Menuju konten utama
Periksa Data

Pertumbuhan Ekonomi 2020: Lebih Buruk Dibanding Krisis Global 2008?

IMF memproyeksikan perekonomian dunia tumbuh minus pada tahun 2020. Sebabnya? Pandemi COVID-19 yang menghantam dunia beberapa bulan terakhir.

Pertumbuhan Ekonomi 2020: Lebih Buruk Dibanding Krisis Global 2008?
Infografik Periksa Data Perekonomian 2020. tirto.id/Quita

tirto.id - Tahun 2020 baru berjalan hampir setengah tahun, namun berbagai kejutan telah menghantam dunia. Salah satunya adalah penyebaran virus corona baru (SARS-CoV-2) penyebab pandemi COVID-19 yang membuat banyak negara pontang-panting.

Penyebaran virus baru itu membuat sejumlah negara mengambil langkah penguncian wilayah (lockdown) dan kebijakan physical distancing atau jaga jarak fisik kepada warganya. Sayangnya, kebijakan lockdown di sejumlah negara ini tak pelak memberikan dampak negatif bagi sektor perekonomian karena beberapa sektor tidak bisa beroperasi secara normal.

Akibatnya tampak pada banyak hal, seperti mulai adanya pengurangan karyawan dan kenaikan harga beberapa komoditas. International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2020 memangkas angka pertumbuhan ekonomi global.

Jika pada Januari IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 3,3 persen, maka pada April prediksi itu dipangkas menjadi minus 3 persen. Prediksi minus ini disertai asumsi tren penyebaran COVID-19 memuncak pada kuartal kedua dan surut pada semester kedua tahun ini.

Dengan revisi angka pertumbuhan ekonomi tersebut, IMF menyebut perekonomian pada 2020 menjadi yang terburuk setelah Great Depression pada 1930-an. IMF juga menyebut tahun 2020 lebih buruk dibandingkan krisis global pada 2008-2009.

Krisis global pada medio 2008-2009 bermula dari krisis subprime mortgage yang terjadi di Amerika Serikat pada akhir 2007 dan bangkrutnya perusahaan Lehman Brothers. Krisis keuangan di AS tersebut menjalar ke berbagai negara hingga mengakibatkan krisis keuangan global yang terasa pada akhir 2008 hingga 2009.

Pertumbuhan ekonomi global pada 2009 tercatat minus 0,1 persen. Secara umum pertumbuhan minus terjadi pada negara-negara maju. Tercatat pertumbuhan ekonomi pada negara pertumbuhan ekonomi maju sebesar minus 3,3 persen, Uni Eropa minus 4,2 persen, dan negara-negara yang tergabung dalam kelompok G7 sebesar minus 3,6 persen.

Sedangkan negara perekonomian berkembang masih mencatatkan pertumbuhan positif pada tahun tersebut dengan 2,8 persen. Lima negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam) yang tergabung dalam ASEAN-5 juga menorehkan pertumbuhan positif dengan 2,5 persen.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 sebesar minus 3 persen. Lembaga itu menyebut pandemi COVID-19 membuat biaya yang dikeluarkan masyarakat menjadi lebih tinggi dan ekonomi menjadi terdampak akibat langkah-langkah perlindungan yang diambil pemerintah. Sebagai catatan, pada World Economic Outlook edisi Januari 2020, angka proyeksi masih lebih tinggi (3,3 persen) karena penyebaran COVID-19 belum meluas.

Proyeksi minus pada 2020 tersebut diikuti oleh negara perekonomian maju (-6,1%), Uni Eropa (-7,1%), dan negara G7 dengan minus 6,2 persen. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang juga turut diprediksi minus. Negara perekonomian berkembang diprediksi minus 1 persen, sementara ASEAN-5 minus 0,6 persen.

Bagaimana dengan Indonesia? Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I/2020 sebesar 2,97 persen (y-o-y). Angka tersebut melambat dibandingkan Kuartal I/2019 sebesar 5,07 persen.

Tidak hanya terhadap Kuartal I/2019, setidaknya pertumbuhan ekonomi Kuartal I/2020 menurut BPS lebih rendah dibandingkan kuartal yang sama sejak 2001. “Terendah sejak KuartalI/2001, tapi tidak bisa dibandingkan seperti itu, ya, karena saat ini kita diliputi ketidakpastian,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam siaran live di akun YouTube BPS, Selasa (5/5/2020).

Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sebesar 2,3 persen. BI juga meyakini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan stabil pada level Rp15.000 pada akhir tahun ini. Prediksi pertumbuhan ekonomi BI ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi IMF. Masih dalam laporan World Economic Outlook 2020, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 persen.

Jika prediksi BI maupun IMF benar-benar terjadi, angka tersebut bakal lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada 2009 saat terjadi krisis keuangan global. Pada 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,63 persen.

Meskipun begitu, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 masih lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi pada 1998 saat krisis moneter. Saat itu, Indonesia dilanda krisis moneter dan pergantian kekuasaan sehingga pertumbuhan ekonomi anjlok hingga mencapai angka minus 13,13 persen.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan lainnya dari Hanif Gusman

tirto.id - Ekonomi
Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara