tirto.id - Tekanan biaya bahan baku yang terus meningkat akibat lonjakan harga plastik memicu pergeseran di sektor industri makanan dan minuman (mamin). Para pelaku usaha kini mulai meninggalkan kemasan plastik dan mengadopsi kemasan berbasis kertas sebagai alternatif utama.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengungkapkan bahwa peran industri kertas dalam sektor kemasan kini semakin signifikan.
“Kalau kita lihat, penggunaan kemasan fleksibel dari plastik itu sekitar 48 persen, sementara kertas sudah mencapai 35 persen. Ini menunjukkan peran kertas sebagai alternatif kemasan semakin besar,” kata dia di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurut Putu, pemerintah secara aktif mendorong percepatan substitusi plastik melalui berbagai inisiatif seperti business matching antara produsen kertas dan industri mamin. Upaya ini dinilai mulai menunjukkan hasil.
“Kami menyodorkan dan menawarkan penggunaan kertas untuk packaging, untuk menggantikan bahan lain seperti plastik. Ini cukup berhasil,” ujar Putu.
Dia menambahkan bahwa respons dari pelaku usaha terbilang positif. Banyak perusahaan mulai memahami keuntungan kemasan kertas dan menunjukkan ketertarikan untuk berpindah secara bertahap.
“Banyak industri yang paham dan berminat, dan ini akan terus berproses. Mereka akan melakukan substitusi,” ujarnya.
Putu menekankan bahwa substitusi berbasis kertas saat ini menjadi yang paling cepat menunjukkan hasil dibandingkan alternatif lain. Meskipun demikian, pemerintah juga terus mendorong inovasi pada jenis kemasan lain, seperti teknologi aseptic packaging yang memungkinkan produk minuman bertahan dalam suhu ruang, serta kemasan kaca sebagai alternatif pengganti logam seperti aluminium dan timah.
“Aseptic packaging ini memungkinkan minuman bertahan lebih lama tanpa pendinginan, dan ini sedang berkembang,” kata Putu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peralihan ke kemasan kertas ini juga sejalan dengan dinamika pasar global. “Di ranah global juga terjadi hal yang sama, sehingga ekspor produk kita ikut bergerak cukup baik,” ujarnya.
Fenomena serupa di berbagai negara turut membuka peluang bagi produk nasional untuk lebih diterima di pasar internasional yang kini cenderung menghindari kemasan plastik.
Adapun, fenomena ini terjadi di tengah kondisi pasar yang sulit. Sebelumnya, Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) melaporkan bahwa harga bahan baku plastik meroket hampir 80 persen.
Imbasnya, harga produk plastik di pasaran ikut terkerek naik antara 40 hingga 80 persen. Kondisi ini diperparah oleh gangguan pasokan mengingat sekitar 70 persen bahan baku plastik nasional masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































