tirto.id - Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings melaporkan indeks PMI Manufaktur Indonesia pada periode April 2026 turun ke zona kontraksi sebesar 49,1. Padahal, pada bulan sebelumnya PMI Manufaktur Indonesia masih berada pada level 50,1.
Penurunan ini merupakan yang kedua dalam dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan meningkat dari Maret dan terus mengalami percepatan sejak Mei tahun lalu.
Turunnya PMI Manufaktur Indonesia ke zona kontraksi ini menunjukkan penurunan kesehatan sektor manufaktur Tanah Air pertama kali dalam sembilan bulan terakhir.
“Headline Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global turun di bawah angka netral 50,0 pada April, menunjukkan penurunan kesehatan sektor manufaktur Indonesia pertama kali dalam sembilan bulan. PMI yang disesuaikan secara berkala turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April, menunjukkan penurunan marginal pada kondisi pengoperasian pada awal triwulan kedua,” tulis S&P dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (4/5/2026).
Menurut S&P, kontraksi PMI Manufaktur terjadi karena penurunan volume produksi yang berkelanjutan. Perusahaan sering menyebutkan kenaikan harga bahan baku, kekurangan pasokan, dan melemahnya daya beli konsumen sebagai faktor penyebab penurunan volume produksi.
“Perusahaan mencatat kontraksi solid pada volume produksi yang merupakan penurunan terkuat dalam waktu kurang dari satu tahun, meskipun permintaan baru naik marginal,” tambah S&P.
Di sisi lain, penurunan volume produksi perusahaan menjadi bukti konkret bahwa perang di Timur Tengah telah membebani harga dan pasokan. Apalagi, kenaikan beban biaya selama April merupakan yang terbesar sejak April 2022, dan mendorong kenaikan harga terbesar selama 12,5 tahun.
“Perusahaan juga melihat kepercayaan diri turun pada bulan tersebut, dengan optimisme juga turun ke level terendah dalam lima bulan,” kata S&P.
Kenaikan biaya produksi tersebut sayangnya langsung dibebankan kepada konsumen, sehingga mengakibatkan kenaikan harga jual paling tajam dalam 12,5 tahun terakhir.
"Kabar baiknya adalah pesanan baru sedikit naik. Namun, bukti survei menunjukkan bahwa hal ini sering terjadi karena klien melakukan pembelian di muka sebelum kemungkinan gangguan akibat konflik terjadi. Selain itu, optimisme menurun ke level terendah dalam lima bulan di tengah ketidakpastian tentang lamanya perang,” kata Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti dalam keterangan yang sama.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































