John Kei: Tiga Dekade Sepak Terjang di Dunia Preman & Politik

Ilustrasi John Kei. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 25 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Setelah tahun 1992, sepak terjang John Kei mulai diperhitungkan di Jakarta.
Awal tahun 2020, John Refra Kei alias John Kei diperkenalkan Diaz Hendropriyono sebagai kader baru Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

John Kei cukup sohor, setidaknya dalam dua dekade terakhir namanya sering jadi bahan pemberitaan, salah satunya terkait kasus pembunuhan bos Sanex Steel, Tan Harry Tantono pada 2012. Ia juga dikaitkan dengan terbunuhnya bekas pengawal Wiranto, Basri Sangaji, pada 2004.

Selain pernah mendekam di LP Cipinang, John Kei yang lahir pada 10 September 1969 itu pernah juga merasakan penjara legendaris di Indoneisa, yakni LP Permisan, Nusakambangan.

Kei adalah nama kepulauan di Kabupaten Maluku Tenggara. Pada zaman kolonial, menurut M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah (2016:284), Kei termasuk Keresidenan Ambon, yang merujuk kepada Kota Ambon di Pulau Ambon.

Namun, kini Ambon kerap menjadi sebutan untuk tempat dan nama segala etnis yang berasal dari Maluku. Maka, orang-orang dari Kei pun sering disebut sebagai orang Ambon.

"Marga Kei khususnya dari Pulau Kei, Ambon, telah mengukir ceruknya sendiri di dunia jasa penagihan utang. Mereka bersaing dengan sesama marga Ambon seperti Sangaji, geng Flores Thalib Makarim, dan jejaring orang Timor Hercules," tulis Ian Douglas Wilson dalam Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru (2018: 218).


Menurut Ian, bos Sanex Steel Tan Harry Tantono dibunuh dalam kasus penagihan utang yang kacau balau.

Dalam program Kick Andy, John Kei mengaku lahir dari keluarga petani. Sejak sekolah dasar ia sudah terbiasa berkelahi. Sekolah menengahnya berantakan. Setelah terlibat keributan di Tual dan akan dipenjara, John Kei kabur naik kapal ke Surabaya sebagai penumpang gelap. Setelah menumpang sana sini di Surabaya, juga bikin keributan, ia kemudian pindah ke Jakarta, tepatnya ke Kampung Berlan yang sohor sangarnya di masa lalu.

Di Jakarta, tepatnya pada tahun 1992, ia mula-mula bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah kafe di Jalan Jaksa yang kerap dikunjungi para bule. Di situ Jhon Kei terlibat perkelahian karena kesal dipukul dari belakang. Ia pun membuat perhitungan dengan menebas leher lawannya. Akibat peritiwa itu, ia harus mendekam di penjara selama tiga tahun.

Waktu Soeharto masih berkuasa, nama John Kei belum begitu terkenal di Jakarta. Hanya saja ia mulai menjadi preman yang sangar setelah keluar dari penjara. Menurut Ian Wilson, kelompok yang dikomandoi Hercules, Basri Sangaji, dan John Kei kerap bertikai di Jakarta sejak akhir era 1990-an yang menyebabkan lusinan orang terbunuh. Setelah kerusuhan Mei 2000 di Tual, John Kei mendirikan dan memimpin Angkatan Muda Kei (AMKEI).

Ian Wilson menambahkan, seperti juga Ongen Sangaji dan Hercules, John Kei adalah sosok karismatik yang dipandang di kampung halamannya. Jika ada pemuda dari kampung halamannya yang merantau ke Jakarta, maka John Kei adalah tempat persinggahan mereka.

Di antara para pemuda itu, yang kesulitan mencari penghidupan di Jakarta, tidak menutup diri untuk menjadi pengikut John Kei. Pemuda dari kampung yang datang ke Jakarta adalah potensi bagus untuk memperkuat pasukan. AMKEI yang dipimpin John Kei mengklaim punya belasan ribu anggota.




Menurut catatan Ian Wilson, kelompok Hercules, Umar Kei, Basri Sangaji, dan John Kei sohor pada pertengahan 2000-an dalam dunia jasa penagihan utang. Tak hanya itu, kelompok John Kei juga terlibat dalam sengketa tanah. Dalam acara Kick Andy, John Kei mengaku tergerak karena ingin membela si pemilik tanah yang haknya diambil dan tidak berharap apa-apa.

Setelah kasus pembunuhan bos Sanex Steel pada 2012, Jhon Kei kembali masuk bui. Tak hanya itu, setahun berikutnya adiknya yang bernama Tito Kei, yang dianggap pengganti John Kei dalam memimpin "imperium" tewas ditembak.

Mandeknya kelompok John Kei di Jakarta menjadi peluang bagi kelompok lain. Ian Wilson menyebutkan bahwa nasib John Kei yang masuk bui berpeluang membuka jalan bagi Hercules untuk mengklaim tempatnya sebagai gembong Jakarta.

Ian Wilson juga menyebut “naiknya Prabowo ke kursi presiden akan mengamankan kedudukannya (Hercules).” Namun, nyatanya Prabowo tak jadi presiden pada 2019, dan hanya jadi Menteri Pertahanan.

Baru-baru ini John Kei keluar dari Nusakambangan berkat pembebasan bersyarat. Ia seharusnya baru bebas pada tahun 2025. Belum juga imperium orang-orang Kei bangkit lagi, kini John Kei ditangkap karena dianggap berada di balik penyerangan Green Lake City dan Duri Kosambi.

Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana, "John Kei merasa dikhianati terkait pembagian uang."

Ia kali ini berseteru dengan Nus Kei. Orang-orang Kei tampak pecah kali ini. Bisa jadi John Kei tidak bisa aktif secara penuh di PKPI, tidak seperti Hercules di Gerindra.

Baca juga artikel terkait JOHN KEI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight