tirto.id - Kabar duka datang dari keluarga besar Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Reniyanti Hoegeng, putri sulung mantan Kapolri tersebut, meninggal dunia pada Selasa (8/9/2026) dalam usia 78 tahun.
Reniyanti mengembuskan napas terakhir di Eka Hospital Depok sekitar pukul 00.43 WIB. Jenazah kemudian disemayamkan di rumah duka kawasan Pesona Khayangan, Depok, sebelum dimakamkan di Pemakaman Giri Tama, Tonjong, Kabupaten Bogor, pada Selasa setelah zuhur.
Kabar wafatnya Reniyanti turut disampaikan sejumlah tokoh, termasuk mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
“Saya mengenal mbak Reniyanti Hoegeng cukup lama. Kita sering bertemu dan diskusi, sambil nostalgia mengenang kisah-kisah hebat dari sosok Jenderal Hoegeng yang melegenda. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un... Selamat jalan mbak Reni, saya bersaksi njenengan orang baik. Alfatihah,” tulis Ganjar dalam unggahan di akun IG @ganjar_pranowo hari ini.
Profil Reniyanti Hoegeng
Reni Soerjanti Hoegeng, atau yang juga dikenal sebagai Reniyanti Hoegeng, merupakan putri sulung dari pasangan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso dan Meriyati Roeslani Hoegeng (Meri Hoegeng).
Ia lahir dalam keluarga yang dikenal luas melalui sosok ayahnya, mantan Kapolri yang dikenang karena integritas, kesederhanaan, dan keteguhannya dalam menolak korupsi serta gratifikasi.
Reniyanti merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adiknya adalah Aditya Soetanto Hoegeng dan Sri Pamujining Rahayu.
Dalam kehidupan sosialnya, Reniyanti juga dikenal memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh nasional. Ia disebut pernah bersekolah di Perguruan Cikini, sekolah yang juga pernah menjadi tempat pendidikan Megawati Soekarnoputri, sehingga keduanya kemudian dikenal sebagai sahabat.
Reniyanti pernah menikah dengan Rudy Wowor, aktor senior keturunan Manado-Belanda, pada 1975 hingga 2003. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua anak, yakni Siti Madinah dan Michael Ben Syura Sondia Wowor. Rudy Wowor sendiri telah terlebih dahulu meninggal dunia pada 5 Oktober 2018 karena penyakit kanker prostat yang dideritanya.
Reniyanti meninggal dunia pada Selasa, 8 September 2026, di Eka Hospital Depok pada usia 78 tahun. Keterangan keluarga menyebutkan waktu wafatnya sekitar pukul 00.43 WIB. Penyebab kematiannya tidak disampaikan secara terbuka.
Namun, informasi yang diunggah Antara (8/9/2026) menyebut kondisi kesehatan Reniyanti sempat menurun dalam beberapa waktu terakhir dan sekitar dua pekan sebelum meninggal ia menjalani perawatan terkait jantung sebelum sempat diperbolehkan pulang.
Jenazah Reniyanti disemayamkan di rumah duka di kawasan Pesona Khayangan, Depok, sebelum diberangkatkan untuk dimakamkan di Pemakaman Giri Tama, Tonjong, Kabupaten Bogor, pada Selasa setelah waktu zuhur.
Kepergiannya menjadi kehilangan bagi keluarga Hoegeng sekaligus menandai berpulangnya salah satu anggota keluarga yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup keluarga mantan Kapolri tersebut.
Wafatnya Reniyanti juga terjadi tidak lama setelah keluarganya kehilangan sang ibu, Meriyati Roeslani Hoegeng atau Eyang Meri, yang meninggal dunia pada tahun yang sama dalam usia 100 tahun.
Meri merupakan istri Jenderal Hoegeng dan ibu dari tiga anak, termasuk Reniyanti. Meri lahir pada 23 Juni 1925 di Yogyakarta dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe, kemudian menikah dengan Hoegeng pada 1946.
Selain mendampingi Hoegeng dalam perjalanan hidup dan kariernya, Meri juga memiliki kehidupan yang dekat dengan dunia seni. Setelah Hoegeng pensiun dari kepolisian, keduanya mendirikan kelompok musik The Hawaiian Singers, yang kerap tampil di berbagai kesempatan dan pernah mengisi program musik di TVRI.
Sedangkan sosok ayah Reniyanti, Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, merupakan salah satu tokoh paling dikenang dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia. Hoegeng menjabat sebagai Kapolri ke-5 pada 1968–1971 dan dikenal karena sikapnya yang tegas terhadap korupsi, suap, serta gratifikasi.
Ia juga dikenal menjalani kehidupan sederhana meskipun pernah menduduki berbagai jabatan penting dalam pemerintahan dan kepolisian.
Keteguhan Hoegeng dalam menjaga integritas bahkan melahirkan ungkapan yang sangat populer dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menyebut hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap: “patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.” Ungkapan tersebut kemudian melekat kuat pada citra Hoegeng sebagai simbol polisi yang bersih dan berintegritas.
Hoegeng lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921 dengan nama Iman Santoso dan merupakan putra Soekarjo Kario Hatmodjo, seorang jaksa di Pekalongan, dan Oemi Kalsoem.
Sejak kecil, ia telah memiliki cita-cita menjadi polisi dan terinspirasi oleh R. Soeprapto, yang merupakan teman ayahnya. Ia menempuh pendidikan mulai dari HIS, MULO, AMS Westers Klassiek hingga Rechts Hoge School Batavia untuk mempelajari ilmu hukum.
Ketika masa pendudukan Jepang, Hoegeng mengikuti pendidikan kemiliteran dan kepolisian sebelum mulai menjalankan tugas di kepolisian. Kariernya kemudian berkembang melalui berbagai posisi, termasuk di kepolisian Jawa Timur, reserse kriminal di Medan, hingga menjadi Kepala Jawatan Imigrasi dan menduduki sejumlah jabatan pemerintahan.
Ia bahkan pernah menjabat Menteri Luar Negeri pada 1965 dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada 1966, sebelum kembali ke lingkungan kepolisian dan akhirnya mencapai puncak karier sebagai Kapolri pada 1968.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng tetap dikenal sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan pentingnya integritas. Ia meninggal dunia pada 14 Juli 2004, tetapi namanya terus dikenang sebagai simbol kesederhanaan dan keberanian dalam menjalankan tugas.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































