tirto.id - Mantan Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Gogot Suharwoto, mengungkapkan alasan di balik keputusan pemerintah untuk menghentikan pengadaan laptop jenis Chromebook bagi sekolah-sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), pada akhir tahun 2019.
Dalam kesaksiannya di persidangan, Gogot menjelaskan bahwa pada awalnya Kemendikbud melakukan pengadaan tahap pertama pada Maret 2019. Saat itu, katanya, setiap sekolah dari 500 satuan pendidikan menerima masing-masing dua unit laptop Windows dan dua unit Chromebook.
Namun, memasuki pengadaan tahap kedua di bulan Oktober 2019 untuk 1.300 sasaran, pihak kementerian memutuskan untuk berhenti menggunakan Chromebook.
“Dari evaluasi itulah kita stop Chromebook di pengadaan Oktober 2019,” kata pria yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, di dalam Ruang Sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2026).
Gogot pun menjelaskan keputusan tersebut merupakan hasil dari survei yang dilakukan kementeriannya. Gogot melanjutkan, kementeriannya meminta para sekolah yang menerima Chromebook untuk memberikan testimoni. Hasilnya, katanya, terdapat empat faktor yang rupanya membuktikan penggunaan Chromebook di daerah 3T kurang efektif.
“Kita melakukan survei, kita minta sekolah-sekolah yang pernah menerima Chromebook sebelumnya untuk memberikan respon. Kita kirim dari 500 sekolah yang pernah menerima, 90 yang merespon,” ucap Gogot.
Pertama, kata Gogot, nyawa dari Chromebook adalah koneksi internet. Sementara itu, sekolah di daerah 3T mayoritas mengandalkan koneksi satelit. “Hanya karena daerah 3T secara demografis banyak tantangan, ada awan tebal saja internetnya sudah goyang karena pakai satelit,” terang Gogot.
Kedua, lanjutnya, berdasarkan survei terhadap sekolah penerima, banyak guru dan tenaga pendidik yang merasa asing dengan antarmuka (interface) Chromebook. “Intinya tidak biasa menggunakan Chromebook, SDM nya. Guru-guru terutama ya, karena kita berikan untuk guru,” tutur dia.
Kemudian, pada tahun 2019, kata Gogot, pemerintah masih menjalankan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Berdasarkan evaluasi teknis, Chromebook pada saat itu belum bisa digunakan untuk menjalankan aplikasi ujian nasional tersebut. Lalu faktor keempat adalah terbatasnya kemampuan Chromebook untuk meng-install aplikasi tambahan di luar ekosistem Google.
Gogot mencontohkan aplikasi Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang sangat krusial bagi administrasi sekolah, tidak dapat berjalan di sistem operasi tersebut.
“Contoh kita punya aplikasi Dapodik, itu tidak bisa. Kemudian juga beberapa aplikasi-aplikasi yang tidak approve oleh Google tidak bisa dioperasikan di dalam Chromebook,” katanya.
“Jadi 4 alasan itu yang membuat kita di Oktober 2019 kita stop menggunakan Chromebook. Fully 4 itu adalah Windows semua,” tambahnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































