Menuju konten utama

Rupiah Menguat ke Rp17.963 per US$ Jelang Akhir Pekan

Rupiah terapresiasi 32 poin atau 0,18 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.995 per dolar AS.

Rupiah Menguat ke Rp17.963 per US$ Jelang Akhir Pekan
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.963 pada perdagangan hari ini, Jumat (3/7/2026). Rupiah terapresiasi 32 poin atau 0,18 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.995 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal, salah satunya negosiasi antara Washington dan Teheran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa dia percaya Iran telah "menyetujui hampir semua yang kita butuhkan," menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar.

Meski demikian, laporan Wall Street Journal menyebut bahwa Teheran telah menolak proposal untuk melepaskan klaimnya atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pelepasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan.

Sinyal yang beragam tersebut membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang, bahkan ketika kekhawatiran akan gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk terus mereda.

"Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah Teluk, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS untuk mendapatkan arah baru bagi harga minyak," jelas Ibrahim dalam rilis hariannya.

Sementara itu, sinyal positif datang dari dalam negeri AS di mana tingkat pengangguran secara tak terduga sedikit menurun menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 4,3 persen. Pendapatan Per Jam Rata-rata pada bulan Juni naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,5 persen secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi 51 persen dari 63 persen sebelum rilis data," tuturnya.

Adapun dari domestik salah satu pandangan investor tertuju pada mesin penerimaan pajak penghasilan (PPh) Indonesia yang mulai kehilangan tenaga. "Laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026 merekam penerimaan dari kelompok pajak atas penghasilan, laba, dan keuntungan modal (taxes on income, profits and capital gains) praktis tidak mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya," terang Ibrahim.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana