sementara PKB menguasai Tapal Kuda.
Lalu, apakah instruksi Megawati untuk menjadikan Jatim menjadi “Kandang Banteng” bisa dibaca secara gamblang sebagai deklarasi terbuka PDI-P untuk merebut lumbung suara santri dari tangan PKB?
Pengamat dan dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi, membenarkan premis tersebut. Menurutnya, perebutan wilayah santri kini menjadi sasaran pemilu yang sangat terbuka karena telah terjadi pergeseran di dalam politik Jawa Timur. Batas-batas tegas yang selama ini memisahkan kubu abangan dan santri perlahan mulai mencair.
“Telah terjadi pencairan terkait dengan proses-proses politik. Basis sosial dari persekutuan santri sendiri sekarang diterima oleh PDI Perjuangan. Artinya, PDI-P tidak lagi dianggap sebagai kekuatan politik yang menjadi antitesis atau berkontras dengan pilihan politik santri,” papar Airlangga.
Likuidasi ini memberi karpet merah bagi banteng untuk menyeruduk masuk. Wilayah Tapal Kuda yang didominasi kultur pesantren kini menjadi sasaran perebutan yang sengit.
“Halaman santri itu biasanya di daerah Tapal Kuda dan Madura. Di wilayah-wilayah tersebutlah akan terjadi kontestasi yang seru untuk 'memerahkan' Jatim,” lanjut Airlangga.
Ia juga menyoroti munculnya tokoh-tokoh karismatik dari rahim PDI-P yang memiliki basis massa solid di wilayah Jatim, contohnya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Selain itu, agenda-agenda politik kultural seperti Soekarno Cup yang digelar di Jatim, menurut Airlangga,mempertegas agenda PDI-P untuk mengikis sekat kultural tersebut. Bagi PKB, manuver ini adalah tantangan nyata.
“Sebenarnya ini jadi tantangan [bagi PKB]. Potensi PDI-P sangat terbuka karena rasionalitas di balik pernyataan Bu Mega didukung oleh kondisi politik di lapangan,” tegas Airlangga.
Peran Anak Muda dalam Mengelola “Muntahan Bola Liar”
Tantangan terbesar PDI-P saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan pemilih tradisional dari kalangan baby boomer dan kelompok Marhaen tradisional. Jawa Timur kini dibanjiri oleh pemilih rasional dari Generasi Z dan milenial.
Langkah PDI-P yang merangkul anak muda dinilai Adi Prayitno sangatlah strategis. Di saat hampir seluruh kekuatan partai politik merapat ke kursi pemerintahan, PDI-P memilih untuk berada di luar, tampil sebagai penyeimbang kekuatan yang kritis.
"Anak muda itu preferensi politiknya kritis, out of the box , dan mereka adalah pemilih bebas. Mengingat posisi PDI-P saat ini berada di luar kekuasaan, perspektif mereka memang kritis. Kita bisa lihat di Jatim ada jubir muda seperti Seno Bagaskoro. Itu adalah bagian dari kerja politik menyasar ceruk pemilih yang signifikan," jelas Adi.
Adi mengistilahkan manuver PDI-P ini layaknya merengkuh keuntungan ganda.
“Satu sisi ingin membumikan ide-ide Marhaenisme sebagai keberpihakan pada kelompok marjinal. Tapi yang kedua, secara signifikan PDI-P berharap ada ‘muntahan-muntahan bola liar’ yang bisa didapatkan, yaitu bergabungnya anak-anak muda yang kritis menjadi kader mereka,” sambungnya.
Analisis ini sejalan dengan pandangan Airlangga Pribadi. Menurut pakar Unair tersebut, Gen Z memiliki kecenderungan menggemari entitas politik yang berani menggambarkan keadaan.
Ini juga tergambar terang dalam pidato Megawati saat agenda Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur yang juga menyelipkan pesan khusus untuk anak muda.
“Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar,” seru Megawati.
Integritas Bersih Jadi Syarat Mutlak
Ilustrasi Caleg DPR dan DPD. tirto.id/Quita

Peluang PDI-P untuk kembali menjuarai Pemilu 2029 di Jawa Timur terpampang nyata di atas kertas. Data selisih pemilih membuktikan mereka dengan PKB sangat bisa dikejar, sementara ceruk pemilih muda terus ditanggapi dengan narasi kritis.
Namun, Airlangga Pribadi memberikan satu catatan kritis yang wajib dipenuhi oleh partai liar. Narasi kritis tidak akan memikat Gen Z jika partai tidak menjaga integritasnya.
“Sejalan dengan semangat perubahan dan demokrasi. Tentunya PDI-P harus menunjukkan dirinya bersih sehingga benar-benar menjadi pijakan dan dipercaya legitimasi politiknya,” imbuhnya.
Pada akhirnya, pertarungan merengkuh Jawa Timur sebagai “Kandang Banteng” akan bermuara pada seberapa kuat kuat partai ini bertahan di akar rumput.
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































