tirto.id - Presiden Prabowo Subianto membantah tudingan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghambur-hamburkan uang negara. Ia menegaskan bahwa anggaran program unggulan tersebut merupakan hasil efisiensi dan penghematan dari berbagai kegiatan birokrasi yang tidak produktif.
Hal tersebut ditegaskan Prabowo saat meresmikan 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri di Polsek Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026).
"Saya juga tidak mengerti. Bahkan yang banyak mengejek adalah orang-orang yang terdidik, profesor-profesor terkenal mengejek dan menghina saya. Dan mereka meramalkan proyek ini pasti gagal. Program ini menghambur-hamburkan uang," ujar Presiden Prabowo.
Prabowo menjelaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar karena sumber pendanaan MBG justru berasal dari pemangkasan budaya boros di pemerintahan.
Ia berkomitmen untuk menyelamatkan kekayaan negara dari praktik korupsi dan penggelembungan anggaran.
"Padahal saudara-saudara, uang ini adalah hasil penghematan, hasil efisiensi dari anggaran yang saya dan tim saya yakin kalau tidak kita hemat, uang ini akan dimakan oleh korupsi, akan dihabis-habiskan untuk memperkaya oknum-oknum pribadi-pribadi," tegasnya.
Presiden secara spesifik menyoroti sejumlah kegiatan yang kini ditekankan untuk dikurangi, mulai dari rapat di hotel hingga kunjungan kerja yang tidak memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
"Rapat-rapat di hotel-hotel di luar kota, seminar-seminar, konferensi-konferensi, kunjungan-kunjungan yang tidak bermanfaat. Rakyat ditipu, rakyat dibohongi. Ini yang kita hemat, uang ini yang kita alihkan untuk hal-hal seperti ini," jelas Prabowo.
Meskipun mengalokasikan dana besar untuk gizi nasional, Prabowo memastikan bahwa kondisi fiskal negara tetap terjaga dalam batas aman.
Ia menekankan bahwa pemerintah tetap disiplin menjaga parameter ekonomi makro.
"APBN kita tidak keluar dari parameter yang kita tetapkan. Defisit kita masih di bawah batas yang kita tetapkan sendiri, 3 persen defisit kita, saudara-saudara sekalian, 3 persen dari PDB. Dan saya bertekad kita akan berusaha sekeras mungkin untuk kita kurangi dari situ," pungkasnya.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































