Menuju konten utama

Purbaya Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sentuh 5,5% Akhir 2026

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ini bisa dicapai jika pendapatan yang berhasil dikumpulkan negara juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Purbaya Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sentuh 5,5% Akhir 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). Menteri Keuangan menyatakan optimis ekonomi nasional bisa tumbuh enam persen yang didukung dari Bank Indonesia dalam mendorong perekonomian nasional pada 2026. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2026 bisa menembus 5,5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Jika tercapai, realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut akan lebih tinggi dibanding capaian tahun sebelumnya yang sebesar 5,39 persen (yoy).

“Triwulan IV (tahun lalu) pertumbuhannya 5,39 persen. Sekarang sepertinya bisa di atas 5,5 persen,” ujar dia dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).

Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ini bisa dicapai jika pendapatan yang berhasil dikumpulkan negara juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, realisasi belanja kementerian/lembaga (K/L) juga berjalan dengan lebih konsisten.

“Kenapa bisa begitu? Karena kita menjaga private sector (sektor swasta) untuk tumbuh lebih baik. Jangan hanya melihat dari sisi pemerintah, karena 90 persen pergerakan ekonomi ada di private sector,” tambahnya.

Karena itu, saat ini pemerintah tengah berusaha untuk memastikan kondisi investasi berjalan baik dengan melakukan debottlenecking. “Selama sektor privat tumbuh dengan baik, ekonomi ke depan akan membaik terus. Percaya sama saya,” lanjut Purbaya.

Sementara itu, soal defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) triwulan I 2026 yang sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik memang sengaja ditempuh pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah sengaja memperbesar defisit di awal tahun.

“Saya ingin menciptakan kondisi di mana belanja pemerintah tumbuh hampir merata sepanjang tahun, jangan sampai menumpuk di akhir tahun seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga dampak ekonominya tidak optimal. Jadi, defisit yang membesar di awal adalah konsekuensi logis dari kebijakan ini,” jelas Purbaya.

Namun demikian, pemerintah akan menjaga agar kualitas belanja pemerintah tetap berkualitas. Karenanya, saat ada belanja yang terlihat ‘ngawur’, Kementerian Keuangan bisa memilih untuk tidak mencairkan permohonan dana dari kementerian/lembaga tersebut.

“Langkah disiplin ini sudah kita lakukan sejak tahun 2025 sehingga belanja lebih terkontrol. Waktu itu kita umumkan defisit APBN 2025 di angka 2,91 persen. Namun, ada indikasi saat ini defisitnya lebih bagus, mungkin di kisaran 2,8 persen. Saat ini masih diaudit oleh BPK. Jadi, kondisi anggaran kita tidak seburuk yang diduga,” pungkas Purbaya.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang