Menuju konten utama

Prospek Cerah Industri Tekstil dari Kontestasi Pemilu 2024

Ekonom CORE sebut jika berkaca pada Pemilu 2019, memang terjadi peningkatan pertumbuhan industri tekstil dan produk turunannya.

Prospek Cerah Industri Tekstil dari Kontestasi Pemilu 2024
Pekerja menjahit kain di industri tekstil rumahan C59 di Bandung, Jawa Barat, Senin (25/6/2018). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

tirto.id - Habis Gelap Terbitlah Terang, sebuah buku karangan Raden Ajeng Kartini atau akrab disebut RA Kartini mengungkapkan bahwa setiap manusia akan mengalami masa-masa sulit. Namun, juga akan merasakan masa-masa membahagiakan. Kondisi itulah yang diperkirakan akan menjadi titik balik perjalanan industri tekstil di Tanah Air saat ini.

Ketika pandemi COVID-19, kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sempat berdengung di seantero negeri. Badai itu tak sekadar menghantam perusahaan teknologi, melainkan juga industri tekstil dan pakaian jadi (garmen).

Kementerian Perindustrian pada 8 November 2022, melaporkan tenaga kerja yang terdampak mencapai 92.149 orang dari industri tekstil dan garmen, dan 22.500 orang dari industri alas kaki. Laporan dari sejumlah asosiasi yang diterima Kemenperin mengungkap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki tengah mengalami kinerja yang melambat.

Musababnya yakni menurunnya utilisasi di sektor industri serat (20 persen), spinning/pemintalan (30 persen), tenun dan rajut (50 persen), garmen (50 persen), pakaian bayi (20 sampai 30 persen), dan alas kaki (49 persen). Beberapa perusahaan itu sudah ada yang memangkas jam kerjanya jadi 3-4 hari, yang biasanya 7 hari kerja.

Setelah sempat terpontang-panting melewati masa pandemi, industri tekstil seraya kembali mendapatkan angin segar. Industri turunannya seperti kaos dan sablon mengelap berkah dari kontestasi politik jelang Pemilu 2024.

Rifky Adnan salah satunya. Pemilik toko Smile Printing ini mengaku telah mendapatkan banyak orderan dari berbagai partai politik. Kebanyakan pesanan adalah spanduk dan banner. Dalam sekali order, ia mengaku bisa puluhan bahkan ratusan.

“Saat ini kebanyakan baru dari caleg pesan spanduk dan bendera,” kata pria asal Cibitung, Bekasi, Jawa Barat itu kepada reporter Tirto.

Rifky menuturkan, orderan masuk dari partai sudah ada sejak pertengahan Juli 2023. Secara omzet pendapatan, dalam hitungannya bahkan sudah mencapai 60 persen. Namun itu belum dihitung dengan permintaan masuk pada awal Agustus ini.

“Ini masih banyak yang masuk, kami perkirakan akan terus bertambah jadi mudah-mudahan ini momentum baik," kataya.

Berkah lainnya juga dirasakan Adrianto, pemilik toko Rafathar Advertising. Dia mengaku sudah kebanjiran order dari partai politik sejak Juli 2023. Kebanyakan pesanan yang masuk adalah dalam bentuk kaos, bendera, hingga spanduk para caleg.

“Kebanyakan dari caleg kaos bendera rompi yang signifikan paling banyak," kata dia kepada Tirto.

Sampai saat ini, permintaan di tempatnya bahkan sudah meningkat mencapai 60 persen. Peningkatan permintaan itu pun mendorong omzetnya tembus 50 persen dari biasanya. "Omzet sekarang lumayan ada peningkatan 50 persen," katanya.

Dia menuturkan rata-rata satu kali order dari partai bisa mencapai ratusan kaos. Belum lagi bendera dan atribut lainnya yang mencapai 1.000 pcs.

“Insyaalah siap kita, orderan caleg itu selesai Agustus, kami sudah mulai siaga I. Dari satu orang kadang-kadang sedikit 50 kwintal kaos sampai 100, bendera 1.000," ujarnya.

Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito megamini bahwa kontestasi politik pada 2024, akan mendorong kinerja industri tekstil Indonesia dan turunannya.

“Dengan banyaknya partai, pasti kan menggeliatkan garmen kita. Ini juga berdampak ke hulunya baik kain dan benang. Saya yakin, optimis di tahun politik itu jadi berkah buat industri tekstil dan produk tekstil,” katanya.

Warsito meyakini kegiatan kampanye di tahun politik kali ini akan cukup masif meski tidak menyebutkan berapa besaran proyeksi pertumbuhan industri tekstil. Terlebih, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah keseluruhan pemilih Pemilu 2024 diprediksi mencapai 206 juta orang, diproyeksikan ada sekitar 110 juta penduduk berusia 20-44 tahun akan ambil bagian Pemilu 2024.

“Itu akan berdampak pada (produksi) kaos-kaos partai,” katanya.

Dalam catatan Kemenperin, pada triwulan I 2023, laju pertumbuhan PDB industri TPT sebesar 0,07 persen, melambat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 3,61 persen (yoy). Kontribusi PDB industri TPT terhadap PDB nasional pada triwulan I 2023 juga mengalami penurunan menjadi 1,01 persen jika dibandingkan dengan triwulan I 2022 sebesar 1,10 persen.

Penurunan juga terjadi pada utilisasi industri tekstil di Mei 2023, yaitu menjadi 67,59 persen. Begitu pula industri pakaian jadi yang penurunan utilisasinya menurun hingga 74,79 persen.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengamini, setiap tahun politik, baik pemilu, pilpres, atau pilkada, industri TPT merupakan industri yang ikut meningkat kinerjanya. Hal ini didasari karena permintaan meningkat.

“Gelaran politik tersebut masih butuh baju untuk kampanye dan cara ini masih dilakukan di daerah-daerah. Maka tahun politik tahun 2023 dan 2024 bisa menjadi momentum untuk meningkatkan permintaan produk TPT dalam negeri," katanya kepada Tirto, Kamis (3/8/2023).

Selain sektor TPT, sektor yang terdampak lainnya adalah sektor transportasi, sektor telekomunikasi, serta sektor penyediaan makan minum. Permintaan mereka, kata Huda biasanya meningkat ketika memasuki tahun politik.

Namun demikian, ada kekhawatiran di kota-kota besar ada pergeseran pola kampanye menjadi kampanye secara digital menggunakan akun media sosial. "Ini akan menggerus permintaan walaupun tidak banyak menurut saya," ujarnya.

Ilustrasi industri tekstil

Ilustrasi industri tekstil. tirto.id/Andrey Gromico

Berkaca pada Tahun Politik Sebelumnya

Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy menuturkan, jika belajar dari pergelaran tahun politik 2019, memang terjadi peningkatan pertumbuhan industri tekstil dan produk turunannya. Namun demikian, kasus yang sedikit berbeda didapatkan pada Pemilu 2014. Saat itu, justru industri tekstil dan produk turunannya tidak mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Sehingga saya kira memang tahun politik bisa menjadi pendorong industri tekstil dan produk turunannya," katanya kepada Tirto.

Walaupun bisa menjadi pendorong, tetapi industri tekstil bukanlah satu-satunya faktor yang kemudian bisa mempengaruhi kinerja dari industri tersebut. Apalagi selama ini untuk skala global kinerja dari industri ini memang mengalami persaingan dengan negara-negara baru seperti Bangladesh yang pada muaranya menekan daya saing dari kinerja industri ini.

"Sehingga saya kira kalau kita bicara konteks global memang masih banyak pekerjaan rumah yang kemudian perlu dilakukan agar industri tekstil dan produk turunannya itu bisa kembali menempatkan diri pada industri yang punya daya saing. Sehingga permintaan terhadap industri ini kembali mengalami peningkatan," jelasnya.

Yusuf melihat selain momentum tahun politik yang bisa menjadi dorongan untuk industri ini, beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga membantu industri ini kembali tumbuh. Seperti pelarangan impor baju bekas yang bisa menjadi faktor lain yang bisa mendorong kinerja industri ini di tahun depan.

"Sekali lagi ini kembali kepada bagaimana pelaku usaha di industri ini memanfaatkan kedua momentum tersebut," katanya.

Sektor Lain yang Terdongkrak

Lebih jauh, Yusuf melihat ada beberapa sektor lain yang kemudian bisa terdorong di tahun politik. Misalnya, sektor telekomunikasi yang berpotensi mendapatkan keuntungan dengan pergelaran tahun politik.

“Mengingat saat ini kampanye tidak hanya dilakukan melalui luar jaringan tetapi juga melalui daring dan juga melalui kampanye di media sosial," katanya.

Selain itu, beberapa subsektor industri manufaktur juga akan menikmati tahun politik. Seperti industri makanan minuman, alas kaki, dan lainnya.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menambahkan, tahun politik akan mendongkrak penjualan baju khususnya segmen menengah bawah akan naik. Pertama, bisnis sablon kaos partai, caleg akan naik drastis.

“Misalnya mau ada kampanye atau konvoi pendukung maka atribut kaos masih diminati," katanya kepada Tirto.

Kedua, kata Bhima, tidak semua politik uang berakhir dengan pembelian sembako. Karena, menurutnya, ada juga yang membelanjakan Rp100 ribu uang dari caleg untuk beli baju.

“Tapi ya segmennya menengah bawah. Sementara kelas atas selama pemilu cenderung berhemat," ujarnya.

Sementara sektor yang tumbuh selama pemilu di ataranya adalah sewa tempat, perhotelan, restoran, event organizer, percetakan, periklanan, media cetak dan elektronik, sewa panggung, jasa seni budaya, dan jasa sewa transportasi.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI TEKSTIL atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Bisnis
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz