Salah Kaprah Ruqyah 'Menyembuhkan' LGBT yang Nirfaedah

Oleh: Aulia Adam - 4 September 2019
Dibaca Normal 7 menit
Meski tak terbukti, praktik ruqyah makin sering jadi alat “menyembuhkan” orang LGBT.
tirto.id - “Tiap jam 3 pagi, ada yang bisikin di kuping saya, pas lagi tidur,” kata Laras, 23 tahun, seorang lesbian.

Kejadiannya tahun lalu. Laras dikurung keluarga di rumah. Semua gerak-geriknya diawasi. Tak boleh ke mana-mana tanpa diikuti. Keluarganya melarang Laras bertemu tetangga sejak tahu identitas putrinya sebagai lesbian.

“Mereka malu, sampai aku sembuh,” katanya, sambil tertawa.

Tak hanya dikurung, Laras harus menjalani ritual-ritual aneh. “Makananku selalu dipisah. Mereka punya garam khusus buatku. Garam yang sudah didoakan.”

Di luar doa, garam khusus itu dipercayai keluarganya bisa mengusir jin dan makhluk gaib jahat. Sehingga, lewat makanan-makanan itu, jin lesbian dalam tubuh Laras bisa lenyap. Laras diharapkan bisa “sembuh” jadi “normal”. Padahal Laras tak pernah merasa sakit.

"I’m not sick, I’m okay."

Laras mulai menyadari orientasi seksualnya sejak SMP. Dan mulai menerima diri ketika kuliah. Pada masa-masa itu pula Laras menekuni dunia aktivisme dan paham bahwa LGBT adalah kelompok rentan yang hak-hak hidupnya direpresi oleh lingkungan sosial dan negara.

Ia ikut demo mendukung ide kesetaraan gender. Ia tertangkap kamera memegang bendera pelangi. Foto itu pula yang akhirnya sampai ke tangan keluarga Laras. Keputusan keluarga: Laras dikurung.

“Keluargaku sangat religius. Bahkan punya pesantren yang cukup tua dan dihormati,” kata Laras, yang berasal dari kota kecil di Jawa Timur.

Religiusitas dalam keluarganya itu membuat Laras harus mengenakan jilbab sejak SMP, tanpa boleh membantah atau mempertanyakan. Ia harus mematuhi aturan menjadi perempuan yang diyakini keluarganya. Maka, mengetahui sang putri adalah lesbian tentu bikin beban dan benalu di mata keluarga.

Tak cuma garam dan dibisiki doa setiap jam 3 pagi, Laras diharuskan duduk minum teh dan sarapan dengan seorang ustaz, yang adalah adik dari neneknya, setiap jam 7 pagi. Dalam sesi itu, ia selalu diceramahi supaya memahami LGBT adalah perbuatan dosa dan seorang LGBT akan berakhir di neraka.

Laras diyakinkan bisa berubah jika dari dalam dirinya menginginkan hal itu. Sang ustaz juga memintanya menjauhi kawan-kawannya yang dianggap penyebab Laras menjadi lesbian.

Proses yang diyakini sebagai pengobatan itu dilakukan selama tiga bulan sampai akhirnya Laras berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa ia sudah kembali menjadi heteroseksual. Ia berpura-pura menyukai laki-laki. Ia mengunggah foto mesra dengan teman laki-laki di media sosial, ditambahi keterangan foto bak pasangan mabuk kepayang.

Ketika orangtuanya mulai percaya dan kembali mengizinkannya ke luar rumah, Laras memutuskan pindah ke Jakarta dan mencari kerja agar mandiri.

“Aku enggak berubah (jadi) hetero (seksual), aku masih gay,” kata Laras, dengan nada enteng.

Ia kini tinggal bersama pacarnya di Jakarta, membangun keluarga sendiri. Laras bekerja di sebuah lembaga swadaya nirlaba sebagai tumpuan nafkah.

Basically, aku sebenarnya enggak paham ruqyah. Tapi, yang dilakukan keluargaku ya gitu. Mencoba mengobati my gayness lewat agama. Mereka pikir aku orang jahat, yang ada jin jahat di dalam badannya."

“Sebelum pergi, mereka sempat nahan aku. Mereka bilang akan penuhi semua kebutuhanku jadi aku enggak perlu ke Jakarta.” Namun, Laras sempat bertanya sekali lagi, “Apa kalian menerima kalau aku juga tetap suka perempuan?”

Keluarganya menjawab tidak.

Meninggalkan keluarga bukan pengalaman mudah. Tapi, sebagai lesbian, Laras paham bahwa memilih keluarga bukan hal asing bagi orang-orang LGBT.

Orientasi seksual yang masih dianggap "penyakit" biasanya punya dua ujung: dipaksa disembuhkan lewat ritual agama atau diusir dari rumah.

Maka, menjadi mandiri seringkali jadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup.

Itu juga yang dialami Andros, 26 tahun. Sebelum keduaorang tuanya meninggal, ia pernah diajak untuk ruqyah. Saat itu ia masih SMA. Perawakan Andros yang dianggap feminin meresahkan ayahnya, seorang pensiunan TNI. Ia dibawa ke seorang ustaz di Aceh—kota kelahirannya—yang konon sudah banyak "menyembuhkan" LGBT.

“Sembuh menurut mereka ya jadi heteroseksual, suka cewek, dan punya anak,” kata Andros.

Waktu itu Andros percaya ruqyah bisa mengubah dirinya sehingga sesuai harapan orangtua. Andros letih dibilang "bencong" dan "bukan laki-laki sejati" cuma karena ia malas main bola, atau ia punya lebih banyak kawan perempuan.

“Kalau memang mempan, apa salahnya nyoba?” tambahnya.

Andros ingat kepalanya dipijat oleh sang ustaz. Telinganya dibisiki ayat-ayat Alquran yang ia sendiri tak hapal. Sebelum ritual itu, Andros diceramahi tentang betapa berdosa perilaku menyukai sesama jenis. Ditakut-takuti panasnya api neraka dan betapa berdosa orangtuanya jika gagal mendidik Andros jadi laki-laki seperti yang mereka mau.

Ia ingat sempat menjerit. Ia ingat sempat sedih sekali sampai sesenggukan. Ibunya ikut menangis.

Pengalaman itu terjadi sembilan tahun lalu. Tapi, Andros masih ingat betapa sedih mengenang hari itu.

Sejak hari itu sampai orangtuanya meninggal, Andros harus berpura-pura “sembuh” dan menyukai perempuan.

“Aku sempat punya pacar perempuan beberapa kali, juga kubawa ketemu Ibu. Tapi supaya mereka senang saja. Padahal, saat bersamaan, aku punya pacar cowok."

Andros tak pernah diusir dari rumah atau kabur seperti Laras. Tapi, ia sepakat bahwa menjadi mandiri adalah satu-satunya cara ia bisa lepas dari tuntutan orangtua yang menolak menerima dirinya sebagai gay. Andros merasa tertolong karena saat kuliah di Jawa, ia bertemu teman-teman berpikiran terbuka.

“Mungkin kalau orangtuaku masih hidup, aku akan jujur kepada mereka. Karena sedih saja membayangkan bahwa seumur hidup mereka, ayah dan ibu sama sekali enggak kenal aku yang sebenarnya,” tambah Andros, kini bekerja sebagai pegawai BUMN di Jakarta.


Niat Mengobati yang Salah Kaprah

Ruqyah atau rukiah sudah lama dikenal sebagai "pengobatan alternatif" yang dipakai orangtua untuk "menyembuhkan" anak mereka dari "tanda-tanda LGBT."

Pengalaman seperti Laras dan Andros tidaklah sedikit, meski tak ada data resmi yang bisa menjadi rujukan akurat. Fenomena LGBT di-ruqyah meningkat setelah sentimen anti-LGBT juga meningkat sejak 2016 ketika sejumlah pejabat negara membuat pernyataan terbuka yang diskriminatif kepada kelompok rentan itu.

Fenomena Ruqyah meluas. Sejumlah pemerintah daerah menjadikannya sebagai jalan mendiskriminasi kelompok LGBT.

“Sekarang bahkan kita bisa lihat makin banyak regulasi diskriminatif kepada kelompok LGBT yang dibikin atas nama agama, terutama Islam,” kata Andreas Harsono, peneliti Human Right Watch sekaligus penulis buku Race, Islam, and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto.

Di Aceh, misalnya, Mei 2018, sepasang gay dicambuk 85 kali. Dua bulan kemudian, dua gay lain menerima hukuman cambuk di depan umum. Mengikuti jejak diskriminatif di Aceh, November 2018, 18 pasangan LGBT ditangkap Satpol PP Padang atas perintah Wali Kota Mahyeldi Ansharullah, 10 orang di antaranya lesbian dan 8 orang waria. Mereka dikirim ke Dinas Sosial untuk di-ruqyah.

Sebulan kemudian, Satpol PP Padang kembali menangkap pasangan gay di rumah kontrakan dan menyerahkan ke Dinas Sosial untuk di-ruqyah.

Jalur ruqyah ini, menurut Andreas, diambil sejumlah pemerintah daerah karena masih menganggap LGBT sebagai penyakit.

Kebijakan lebih tajam diambil Wali Kota Pariaman Genius Umar pada bulan yang sama. Ia merilis Perda 10/2018 tentang Ketenteraman dan Ketertiban Umum, di dalamnya melarang LGBT. Pasal 25 Perda itu menyebutkan, "Setiap orang laki-laki dan perempuan dilarang melakukan perbuatan asusila dengan sesama jenis atau melakukan perbuatan yang dimaksud dengan LGBT."

Sanksinya, bagi yang tertangkap atas tuduhan itu harus membayar Rp1 juta untuk biaya penegakan perda, ditambah pidana denda paling banyak Rp5 juta dan atau tiga bulan kurungan.

Pada 20 Agustus lalu, kami bertemu dengan Mahyeldi Ansharullah di rumah dinasnya. Bernada kalem dan percaya diri, Wali Kota Padang dari Partai Keadilan Sejahtera ini menjelaskan LGBT memang penyakit yang perlu ditangani sehingga pemerintah daerah perlu turun tangan.

Mahyeldi memandang kelompok LGBT sebagai kelompok eksklusif dan tertutup sehingga, sesuai instruksinya, Satpol PP perlu usaha lebih serius untuk turun ke jalan dan mendekati mereka.

“Kami bukan cuma mau melakukan pendekatan spiritual, tapi juga membangun dialog dan pendekatan logika,” katanya.

Tim ruqyah yang disiapkan Pemkot Padang melibatkan sejumlah organisasi yang sudah lama dikenal Mahyeldi. Misalnya, seperti Majelis Mujahidin Indonesia, Majelis Takziyah, Ukhuwah Islamiyah, Sanak Hijrah, dan Relawan Hijrah. Lewat tim itu, Mahyeldi mengklaim orang-orang LGBT yang telah "dibina" sudah sembuh dan berkomitmen memperbaiki diri.

“Berdasarkan info yang kami dapatkan dari ulama, LGBT disebabkan oleh jin ke dalam tubuh mereka. Misalnya, ada jin perempuan yang masuk ke tubuh laki-laki, maka dia jadi suka laki-laki juga, atau sebaliknya,” kata Mahyeldi.

Ia menegaskan "tabiat LGBT" sama sekali tidak cocok dengan Islam dan kultur warga Padang sehingga penting untuk memberantasnya.

Sayangnya, tak ada bukti ilmiah bahwa ruqyah bisa mengubah orientasi seksual.

Pandangan Mahyeldi bertolak belakang dengan sains. Pada 1987, Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) sepakat menghapus homoseksualitas dari Diagnostic and Statical Manual of Mental Disorders (DSM). Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa pada 1990.

Kementerian Kesehatan Indonesia sudah menghapusnya dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa sejak 1993. Pada Juni 2018, giliran transgender dihapus WHO dari dokumen International Classification of Diseases (ICD).

Pengusiran jin alias praktik ruqyah yang digagas Mahyeldi marak terjadi di tempat-tempat yang tak bisa menerima fakta di atas. Mereka cenderung punya sikap lebih religius. Di Australia atau Amerika Serikat, misalnya, praktik membersihkan LGBT lewat ritual Kristen biasa disebut "conversion theraphy."

Penelitian La Trobe University menilai terapi macam itu justru menyebabkan komunitas LGBT di seluruh dunia berada dalam “tekanan psikologis ekstrem.” Tim Jones, sejarawan budaya di La Trobe University, mengatakan semua responden penelitian itu setidaknya pernah ingin melakukan bunuh diri.

Sepertiga respondennya pernah didorong untuk menikah agar “sembuh” dan tak lagi menyukai sesama jenis. Sepertiga lainnya dipaksa melakukan terapi konversi saat mereka masih di bawah umur.

“Orang LGBT diberitahu bahwa mereka tidak normal ... dan tidak bisa menjadi bagian penuh dari masyarakat sampai mereka menjadi normal,” kata Dr. Jones.


'LGBT Bukan Penyakit'

Kami juga bertemu Ustaz Abu Albani yang membuka jasa ruqyah untuk segala keperluan, salah satunya menyembuhkan LGBT, di tiga klinik miliknya di Jakarta Timur, salah satunya bahkan menyediakan tempat rehabilitasi: pasiennya bisa menginap dan mengikuti tahap-tahap penyembuhan lebih lanjut.

“LGBT di Indonesia itu unik. Mereka sebetulnya sadar bahwa mereka salah jadi lebih tertutup dan eksklusif,” kata Abu saat kami bertemu di rumahnya, 14 Agustus lalu.

“Dan ruqyah akan lebih sulit bila tidak datang dari dirinya sendiri. Jadi kami menggunakan cara membangun komunikasi dan pelurusan logika supaya dia bisa terima lebih dulu sebelum lanjut ke proses berikutnya.”

Menurut Abu, yang gagal dipahami LGBT adalah Tuhan menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi. “Diciptakan berpasang-pasangan untuk bisa meneruskan keturunan. Mana mungkin Tuhan salah, kan?” kata Abu.

Ia mengklaim 95 persen pasiennya berhasil mengubah LGBT kembali menjadi heteroseksual. Abu enggan membeberkan nama-nama pasiennya karena hal itu termasuk dari kode etik yang ia jaga.

Ia percaya LGBT bisa disembuhkan dan meyakini penyebabnya dari tiga hal: kerasukan jin, pengaruh lingkungan, dan korban perkosaan.

Saya sempat tertegun saat Abu dengan percaya diri menyebut semua LGBT pasti pernah menjadi korban perkosaan. “Dan punya kecenderungan untuk melakukannya lagi pada korban baru saat mereka sudah dewasa,” kata Abu.

“Kuncinya adalah pelurusan logika. Mereka (LGBT) sebetulnya cuma butuh lingkungan yang terus mengingatkan mereka bahwa itu perbuatan salah; bahwa mereka bisa berubah,” tambah Abu, yang mengaku lulusan psikologi Islam dari universitas di Bandung.

Keyakinan Ustaz Abu Albani itu serupa diutarakan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah. Ia meyakini LGBT bukanlah bawaan lahir dan dapat diubah jadi heteroseksual. Dan ruqyah adalah terapi spiritual yang bisa menjadi "alat penyembuh."

Infografik LGBT dan Ruqyah
Infografik LGBT dan Ruqyah. tirto.id/Lugas


Pandangan-pandangan macam itu diluruskan Shinta Ratri, seorang transpuan yang juga muslim. Ia merupakan pemimpin Pondok Pesantren Al Fatah, Kota Gede, Yogyakarta, tempat yang menerima para waria sebagai santri.

Shinta tak menampik bahwa ruqyah adalah terapi spiritual yang bisa menenangkan hati seperti meditasi, meski ia belum pernah mencobanya. Ia sendiri pernah membawa beberapa kawan LGBT untuk melakukan ruqyah kepada ustaz di dekat rumahnya.

“Kemarin sempat bawa bule Italia. Dia gay. Katanya mau coba ruqyah. Ya sudah saya temani,” kata Shinta saat kami bertemu di rumahnya, pekan pertama Agustus kemarin.

Proses yang pernah dilihatnya mirip seperti yang ditayangkan program Ruqyah di Trans7. “Bedanya, kalau yang di sini (setelah ruqyah) dikasih jamu godokan,” tambah Shinta.

Berdasarkan pengalamannya, ruqyah tak pernah bisa membuat orientasi seksual atau ekspresi gender seseorang berubah. Menurutnya, itu cuma perkara perbedaan pemahaman. Belum semua orang paham bahwa LGBT adalah sesuatu yang bawaan (nature).

“Ruqyah itu dianggap sebagai pengobatan karena mereka mengira LGBT itu penyakit. Bisa diobati. Padahal tidak bisa diobati. LGBT bukan penyakit dan tidak menular,” kata Shinta.

Niki, salah satu aktivis kesehatan di Padang, memiliki pemahaman serupa Shinta. Ia pernah bertemu salah seorang LGBT yang sempat terjaring program ruqyah Wali Kota Padang. Niki berkata kawannya itu merasa lebih tenang secara spiritual setelah diruqyah meski sama sekali tak mengubah orientasi seksualnya.

“Kalau mau dibawa dari perspektif human rights, mungkin memang aneh. Tapi, faktanya, ada beberapa orang yang memang nyaman dengan ruqyah,” kata Niki.

“Sebetulnya, semua orang punya energi buruk walaupun kamu tidak merasakan apa-apa. Tapi, bisa saja muntah-muntah untuk mengeluarkan energi buruk itu,” tambah Shinta.

Namun, Pendeta Suarbudaya Rahardian dari Gereja Komunitas Anugerah punya penjelasan lebih ilmiah. Praktik pengusiran roh jahat—atau disebut terapi konversi—pada dasarnya proses latihan dengan teknik punish and reward.

Orang LGBT biasanya dijejali stigma-stigma yang menganggap eksistensinya sebagai dosa besar. Lalu diberikan hadiah ketika bisa memenuhi tuntutan heteronormatif. Atau, akan diberi hukuman jika melakukan hal yang dianggap salah.

“Kalau dilakukan bertahun-tahun, pasti akan terlihat perubahan. Paling enggak cara berpakaiannya tapi pertanyaannya, bertahan berapa lama?”

Pendeta Suarbudaya juga menjelaskan gejala menjerit, muntah, atau menangis yang biasa terjadi terhadap pasien eksorsisme.

“Secara psikologi itu bisa dijelaskan,” kata pendeta yang berpendidikan psikologis klinis ini.

“Bayangkan orang yang distigma selama berpuluh-puluh tahun kemudian dikonfrontir dengan masalahnya. Selama ini dia bisa lari pas distigma. [Tapi dalam proses] pas eksorsisme, dia enggak bisa lari. Tentu orang ini enggak punya self-defense mechanism. Akhirnya yang keluar katarsis: menjerit, menangis, muntah-muntah."

“Itu yang biasa diklaim sebagai jinnya,” ungkapnya, sambil tertawa.

________________

Nama Laras dan Andros merupakan nama samaran untuk melindungi narasumber. Laporan ini merupakan hasil kolaborasi reporter tirto.id Aulia Adam dan Emily Johnson, jurnalis paruh waktu di New York. Laporan ini didukung oleh program Round Earth Media dari Internasional Women’s Media Foundation.

Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Mawa Kresna
Artikel Lanjutan
DarkLight