Menuju konten utama

Plan Indonesia Beri Dukungan Psikososial ke Anak Korban Banjir

Anak-anak dan perempuan jadi korban paling rentan dalam bencana Aceh. Plan Indonesia berupaya mengatasinya dengan memberikan dukungan psikososial.

Plan Indonesia Beri Dukungan Psikososial ke Anak Korban Banjir
Staf Plan Indonesia memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak di lokasi pengungsian. tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Plan Indonesia mengerahkan Emergency Response Team (ERT) ke Aceh pascabanjir bandang menerjang provinsi itu. Tim tersebut melakukan kaji cepat kebutuhan situasi darurat (rapid need assessment), termasuk memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak dan perempuan di pengungsian pada Minggu (7/12/2025).

Berdasarkan pantauan reporter Tirto di pengungsian Kecamatan Peusangan dan Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, sejumlah anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, tampak antusias mengikuti kegiatan yang diberikan. Mereka tampak riang ketika diajak menggambar oleh staf Plan Indonesia. Ada yang menggambar gunung, sawah, juga sungai.

Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan bahwa psikososial sangat dibutuhkan oleh anak-anak korban bencana di pengungsian. Tujuannya adalah mengatasi trauma mereka usai bencana.

"Supaya mereka tidak memikirkan apa yang terjadi [bencana yang melanda sebelumnya] dengan [berkegiatan] bersama-sama, misalnya menggambar, mewarnai, dan bercerita," kata Dini, saat berbincang dengan reporter Tirto di lokasi pengungsian, Bireuen, Aceh, Minggu (7/12).

Bantuan Plan Indonesia untuk Korban Banjir Aceh

Executive Director Plan Indonesia, usai memberikan bantuan di posko pengungsian, Peusangan, Bireuen, Aceh, Minggu (7/11/2025). tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama

Meski senang dengan kegiatan itu, Dini tak menampik munculnya rasa trauma di ekspresi anak-anak.

"Memang anak-anak ketika berkumpul beramai-ramai dengan teman ini senang. Tapi, nanti kalau ada suara-suara, seperti suara [yang] mereka rasakan pada malam ketika banjir dan longsor itu, biasanya muncul lagi rasa ketakutan," tutur Dini.

Menggambar dan bercerita menjadi jurus paling ampuh untuk melampiaskan rasa getir dan takut yang mendera anak-anak tersebut.

"Ini pelan-pelan dan bisa menjadi sarana untuk mereka melepaskan ketakutan," tukas Dini.

Sementara itu, Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah, mengatakan, dalam melakukan rapid need assessment, fokus utamanya mencakup layanan sanitasi dan air bersih (WASH), perlindungan, serta pendidikan. Tiga hal itu menjadi sektor vital yang sangat menentukan keselamatan dan pemulihan para penyintas, terutama anak-anak dan perempuan.

Ida Ngurah menegaskan bahwa para penyintas, terutama anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan lainnya, masih menghadapi berbagai hambatan dalam memenuhi kebutuhan dasar.

"Plan Indonesia menegaskan hak anak dan perempuan harus menjadi pusat dalam setiap upaya respons bencana. Tanpa pendekatan yang peka gender dan inklusif, bencana tidak hanya merusak hari ini, tetapi juga memperparah ketidaksetaraan dan meninggalkan dampak sosial jangka panjang bagi generasi muda," ujar Ida Ngurah.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Sosial Budaya
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Fadli Nasrudin