tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, bergerak melemah 21 poin atau sekitar 0,12 persen menjadi Rp17.903 per dolar AS. Berbeda dengan rupiah, IHSG justru dibuka menguat.
Posisi rupiah tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan Jumat sebelumnya yang berada di level Rp17.882 per dolar AS. Pada perdagangan Jumat, rupiah justru menguat 84 poin atau 0,47 persen dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.966 per dolar AS.
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini menunjukkan pasar masih merespons perkembangan ekonomi AS serta arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.
Penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya antara lain dipengaruhi oleh menurunnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober.
Pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 69 persen pada pekan sebelumnya, tetapi kemudian turun menjadi sekitar 26 persen. Penurunan ekspektasi tersebut cenderung memberikan tekanan terhadap dolar AS karena investor melihat kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat menjadi semakin kecil.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang meningkat 3,4 persen secara tahunan (year-on-year).
Namun, pergerakan rupiah masih menghadapi sejumlah risiko eksternal. Salah satunya berasal dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” kata Ibrahim dikutip Antara, Jumat (2/10/2026).
Kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat. Jika tekanan inflasi meningkat, peluang penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat dapat kembali menjadi perhatian pasar.
Karena itu, meskipun data PCE yang lebih rendah memberikan sentimen positif terhadap rupiah, perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi pasokan energi global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
IHSG Menguat ke Level 6.055,16
Pada pembukaan perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak menguat. IHSG naik 18,27 poin atau 0,30 persen ke level 6.055,16.
Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin dalam Indeks LQ45, yang naik 1,90 poin atau 0,32 persen menjadi 597,36. Pergerakan tersebut melanjutkan tren positif pada akhir perdagangan pekan sebelumnya, ketika IHSG pada Jumat, 2 Oktober 2026, ditutup menguat 27,39 poin atau 0,46 persen ke posisi 6.036,89.
Penguatan IHSG pada Jumat terjadi menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik yang akan menjadi perhatian investor pada pekan berikutnya. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai IHSG masih cenderung bergerak dalam fase konsolidasi di sekitar level 6.000. Menurut proyeksinya, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada kisaran 6.000-6.200.
Investor akan mencermati sejumlah indikator ekonomi domestik, antara lain data cadangan devisa yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, 7 Oktober, kemudian indeks keyakinan konsumen pada Kamis, 8 Oktober, serta data penjualan ritel (retail sales) dan penjualan otomotif pada Jumat, 9 Oktober.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan pasar saham regional Asia yang bergerak bervariasi atau mixed dengan kecenderungan melemah. Sentimen eksternal masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Apabila konflik AS-Iran semakin meluas dan mengganggu distribusi energi, harga minyak berpotensi meningkat. Kenaikan harga energi kemudian dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu risiko yang diperhitungkan investor karena dapat memengaruhi prospek kebijakan moneter dan sentimen terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































