tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali tumbuh melambat di Triwulan I 2025. Secara tahunan (year-on-year/yoy), ekonomi Bali tercatat tumbuh sebesar 5,52 persen lebih rendah dari pertumbuhan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,98 persen. Sementara itu, secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Bali mengalami kontraksi -4,38 persen.
Penghitungan ini didasarkan pada Produk Regional Domestik Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) yang tercatat sebesar Rp75,47 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp41,91 triliun.
“Kalau kita lihat pergerakan PDRB secara triwulanan selama enam tahun terakhir, kondisi Triwulan I memang relatif lebih rendah dibandingkan Triwulan IV. Ini tidak terlepas dari pengaruh musim (seasonal), di mana Triwulan IV akan cenderung lebih tinggi dibandingkan Triwulan I,” ungkap Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Kantor BPS Bali, Senin (05/05/2025).
Diketahui, dari 17 kategori lapangan usaha penyusun PDRB Provinsi Bali, hampir seluruhnya mengalami kontraksi pada Triwulan I 2025. Hanya tiga lapangan usaha yang masih mencatatkan pertumbuhan secara qtq, yakni pengadaan gas dan listrik (0,45 persen), transportasi dan pergudangan (0,19 persen), serta jasa keuangan dan asuransi (9,23 persen).
Sejumlah peristiwa turut memengaruhi kinerja perekonomian Bali selama Triwulan I 2025, misalnya berakhirnya momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan periode low season pariwisata menyebabkan penurunan aktivitas pariwisata dibandingkan triwulan sebelumnya.
Selain itu, cuaca buruk mengganggu produksi pertanian, terutama komoditas hortikultura dan perikanan. Minimnya pengerjaan proyek konstruksi pada awal tahun, turunnya volume perdagangan, dan rendahnya realisasi belanja pemerintah juga turut menghambat laju aktivitas perekonomian di Bali.
“Minimnya pengerjaan proyek konstruksi pada awal tahun diduga karena sebagian besar proyek masih berada dalam tahap tender,” tambah Agus.
BPS juga menyorot melemahnya aktivitas pariwisata dan penyelenggaraan MICE pada Triwulan I 2025. Akibatnya, penciptaan nilai tambah pada lapangan usaha real estate, penyediaan akomodasi dan makan-minum, serta jasa lainnya menjadi lebih rendah. Kontraksi pada lapangan usaha akomodasi dan makan-minum diketahui sedalam 1,22 persen.
“Angka pertumbuhan 5,52 persen (yoy), itu 1,37 persen di antaranya disumbangkan oleh lapangan usaha akomodasi dan makan-minum. Kalau dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, maka terlihat kontribusi sumbangan sumber pertumbuhan yang berasal dari lapangan usaha akomodasi dan makan-minum, itu mengalami penurunan. Namun, ini diikuti oleh peningkatan sumbangan pertumbuhan di lapangan usaha yang lain,” bebernya.
Sementara itu, pada sisi pengeluaran, PDRB Provinsi Bali Triwulan I 2025 masih menempatkan komponen konsumsi akhir rumah tangga sebagai pengguna terbesar PDRB Bali. Terlihat ADHB meningkat ke angka Rp41,32 triliun dan ADHK ke angka Rp24,30 triliun (qtq). Di sisi lain, komponen Pengeluaran Konsumsi Akhir Pemerintah (PK-P) tercatat mengalami penurunan terdalam ke angka 40,90 persen (qtq).
“Penurunan pada belanja pegawai, penyusutan (belanja modal), belanja barang dan jasa, serta belanja bantuan sosial baik yang bersumber dari APBN maupun dari APBD telah menekan laju komponen Pengeluaran Konsumsi Akhir Pemerintah,” ungkap Agus.
Namun, secara yoy, hampir seluruh komponen pengeluaran mengalami peningkatan. Meskipun mengalami kontraksi yang dalam pada Triwulan I 2025 secara qtq, komponen PK-P tampak tumbuh paling tinggi, yakni sebesar 13,47 persen. Hal ini, menurut Agus, diakibatkan oleh realisasi belanja pemerintah pemerintah yang bersumber dari APBN dan APBD, khususnya pada belanja pegawai.
“Karena adanya pencairan THR atau gaji ke-13 kepada aparatur sipil negara, TNI/Polri, dan pensiunan pada triwulan ini,” ucapnya.
Agus juga membandingkan pertumbuhan ekonomi di Bali dengan nasional. Menurutnya, secara angka, akselerasi pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata lebih cepat dibandingkan nasional. Namun, dia mengingatkan bahwa faktor pendorong ekonomi secara nasional dan regional Bali berbeda.
“Kalau nasional industri pengolahan atau pertanian, kalau kita (Bali) penggeraknya pariwisata. Kita bisa lihat kinerja pariwisata memang masih relatif bagus,” tutupnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































