tirto.id - Kepala Posko Wilayah Aceh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Safrizal ZA mamaparkan progres rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) untuk pemulihan berbagai sektor di Provinsi Aceh.
Safrizal memaparkannya dalam Diskusi Publik "Percepatan Rehabilitas dan Rekonstruksi Pascabencana Provinsi Aceh: Memperkuat Kolaborasi Perguruan Tinggi untuk Pemulihan yang Berkelanjutan" di Jakarta pada Jumat (24/7/2026).
Di sektor infrastruktur, perbaikan konektivitas di Aceh sudah mengalami kemajuan cukup signifikan. Menurut Safrizal, seluruh jalan nasional dan jembatan nasional yang terdampak telah pulih 100 persen.
Sebanyak 92 persen jalan provinsi yang terdampak bencana di Aceh pun telah berfungsi lagi. Hanya pemulihan jembatan daerah yang baru berjalan 54 persen.
Untuk sektor ekonomi, 90 persen pasar rakyat yang terdampak bencana di Aceh sudah aktif kembali. Dari 127 pasar yang terdampak, 114 di antaranya sudah beroperasi.
Data Satgas PRR pun menunjukkan 88,89 persen UMKM (resto, cafe, warung, dan toko) di 16 wilayah kabupaten/kota terdampak sudah beroperasi normal.
Sementara untuk pertanian, dari target pemulihan 31.464 hektar sawah di Aceh, 7.340 hektare sudah selesai dipulihkan. Masih ada 28.170 hektar sawah yang saat ini dalam proses pemulihan.
Di sektor pemerintahan, sejauh ini seluruh kantor desa sudah menjalankan aktivitas normal seperti halnya di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan.
Namun, perbaikan fasilitas kantor desa yang terdampak bencana di Aceh baru berjalan 16,66 persen. Ada 1.550 kantor desa yang terdampak. Sebanyak 975 sudah menjalankan pemerintahan di kantor desa, 12 di huntara, dan 163 lainnya di rumah perangkat desa atau gedung serbaguna.
Kemudian di sektor kesehatan, seluruh RSUD, puskesmas, hingga puskesmas pembantu (pustu) sudah beroperasi normal 100 persen. Sebelumnya, ada 23 RSUD, 309 puskesmas, dan 860 pustu di Aceh sempat terdampak bencana pada November 2025 lalu.
Adapun di sektor pendidikan, dari 3.120 sekolah yang terdampak bencana di Aceh, semua telah 100 persen kembali menggelar kegiatan belajar-mengajar. Hanya saja, ada sejumlah sekolah yang hingga kini belum bisa membuka kelas di gedung asal.
Safrizal memaparkan, ada 3.056 sekolah yang sudah menjalankan aktivitas pendidikan di gedung asal. Lalu, 45 sekolah menempati kelas darurat, 15 di tenda, dan 4 menumpang di fasilitas lain.
Khusus bagi sekolah yang masih menempati tenda, sedang dibangunkan kelas darurat dengan target tuntas pada Juli 2026.
Selain itu, sebanyak 3.085 sekolah terdampak bencana di Aceh juga menerima bantuan revitalisasi gedung dengan nilai total Rp1,7 triliun. Tidak semua sekolah terdampak menerima bantuan karena ada yang hanya mengalami masalah terkait akses atau SDM, bukan kerusakan gedung.
Pemulihan juga dilakukan di rumah-rumah ibadah yang terdampak bencana. Dari 918 rumah ibadah terdampak, 906 di antaranya sudah pulih. Untuk pemulihan ini, pemerintah mengucurkan dana bantuan rehabilitasi senilai Rp3,7 miliar.
Bencana banjir bandang dan longsor pada November 2025 lalu berdampak luas di Aceh. Tercatat, ada 15 kabupaten dan tiga kota yang terkena dampaknya.
Bencana melanda 234 kecamatan dan 3.978 desa dengan luasan area terdampak mencapai 49.062,12 km2.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id




























