tirto.id - Ghislaine Maxwell memilih untuk menolak menjawab pertanyaan saat dipanggil oleh Komite Pengawas Kongres Amerika Serikat terkait kasus mantan kekasihnya, Jeffrey Epstein. Maxwell berulang kali menggunakan hak konstitusionalnya untuk tidak memberikan keterangan yang dapat memberatkan dirinya sendiri.
Sikap Ghislaine Maxwell ini membuat anggota parlemen kecewa, karena mereka ingin menggali informasi lebih jauh mengenai kejahatan seksual yang dilakukan Epstein dan Maxwell, termasuk kemungkinan adanya pihak lain yang ikut terlibat.
Ketua Komite Pengawas Kongres, James Comer, menyatakan bahwa banyak pertanyaan penting yang tidak terjawab akibat penolakan tersebut.
“Ini jelas sangat mengecewakan. Kami memiliki banyak pertanyaan untuk diajukan tentang kejahatan yang dia dan Epstein lakukan, serta pertanyaan tentang kemungkinan rekan konspirator,” ungkap James Comer dikutip Al jazeera.
Ghislaine Maxwell Janji Buka Mulut Jika Diberi Ampunan oleh Trump
Maxwell saat ini sedang menjalani hukuman 20 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah pada tahun 2021 atas perannya membantu Epstein melakukan perdagangan seks dan pelecehan terhadap remaja perempuan.
Ia dipanggil untuk memberikan keterangan terkait hubungannya dengan Epstein. Dalam pemeriksaan tertutup tersebut, Maxwell berulang kali menggunakan hak konstitusionalnya berdasarkan Amandemen Kelima Konstitusi AS untuk diam.
Melalui pengacaranya, David Oscar Markus, Maxwell menyatakan hanya bersedia bersaksi apabila Presiden Donald Trump memberikan pengampunan atau keringanan hukuman (clemency).
Maxwell disebut siap berbicara jujur jika diberi pengampunan, serta menegaskan bahwa Trump dan mantan Presiden Bill Clinton tidak terlibat dalam tindakan ilegal, meski hanya Maxwell yang disebut mampu menjelaskan alasannya secara rinci.
“Maxwell siap berbicara secara penuh dan jujur jika diberikan pengampunan oleh Presiden Trump,” kata David.
“Hanya Nyonya Maxwell yang dapat menjelaskan mengapa, dan publik berhak atas penjelasan tersebut,” tambahnya.
Sikap diam Maxwell juga menuai kritik dari anggota parlemen Demokrat, yang menilai sikapnya tidak konsisten karena sebelumnya ia pernah berbicara dengan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche tanpa menggunakan hak untuk diam.
“Sikap ini tampaknya tidak konsisten dengan perilaku Maxwell sebelumnya, karena ia tidak menggunakan haknya untuk bungkam (berdasarkan Amandemen Kelima) ketika sebelumnya bertemu dengan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche untuk membahas masalah yang pada dasarnya serupa,” sesal Perwakilan Demokrat Ro Khanna.
Setelah pertemuan tersebut, Maxwell dipindahkan ke penjara dengan tingkat keamanan minimum di Texas, dengan alasan adanya ancaman terhadap keselamatannya.
Dalam dokumen yang diunggah di laman resmi kongres AS, disebutkan jika ada rekaman yang diperoleh oleh Daily Beast mengungkapkan bahwa Jeffrey Epstein menggambarkan dirinya sebagai “teman dekat” Donald Trump.
Trump sendiri membantah tuduhan apa pun dan menyebut skandal Epstein sebagai rekayasa, serta menegaskan bahwa ia memutus hubungan dengan Epstein jauh sebelum kasus hukum Epstein mencuat.
Sebelumnya, pada 30 Januari 2026, Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis total 3 juta lebih dokumen tentang kasus Epstein yang mereka namai Epstein Files.
Dalam dokumen tersebut, berisi percakapan email, riwayat penerbangan, foto, video, dan lainnya yang digunakan pihak berwajib untuk mengusut kasus Epstein tersebut.
Beberapa nama ada dalam dokumen tersebut, termasuk Presiden AS Donald Trump dan mantan Presiden AS, Bill Clinton.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































