tirto.id - Sosok Ghislaine Maxwell menjadi sorotan baik oleh publik Amerika Serikat maupun dunia saat ini. Statusnya sebagai mantan pacar Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual anak di bawah umur membuatnya disebut-sebut sebagai satu-satunya saksi kunci yang bisa menguak semua kejahatan Epstein.
Ghislaine Maxwell memang dikenal sebagai mantan kekasih Epstein. Namun, pada kenyataannya perannya dalam kejahatan Epstein lebih ke arah menjadi tangan kanannya.
Pada tanggal 28 Juni 2022, pengadilan Amerika Serikat secara resmi menjatuhkan hukuman penjara selama 20 tahun kepada Ghislaine Maxwell atas kejahatan yang telah ia lakukan.
Hukuman ini merupakan putusan akhir setelah Maxwell dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan federal, termasuk perdagangan seks terhadap anak di bawah umur dan konspirasi.
Profil Ghislaine Maxwell, Mantan Pacar Epstein
Ghislaine Maxwell adalah seorang mantan sosialita asal Inggris yang menjadi tokoh sentral dalam kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein.
Ia lahir pada 25 Desember 1961 di Maisons-Laffitte, wilayah Ile-de-France, Prancis, sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Robert Maxwell, pemilik grup media besar Mirror Group, dan istrinya, Betty.
Tumbuh besar di Oxford dalam lingkungan elite, Maxwell mengenyam pendidikan bergengsi hingga meraih gelar sejarah modern dan bahasa di Balliol College, Oxford University.
Seperti diberitakan The Guardian, Maxwell kerap disebut sebagai anak kesayangan ayahnya, bahkan Robert Maxwell menamai kapal pesiar pribadinya “Lady Ghislaine” sebagai bentuk kedekatan emosional.
Ia juga dipercaya memegang peran penting dalam bisnis keluarga, termasuk menjadi pengurus klub sepak bola Oxford United yang dimiliki ayahnya, serta dikirim ke New York untuk “membuka jalan” di kalangan elite Manhattan ketika ayahnya membeli surat kabar New York Daily News.
Pada dekade 1980-an, ia dikenal luas sebagai figur penting dalam pergaulan kelas atas London sebelum kemudian pindah ke New York setelah kematian ayahnya pada 1991, di tengah skandal besar penyelewengan dana pensiun yang mencoreng nama keluarganya.
Di Amerika Serikat, Maxwell membangun kembali kehidupannya sebagai sosialita dan menjalin hubungan sangat dekat dengan Jeffrey Epstein, seorang pengusaha.
Hubungan Maxwell dan Epstein tidak hanya bersifat pribadi, namun juga operasional. Maxwell berperan sebagai pendamping utama, penghubung sosial, dan perekrut “korban” Epstein.
Berkat jaringan pergaulannya yang luas di kalangan orang kaya, bangsawan, selebritas, dan politisi, termasuk tokoh-tokoh terkenal dunia, Maxwell membantu Epstein membangun lingkaran sosial yang tertutup dan berpengaruh.
Peran Maxwell dalam kejahatan Epstein akhirnya terungkap melalui proses hukum panjang di Amerika Serikat. Jaksa federal membuktikan bahwa selama kurang lebih satu dekade, antara 1994 hingga 2004, Maxwell secara aktif merekrut, membujuk, dan memanipulasi anak perempuan di bawah umur, sebagian berusia 14 tahun, untuk dilecehkan secara seksual oleh Epstein.
Ia disebut menggunakan pendekatan halus seperti memberi hadiah, uang, perjalanan, atau perhatian emosional, serta mendampingi korban dalam pertemuan awal dengan Epstein untuk memberi rasa aman palsu.
Melalui Maxwell, Epstein berkenalan dengan sejumlah tokoh penting, termasuk Pangeran Andrew dari Inggris. Nama Maxwell kemudian semakin tercoreng ketika salah satu korban Epstein, Virginia Giuffre, menuduhnya sebagai perekrut dan menggugatnya atas pencemaran nama baik.
Setelah sempat bersembunyi, Maxwell akhirnya ditangkap FBI pada Juli 2020 dan didakwa atas berbagai kejahatan serius, termasuk konspirasi dan perdagangan seks anak di bawah umur.
Pada 2021, Maxwell dinyatakan bersalah atas berbagai dakwaan federal, termasuk perdagangan seks anak dan konspirasi, dan pada 2022 dijatuhi hukuman 20 tahun penjara federal.
Meski ia terus membantah mengetahui bahwa Epstein melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur, pengadilan menilai bukti dan kesaksian korban sangat kuat. Setelah Epstein meninggal di penjara pada 2019, Maxwell menjadi satu-satunya figur utama yang mempertanggungjawabkan jaringan kejahatan tersebut di pengadilan.
Maxwell saat ini menjalani hukumannya di penjara federal Amerika Serikat, dan tetap dianggap sebagai sosok kunci yang mengetahui banyak rahasia besar di balik salah satu skandal kejahatan seksual paling terkenal saat ini.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































