Profil Dino Patti Djalal: Eks Jubir Presiden SBY Lawan Mafia Tanah

Penulis: Iswara N Raditya, tirto.id - 17 Feb 2021 16:07 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Profil mantan Juru Bicara Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino Patti Djalal, kembali mencuat setelah ia menyoroti dugaan mafia tanah.
tirto.id - Profil Dino Patti Djalal kembali mencuat setelah ia menyoroti dugaan mafia tanah. Mantan Juru Bicara (jubir) Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini geram karena sertifikat rumah juga tanah ibunya telah beralih hak milik dalam catatan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Tidak hanya satu aset keluarga Dino Patti Djalal yang menjadi korban penjarahan oleh pihak yang disebutnya sebagai mafia tanah, melainkan tiga titik rumah dan tanah. Ketiga titik aset itu berada di Jakarta dan sudah dilaporkan ke kepolisian pada 2020 dan awal 2021 lalu.

“Sudah waktunya ada dalang mafia tanah tertangkap [...] Saya tidak takut kepada siapa pun dan saya akan memastikan bahwa semua pelaku sindikat ini akan terungkap," tandas penasihat utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Dino Patti Djalal bertekad untuk terus membongkar jejaring mafia tanah yang telah merugikan keluarganya dan barangkali banyak orang lainnya di negara ini. "Agar publik waspada, satu lagi rumah keluarga saya dijarah komplotan pencuri sertifikat rumah,” tukas Dino Patti Djalal.

“Tahu-tahu sertifikat rumah milik ibu saya telah beralih nama di BPN padahal tidak ada AJB (akta jual beli), tidak ada transaksi bahkan tidak ada pertemuan apa pun dengan ibu saya,” imbuhnya dikutip dari Antara, Selasa (16/2/2021).

“Kesalahan terbesar mereka adalah menjadikan ibu saya yang berumur 84 tahun sebagai korban. Dan saya sebagai anak akan melawan mereka,” tandas sosok yang pernah menjadi Wakil Menteri (Wamen) Luar Negeri dan Duta Besar (Dubes) RI untuk Amerika Serikat di era Presiden SBY ini.


Jejak Karier Dino Patti Djalal

Nama Dino Patti Djalal semakin dikenal masyarakat lebih luas saat SBY menjabat sebagai Presiden RI sejak 2004. Saat itu, ia ditunjuk sebagai jubir kepresidenan bersama Andi Mallarangeng dan Julian Aldrin Pasha.

Dino Patti Djalal lahir di Beograd, Yugoslavia (sekarang Serbia), tanggal 10 September 1965. Ayah Dino, Hasyim Djalal, adalah diplomat ternama sekaligus ahli hukum laut internasional yang kerap berpindah tugas di mancanegara. Jejak diplomat sang ayah nantinya diikuti oleh Dino Patti Djalal.

Dikutip dari website pribadinya, tokoh nasional berdarah Minangkabau ini menuntaskan pendidikan dasar di sekolah dasar milik Muhammadiyah kemudian di sekolah menengah pertama Al Azhar sebelum terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi di McLean, Virginia.

Dino Patti Djalal meraih gelar sarjana Ilmu Politik dari Carleton University (Ottawa, Kanada), lalu menerima gelar Magister Ilmu Politik dari Simon Fraser University (Vancouver, Kanada), hingga akhirnya mendapatkan gelar Ph.D. dalam Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science di Inggris.

Tahun 1987, Dino Patti Djalal bergabung dengan Departemen Luar Negeri RI yang kemudian membawanya bertugas di beberapa kota di dunia, seperti London (Inggris), Dili (Timor Timur kini Timor Leste), hingga Washington DC (Amerika Serikat).

Pengalamannya di Dili membuat Dino Patti Djalal dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi juru bicara resmi Indonesia dalam referendum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Timor Timur pada 1999. Selanjutnya, sejak 2002 Dino Patti Djalal menjabat sebagai Direktur North American Affairs.


Peran di Pemerintahan SBY

Setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004, Dino Patti Djalal menjadi salah satu orang kepercayaan Presiden RI ke-6 itu. Meskipun demikian, ia tidak pernah bergabung dengan partai politik, termasuk Partai Demokrat yang mengusung SBY.

Sejak tahun 2004, seperti yang tercantum dalam laman resmi pribadinya, Dino Patti Djalal diangkat menjadi Staf Khusus Presiden Urusan Internasional. Dalam kapasitas itu, ia mengemban banyak peran, termasuk sebagai juru bicara kepresidenan, penasihat kebijakan luar negeri presiden, hingga penulis pidato untuk Presiden SBY.

Selama 6 tahun Dino Patti Djalal mengemban tanggung jawab tersebut sehingga ia menjadi juru bicara kepresidenan paling lama dalam sejarah modern Indonesia.

Dino Patti Djalal kemudian menjalani karier sebagai diplomat resmi negara yakni Duta Besar (Dubes) RI untuk Amerika Serikat pada 2010 hingga 2013.

Menjelang Pemilu 2014, Dino Patti Djalal mengikuti konvensi calon presiden yang digelar oleh Partai Demokrat. Namun demikian, ia tampil sebagai sosok independen atau bukan merupakan anggota partai politik besutan SBY tersebut.

Dino Patti Djalal ditunjuk sebagai Wakil Menteri Luar Negeri sejak Juni 2014, namun ia mengundurkan diri pada Oktober di tahun yang sama atau menjelang pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019.


Penasihat Utama Kemenparekraf

Dino Patti Djalal benar-benar meninggalkan peran di pemerintahan sejak pertengahan 2015. Hingga akhirnya, seiring ditunjuknya Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Dino Patti Djalal kembali masuk jajaran pemerintahan.

Sejak 14 Januari 2021, Dino Patti Djalal resmi membantu Sandiaga Uno sebagai Penasihat Utama Kemenparekraf dengan misi membangkitkan perekonomian, khususnya melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, yang ikut terdampak pandemi COVID-19.

Dino Patti Djalal menikah dengan Rosa Raj Djalal dan dikarunai tiga orang anak, masing-masing bernama Alexa Saraswati Djalal, Chloe Susilowati Djalal, serta Keanu Dwibuana Djalal.

Sejumlah penghargaan resmi negara pernah diterima Dino Patti Djalal, antara lain Bintang Jasa Utama pada 2010 dan Bintang Mahaputra Adiprana pada 2014.

Selain itu, pada 2013 Dino Patti Djalal meraih Marketeer of the Year, penghargaan yang juga pernah diperoleh Jokowi saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.


Baca juga artikel terkait DINO PATTI DJALAL atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH

DarkLight