tirto.id - Ketua DPD Golkar Maluku Utara, Agrapinus Rumatora atau Nus Kei tewas ditusuk di Bandara Karel Sadsuitubun yang terletak di Kecamatan Kei Kecil pada Minggu (19/4/2026).
Ketua DPD I Golkar Maluku, Umar A. Lessy, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mengutuk keras tindakan kekerasan tersebut. Ia menilai insiden ini tidak hanya berdampak pada keluarga korban, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas sosial di Maluku Tenggara.
"Kami minta ini diusut tuntas dan sekaligus menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden penikaman yang menimpa Ketua Partai Golkar Malra," kata Ketua DPD I Partai Golkar Maluku Umar A. Lessy dalam pernyataan tertulis di Ambon dikutip Antara News,Minggu (19/4/2026).
Masyarakat, khususnya keluarga korban dan simpatisan, diimbau untuk menahan diri dan tidak melakukan aksi balasan. Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa situasi di wilayah tersebut tetap aman dan kondusif, serta berkomitmen untuk memberikan perkembangan penanganan kasus secara berkala kepada publik.
"Mendorong semua pihak termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama dan elemen pemuda untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi," ujarnya.
Profil Nus Kei
Agrapinus Rumatora, yang lebih dikenal dengan sapaan Nus Kei, merupakan seorang tokoh asal Kepulauan Kei, Maluku, yang memiliki pengaruh cukup besar baik di ranah sosial maupun politik.
Ia menyandang gelar akademik Doktorandus, setara S1 terdahulu, umum digunakan di Indonesia hingga sekitar tahun 1993, khususnya untuk bidang ilmu sosial, pendidikan, dan humaniora.
Dalam perjalanan karier politiknya, Nus Kei pernah mencalonkan diri sebagai bakal Bupati Maluku Tenggara untuk periode 2024–2029, namun tidak terpilih.
Saat ini ia menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara.
Kiprahnya di dunia politik turut diikuti oleh putrinya, Desly Claudya Rumatora, yang pernah mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Maluku Tenggara.
Di sisi lain, kehidupan Nus Kei juga kerap menjadi sorotan karena hubungan kekerabatannya dengan John Kei, seorang figur yang dikenal luas terkait kelompok preman di Jakarta dan Tangerang.
Nus Kei sendiri menjelaskan bahwa hubungan mereka sangat dekat, yakni sebagai paman dan keponakan, di mana John Kei memiliki nama lengkap John Refra Kei. Relasi keluarga ini sempat menjadi perhatian publik ketika terjadi konflik terbuka di antara keduanya pada Juni 2020.
Perselisihan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan terkait pembagian hasil penjualan tanah, yang kemudian berujung pada aksi penyerangan terhadap kediaman Nus Kei di kawasan Green Lake City, Cipondoh, Tangerang.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu insiden besar yang menyeret nama keduanya ke ruang publik. Penyerangan yang dilakukan oleh kelompok yang diduga terkait dengan John Kei mengakibatkan korban jiwa, yakni seorang anak buah Nus Kei bernama Yustus Corwing Rahakbauw.
Aparat kepolisian kemudian bergerak cepat dengan menangkap sekitar 30 orang pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk John Kei sendiri setelah ditemukan bukti keterlibatan.
Kronologi Penusukan Nus Kei Ketua DPD Partai Golkar Maluku Utara
Pada Minggu, 19 April 2026, ketika Nus Kei tiba di Kabupaten Maluku Tenggara dari Jakarta dalam rangka agenda internal partai, sekitar pukul 11.25 WIT, sesaat setelah keluar dari area kedatangan di Bandara Karel Sadsuitubun yang terletak di Kecamatan Kei Kecil, korban secara tiba-tiba diserang oleh orang tak dikenal.
Pelaku langsung menikam korban menggunakan senjata tajam di area pintu keluar bandara, lalu melarikan diri dari lokasi kejadian. Peristiwa berlangsung cepat di ruang publik sehingga mengejutkan keluarga dan masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Setelah kejadian, korban yang mengalami luka serius segera dievakuasi oleh pihak keluarga menuju RS Karel Sadsuitubun sekitar pukul 12.00 WIT untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, akibat luka tusukan yang parah, tim medis menyatakan korban meninggal dunia tidak lama setelah tiba di rumah sakit.
Informasi ini kemudian dikonfirmasi oleh Kombes Pol. Rositah Umasugi selaku Kabid Humas Polda Maluku, yang membenarkan bahwa peristiwa tersebut merupakan tindak pidana penikaman yang menyebabkan korban meninggal dunia.
“Tiba-tiba korban ditikam oleh orang tidak dikenal menggunakan sebilah pisau. Terduga Pelaku langsung melarikan diri usai kejadian,” jelas Kombes Pol. Rositah dikutip laman resmi Tribrata News Polri (19/4/2026).
Merespons kejadian itu, aparat dari Polres Maluku Tenggara yang dipimpin langsung oleh Kapolres Rian Suhendi bergerak cepat melakukan pengejaran. Dalam waktu sekitar dua jam setelah kejadian, polisi berhasil menangkap dua orang terduga pelaku berinisial HR (28) dan FU (36).
Keduanya kemudian diamankan dan dibawa ke Satuan Reserse Kriminal untuk menjalani pemeriksaan intensif.
"Petugas dengan dipimpin langsung Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi menangkap dua terduga pelaku dalam waktu sekitar dua jam setelah kejadian. Keduanya masing-masing berinisial HR (28) dan FU (36)," ungkap Kombes Pol. Rositah dikutip Antara (19/4/2026).
Hingga saat ini, motif di balik penikaman masih dalam tahap pendalaman oleh penyidik. Pihak kepolisian memastikan proses hukum berjalan secara profesional, transparan, dan tuntas.
“Untuk motif, sementara masih dilakukan pendalaman oleh penyidik,” pungkasnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























